Ternyata secara tidak sadar, kita cenderung menyenangi angka 0 dan 5. Kecenderungan kita menyenangi angka tersebut, menyebabkan kita cenderung melaporkan umur dengan umur-umur yang berakhiran angka 0 dan 5. Ini menyebabkan terjadinya penumpukan penduduk pada umur-umur tersebut.
Secara normal, jumlah penduduk menurut umur satu tahunan atau umur tunggal hanya berubah sedikit demi sedikit dari satu umur ke umur berikutnya. Tetapi kalau Anda perhatikan data distribusi umur penduduk di bawah ini, terlihat penumpukan umur pada umur-umur yang berakhiran 0 dan 5. Sebagai contoh, pada umur 30 tahun proporsi penduduk mencapai 2,80 % sedangkan umur dibawahnya ( 29 tahun) hanya sebesar 1,49 % dan umur diatasnya (31 tahun) hanya sebesar 1,27 %. Contoh lainnya pada umur 45 tahun, proporsi penduduk sebanyak 1,76 %, sedangkan pada umur dibawahnya (44 tahun) hanya 0,72 % dan diatasnya (46 tahun) hanya 0,65 %. Pola-pola semacam ini bisa Sdr. lihat pada umur-umur lainnya (yang berwarna merah).
Data ini memang data hasil Sensus Penduduk tahun 2000 untuk perdesaan Provinsi Jambi. Tapi fenomena ini juga akan berlaku sama jika dilihat pada daerah-daerah lainnya.
Fenomena penumpukan umur ini dinamakan dengan “age heaping “. Dan kesalahan-kesalahan dalam pelaporan umur penduduk ini akan berakibat kesalahan-kesalahan dalam berbagai analisis yang menggunakan data penduduk menurut umur ini. Oleh karenanya, kita perlu terlebih dahulu melakukan evaluasi dan perapian data penduduk menurut umur ini sebelum digunakan untuk tujuan analisis tersebut.
Tulisan ini merupakan pengantar untuk seri metode evaluasi dan perapian data penduduk menurut umur. Kita akan bahas metode-metode tersebut pada tulisan-tulisan berikutnya pada blog ini.
Lihat tulisan: Indeks Whipple: Evaluasi Pelaporan Umur Penduduk
Filed under: Tip-Trik Ditandai: | Artikel, kependudukan, Tip-Trik





