Pasar Kerja Fleksibel


Pasar kerja fleksibel, sebagai salah satu kebijakan publik di Indonesia pertama kali diperkenalkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Banyak yang menanggapi kebijakan tersebut, baik dalam nada tanggapan yang mendukung maupun yang menolak. Meskipun demikian, dari berbagai tanggapan, terlihat tidak adanya keseragaman pemahaman mengenai pasar kerja fleksibel tersebut.

Tulisan ini (yang dikutip dari berbagai sumber) mencoba memberikan pemahaman mengenai pasar kerja fleksibel (mudah-mudahan tidak malah menambah kekacauan pemahaman).

1. Pengertian Pasar Kerja Fleksibel

Fleksibilitas pasar kerja mengacu pada kecepatan pasar kerja menyesuaikan fluktuasi dan perubahan dalam masyarakat, perekonomian atau produksi. Kemampuan penyesuaian ini menyebabkan institusi pasar kerja dapat mencapai keseimbangan yang berkelanjutan yang ditentukan melalui perpotongan kurva permintaan dan penawaran. (Jimeno and Tohara, 1994).

Menurut Atkinson (1984), berdasarkan strategi yang digunakan perusahaan, terdapat empat jenis fleksibilitas pasar kerja yaitu:

–     Fleksibilitas numerik eksternal, yang mengacu pada keleluasaan mengatur jumlah buruh yang dipekerjakan dari pasar kerja eksternal. Fleksibilitas dapat dicapai melalui keleluasaan mempekerjakan pekerja dengan sistem sementara (temporary worker) atau kontrak atau melalui pelonggaran aturan-aturan rekruitmen dan pemberhentian tenaga kerja. Dengan kata lain pelonggaran perundang-undangan perlindungan tenaga kerja, dimana pengusaha dapat mempekerjakan atau memberhentikan pekerja tetap sesuai kebutuhan perusahaan.

–    Fleksibilitas numerik internal, yang sering juga dikenal dengan istilah fleksibilitas jam kerja atau fleksibilitas temporal. Fleksibilitas ini dicapai melalui keleluasaan pengusaha dalam mengatur jam kerja pekerja di perusahaan. Dalam hal ini termasuk keleluasaan mempekerjakan pekerja secara paruh waktu, mengatur waktu kerja, mempekerjakan berdasarkan shift (shift malam dan akhir pekan), keleluasaan memberikan cuti seperti cuti hamil/melahirkan, keleluasaan dalam mengatur waktu lembur dan sebagainya.

–    Fleksibilitas fungsional atau fleksibilitas organisasional yaitu keleluasaan buruh untuk berpindah dari satu tugas ke tugas yang lain dalam perusahaan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan teknologi dan persyaratan organisasi. Untuk menyesuaikan terhadap perubahan teknologi dan persyarata organisasi tersebut, juga dapat dicapai perusahaan melalui kegiatan outsourcing (yaitu mensubkontrakkan suatu kegiatan pada pihak ketiga).

–    Fleksibilitas finansial atau upah, dimana tingkat upah tidak diputuskan secara bersama. Upah antar pekerja akan lebih beragam. Upah merupakan hasil dari permintaan dan penawaran tenaga kerja, yang ditentukan berdasarkan jabatan, beban tugas atau prestasi kerja.

Selain ke empat jenis fleksibilitas tersebut, terdapat satu jenis fleksibilitas lainnya yang dapat meningkatkan kemampuan penyesuaian pasar kerja, yang dikenal dengan istilah fleksibilitas lokasi atau fleksibilitas tempat (Wallace, 2003). Ini mengacu pada keleluasaan pekerja untuk bekerja di luar dari tempat pekerjaannya yang biasa misalnya bekerja di rumah.

 2. Dampak Positif Pasar Kerja Fleksibel

Fleksibilitas pasar kerja tidak hanya mengacu pada strategi yang digunakan oleh pengusaha dalam menyesuaikan produksinya, tetapi juga berguna sebagai suatu cara yang memungkinkan pekerja menyesuaikan masa kerja dan waktu kerja sesuai dengan preferensinya (Jepsen & Klammer,2004). Pekerja juga membutuhkan fleksibilitas pasar kerja, agar dapat menyeimbangkan/menyesuaikan antara aktivitas kerja dan personalnya (work life balance).

Dari berbagai kajian dan literatur mengenai pasar kerja fleksiblel (Rapley, 1997; Islam, 2001, World Bank 2006; Douglas,2000) paling tidak terdapat tiga dampak positif dari penerapan pasar kerja fleksibel. Pertama, dengan adanya persaingan yang terbuka dan bebas akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.  Perusahaan mendapat kemudahan untuk merekrut dan memberhentikan tenaga kerja.  Adanya hubungan kerja berdasarkan sistem kontrak dan outsourcing serta jam kerja dan besaran upah yang dapat disesuaikan dengan siklus bisnis atau fluktuasi permintaan pasar akan barang/jasa yang diproduksi, akan menciptakan efisiensi produksi dan maksimalisasi keuntungan modal.

Kedua, fleksibilisasi pasar kerja akan menghasilkan pemerataan kesempatan kerja.  Tenaga kerja bebas memilih perusahaan yang sesuai dengan kebutuhan rasional tenaga kerja, yang ditentukan oleh seberapa jauh pendapatan dari perusahaan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.  Pekerja tidak terikat pada satu perusahaan dalam jangka waktu lama, tetapi dapat berpindah-pindah pekerjaan pada tingkat pendapatan yang lebih baik. Kemudahan berpindah kerja tersebut dapat membuka peluang kesempatan kerja yang lebih besar kepada lebih banyak pencari kerja karena pekerjaan akan menjadi selalu tersedia bagi para pencari kerja. Sementara itu dari sisi hubungan kerja, fleksibilitas pasar kerja dapat mengurangi dominasi  serikat buruh yang terlalu mempertahankan kepentingan aristokrasi pekerja tetap dengan mengorbankan kesempatan kerja bagi penganggur. Konsep keamanan lapangan kerja (employment security) menjadi lebih utama dibanding keamanan kerja (job security).

 Ketiga, fleksibilitas pasar kerja juga berfungsi dalam memecahkan masalah dualisme pasar kerja.  Fleksibilitas pasar kerja menjamin terbukanya peluang para pekerja di sektor informal untuk berpindah ke sektor formal.  Keseimbangan gender akan menjadi lebih baik karena para perempuan yang dominan di ekonomi informal dapat berpindah ke sektor formal. 

   3. Dampak Negatif Pasar Kerja Fleksibel

Keberhasilan pasar kerja fleksibel memerlukan dukungan sebuah kebijakan pasar kerja yang terintegrasi dengan sistem hubungan industrial, strategi industrialisasi dan sistem jaminan sosial yang baik.  Struktur pasar kerja dengan suplai yang besar dari buruh terampil, aksesibilitas luas terhadap informasi pasar kerja dan jaminan sosial yang diredistribusikan secara merata menjadi faktor-faktor penting yang menentukan efektivitas pasar tersebut . 

Ketika prasyarat-prasyarat tersebut tidak terpenuhi, penerapan pasar kerja fleksibel akan memberikan dampak negatif terhadap tenaga kerja. Nugroho (2004) mengemukakan ada tiga implikasi negatif fleksibilitas pasar kerja yaitu implikasi substansial, implikasi teknis dan kaitannya dengan persoalan HAM. Secara substansial, fleksibilitas pasar tenaga kerja menimbulkan perdagangan tenaga kerja. Fleksibilitas pasar tenaga kerja menimbulkan sistem kerja kontrak dan berkembangnya lembaga penyalur tenaga kerja (outsourcing), sebagai penyalur jasa tenaga kerja ke perusahaan. Lembaga outsourcing akan mengaburkan hubungan industrial, terutama adanya ketidakjelasan status dan tanggungjawab antara lembaga penyalur dengan perusahaan ketika terjadi perselisihan hubungan industrial. Posisi tawar buruh menjadi rendah karena ketidakjelasan majikannya diantara lembaga penyalur dan perusahaan. Secara teknis, fleksibilitas pasar tenaga kerja akan memunculkan adanya pihak lain (dalam hal ini perusahaan dan lembaga penyalur/outsourcing) yang mempunyai posisi lebih kuat sehingga menciptakan hubungan yang subordinatif terhadap pekerja. Posisi subordinatif dari buruh kontrak ini menyebabkan penggunaan buruh kontrak akan meluas pada industri yang seharusnya tidak menggunakan buruh dengan status kontrak sesuai dengan syarat formil maupun materiil pengaturan Kerja Waktu Tertentu (KKWT). Selanjutnya, dalam kaitan dengan Persoalan HAM, fleksibilitas pasar tenaga kerja dapat menghilangkan hak kerja sebagai Hak Asasi Manusia yang diberikan sebagai bentuk perlindungan terhadap buruh.

Dampak negatif dari penerapan pasar kerja fleksibel ini juga didukung oleh fakta penerapan pada berbagai negara. Di Amerika Latin, LMF berada dalam satu paket reformasi ekonomi berorientasi pasar yang kemudian diikuti oleh reformasi hukum perburuhan. Dalam kondisi semacam ini, Heckman dan Pages (2000) dalam studinya menemukan adanya kaitan sebaliknya dimana kebijakan pasar kerja fleksibel ternyata mengurangi peluang kerja dan meningkatkan kesenjangan antara buruh. Keuntungan atas keberadaan kebijakan ini lebih dinikmati oleh buruh yang masih bekerja, namun merugikan angkatan kerja baru yang belum bekerja dan kelompok-kelompok marginal (perempuan dan buruh tidak terampil).

Di Spanyol, terdapat 27 kebijakan liberalisasi yang secara ofensif memperkenalkan fleksibilitas pasar tenaga kerja melalui deregulasi dan pengurangan sumbangan pengusaha pada jaminan sosial. Sebagai salah satu akibat dari fleksibilitas ini, pertumbuhan buruh kontrak meningkat pesat. Pada kurun waktu 1985-1997 proporsi buruh kontrak di Spanyol meningkat sekitar tiga kali lipat, dari 11 persen menjadi 34 persen (Francesconi & Garcia-Serrano, 2002).

Selanjutnya Frenkel dan Ros (2003) dalam studinya di Meksiko dan Argentina menemukan bahwa meskipun di kedua negara tingkat fleksibilitas pasar kerjanya relatif sama, tetapi selama periode 1999-2001 pengangguran di Argentina bertambah sebesar 4,7 persen, dari 2,6 persen menjadi 7,3 persen, sementara di Meksiko stagnan pada tingkat 0,9 persen dalam kurun waktu tersebut. Dari studi tersebut kemudian ditemukan bahwa ada tiga aspek yang mempengaruhi perbedaan tingkat pengangguran tersebut, meskipun fleksibilitas pasar kerjanya relatif sama. Pertama, perbedaan perubahan “upah dollar” (dollar wages) -bukan upah nominal dan upah riil- yang mempengaruhi biaya produksi. Hal tersebut kemudian mempengaruhi daya saing produk dari kedua negara tersebut. Upah dollar, selain ditentukan oleh upah nominal, ditentukan juga oleh nilai kurs. Apresiasi mata uang suatu negara, misalnya, menyebabkan tingkat upah dollar menjadi relatif tinggi di negara tersebut. Hal ini akan mengurangi daya saing produk negara tersebut meskipun upah nominal atau upah riil tidak meningkat. Kedua, perbedaan spesialisasi perdagangan kedua negara tersebut. Spesialisasi perdagangan di Meksiko pada labor intensive industries menyebabkan perekonomiannya mampu menyerap banyak tenaga kerja. Argentina tidak menempuh kebijakan seperti itu. Ketiga, perbedaan kemampuan sektor informal di kedua negara tersebut untuk menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung di sektor formal.

Dengan kata lain, catatan penting dari pengalaman Meksiko dan Argentina ini adalah, tingkat pengangguran yang tinggi tidak hanya terkait dengan kekakuan pasar tenaga kerja, tetapi juga kondisi dan kebijakan makroekonomi.

 4. Peralihan Peran Negara dalam Pasar Kerja Fleksibel

Di dalam konsep pasar kerja fleksibel, peran negara digantikan oleh fungsi mekanisme pasar, baik dalam konteks pasar kerja maupun hubungan industrial. Di sejumlah negara industri maju, peralihan model peran negara ini didahului oleh sejarah peran negara yang efektif dalam sistem perlindungan kerja dan penjaminan kesejahteraan sosial ekonomi pekerja maupun warga negara pada umumnya. Peralihan tersebut ditandai dengan karakteristik pasar kerja full-employment, posisi tawar yang seimbang antara buruh dan pengusaha, serta pasar kerja yang memiliki angkatan kerja terampil yang lebih besar (Salomon, 1992). 

Di negara berkembang peralihan peran negara tidak didahului oleh peran negara yang efektif dalam pembangunan model hubungan industrial yang koheren dan sistem kesejahteraan sosial ekonomi pekerja yang efektif (Islam, 2001). Akibatnya masalah-masalah yang mendasar dari peran negara di dalam pengembangan sistem pasar kerja bermunculan sejalan dengan perubahan perubahan sistem pasar kerja yang lebih liberal.  Permasalahan yang penting dalam konteks tersebut adalah permasalahan penegakan hukum, fungsi pengaturan (regulator) pasar tenaga kerja, dan kelemahan dalam sistem jaminan sosial.

Penegakan Hukum

Kelemahan penegakan hukum memunculkan berbagai bentuk pelanggaran hukum yang merugikan kondisi buruh . Kelemahan tersebut bersumber dari kegagalan peran aktor penegakan hukum perburuhan, yang menyangkut kualitas sumberdaya manusia dari aktor penegak hukum perburuhan. Selain itu juga bersumber dari kelemahan dalam perundang-undangan itu sendiri, yang mengandung celah hukum yang memungkinkan terbukanya peluang praktek pelanggaran hukum tanpa kontrol yang efektif. 

Fungsi Pengaturan (regulator) Pasar Kerja

Jika tingkat upah penduduk miskin terlalu rendah, fleksibilitas pasar kerja yang tinggi akan meningkatkan peluang penduduk miskin melewati garis kemiskinan dan masuk ke dalam kelompok penduduk yang benar-benar miskin (Lindenthal, 2005).  Karenanya, peran negara yang kuat juga diperlukan di dalam menata kesesuaian antara kebijakan pasar kerja dengan kondisi nyata pasar kerja dan berbagai institusi penopangnya. 

 Menurut Widianto (2006), agar negara memiliki peran yang kuat dalam menata sistem pasar kerja yang aman secara sosial ekonomi bagi pekerja, maka perlu dirumuskan secara tegas sejauh mana tingkat fleksibilitas pasar yang aman bagi kondisi angkatan kerja dan pasar kerja yang ada. Selain itu, kebijakan pasar kerja juga harus terintegrasi dengan institusi-institusi terkait, dan diletakkan sebagai obyek dari kebijakan-kebijakan makro ekonomi lainnya.

Peran negara dalam sistem jaminan sosial

Di negara-negara industri maju, langkah kebijakan pasar kerja fleksibel selalu diimbangi oleh penerapan sistem jaminan sosial. Sistem jaminan sosial diletakkan sebagai bagian dari sistem perlindungan sosial. Hal ini disebabkan, dapat berubahnya status pekerjaan seseorang secara cepat.  Perubahan status dari bekerja menjadi menganggur tidak selalu disebabkan oleh gejolak ekonomi, melainkan dapat menjadi bagian dari sebuah sistem yang sedang berjalan.  Karenanya, diperlukan sistem perlindungan sosial yang mengintegrasikan antara sistem jaminan sosial dan skema-skema bantuan sosial yang terintegrasi dan berjangka lebih panjang.

Bacaan:

Atkinson, J. (1984) Flexibility, Uncertainty and Manpower Management, IMS Report No.89, Institute of Manpower Studies, Brighton.

Douglas, William A. 2000. Labour Market Flexibilityversus Job Security: Why Versus? http://www.newecon.org/Labor%20Flex_Douglas.html

Francesconi, Marco & Carlos Garcia-Serrano, “Unions, Temporary Employment and Hours of Work: A Tale of Two Countries.” University of Essex: ISER Working Paper Number 2002-3, 2002.

Frankel, R., dan Jaime R. 2003. “Unemployment, Macroeconomic Policy and Labor Market Flexibility. Argentina and Mexico in The 1990s”.

Heckman, James J. & Carmen Pages, “The Cost of Job Security Regulation: Evidence from Latin America Labour Market.” NBER Working Paper No. 7773, June 2000.

Islam, Iyanatul, 2001. “Beyond Labour Market Flexibility: Issues and Options for Post-Crisis Indonesia. Journal of the Asia Pasific Economy 6 (3) 2001: 305-334.

Jepsen, M. and Klammer, U. (2004) .Editorial., TRANSFER . European Review of Labour and Research. Vol.10 No.2, pp.157~159.

Lindenthal, Roland. 2005. “Kebijakan Ketenagakerjaan dan Pasar Tenaga Kerja di Indonesia: Beberapa Isu dan Pilihan“, UNSFIR, Discussion Paper Series no. 05/5-IND

Nugroho, Y, Menyoal Kebijakan Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja,
(working paper) dalam Seminar “Implikasi Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja (Labor Market Flexibility) terhadap Prospek Dunia Kerja di Kawasan Asia” yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Asia Timur, LPA, Unika Atmajaya, Jakarta, 9 Maret 2004

Rapley, J. 1997. Understanding Development : Theory and Practice in the Third World. London: UCL Press

Salomon, M. 1992. Industrial Relations: Theory and Practices. 2nd.ed. Hertfordshire: Prentice Hall.Int.Ltd

Widianto, B. 2006. “Kebijakan untuk Memperluas Kesempatan Kerja” Bahan Presentasi dalam Sarasehan Bappenas dan Wartawan. 15 Desember 2006

World Bank. 2006. Doing Business in 2006, Creating Jobs. Washington: IBRD/ the World Bank

Satu Tanggapan

  1. Selamat pagi Pak,

    Perkenankan nama saya Dicky Marianov mahasiswa tingkat akhir Teknik Industri ITB. Kebetulan topik tugas akhir saya berhubungan dengan sistem perekrutan kerja fleksibel di Indonesia, kalau di izinkan bolehkah saya meminta softcopy jurnal-jurnal ataupun artikel yang berhubungan yang digunakan Bapak dalam menulis artikel ini?
    Adakah saran dari Bapak dalam penelitian saya ini?

    Terima kasih Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: