Ini kisah nyata yang kami alami. Di suatu sore di bulan Ramadhan, isteri saya mendengar tetangga memarahi anaknya dengan suara yang keras. Saking kerasnya, isteri saya heran dan mendatangi rumah tersebut dan bertanya, ” Ada apa ?”. Lalu sang tetangga bercerita bahwa dia barusan merebus telur, dan setelah selesai , kemudian dia pergi ke warung untuk membeli cabe, karena telur tersebut akan disambelin. Tetapi sampai di rumah, telur yang direbus tadi sudah habis dimakan anak-anaknya (yang tidak puasa karena masih kecil-kecil).
Pembaca tentu heran, kenapa karena hal tersebut si ibu begitu marahnya dengan anaknya. Ya memang, karena kebetulan tetangga tersebut termasuk kurang beruntung secara materi. Dengan anak sebanyak 7 orang, dan suami tidak punya penghasilan tetap. Hanya telur itulah yang tersisa (sebanyak 4 butir) yang akan jadi lauk untuk berbuka puasa nanti, dan semuanya habis dimakan anak-anaknya.
Isteri saya pulang ke rumah, dan menangis. Akhirnya isteri saya mengambil uang dan memberikan uang kepada tetangga tadi untuk membeli telur penggantinya.
Besoknya, tanpa diduga datang seorang tamu ke rumah saya. Dia memang sering datang ke rumah. Tetapi kedatangannya kali ini cukup aneh. Kenapa ? Karena dia membawa telur sebanyak 40 butir. Subhanallah. Dia bukan pedagang telur, juga bukan peternak ayam petelur. Dia juga belum pernah bawa apapun kalau datang ke rumah. Dia juga tidak tahu kejadian yang saya ceritakan di atas. Lalu siapa yang menggerakkannya ?
Hanya Allah. Hanya Allah, sobat-sobatku. Yang menggerakkan seluruh kehidupan di dunia ini. Lalu mengapa kita begitu kikirnya dengan kekayaan kita ? Mengapa kita begitu sedihnya dengan kemiskinan kita ? dan mengapa kita begitu sombongnya dengan kejayaan kita ?
DIarsipkan di bawah: Opini & Renungan







Begitulah yang maha kuasa bekerja. Kala kita hanya melihat peristiwa telur diganti telur, Dia ingin menunjukkan kepada kita bahwasanya Dia mengetahui jauh lebih dalam apa yang layak untuk kita.