Iklan

Model-Model Proyeksi Penduduk


Kebijakan pembangunan seharusnya tidak hanya diarahkan untuk mengatasi permasalahan kependudukan pada saat ini, tetapi juga dilakukan dalam rangka mengantisipasi keadaan dan permasalahan kependudukan pada masa yang akan datang. Oleh karenanya, dalam perumusan kebijakan diperlukan informasi keadaan penduduk pada masa yang akan datang, yang dapat diperoleh melalui proyeksi atau peramalan penduduk.

Proyeksi penduduk (population projections) dan peramalan penduduk (population forecast) sering dipergunakan sebagai dua istilah yang sering dipertukarkan. Meskipun demikian, kedua istilah ini sebenarnya memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Berbagai literature menyatakan proyeksi penduduk sebagai prediksi (ramalan) yang didasarkan pada asumsi rational tertentu yang dibangun untuk kecenderungan masa yang akan datang dengan menggunakan peralatan statistic atau perhitungan matematik. Disisi lain peramalan (forecast) penduduk bisa saja dengan atau tanpa asumsi dan/atau kalkulasi. Tanpa kondisi/syarat tertentu atau pendekatan tertentu. (Smith, et.al 2001). Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa peramalan adalah proyeksi, tetapi tidak semua proyeksi membutuhkan peramalan.

Tulisan ini akan membahas beberapa metode proyeksi penduduk. Dari berbagai literature, terdapat banyak metode dalam proyeksi penduduk. Masing-masingnya memiliki asumsi sendiri, kekuatan dan kelemahan. Model-model yang umum yang biasanya digunakan untuk proyeksi penduduk diantaranya adalah:

1.     Model ekstrapolasi trend, yang diantaranya terdiri dari:

  1. Model Linear
  2. Model Geometric
  3. Model Parabolic

     2.     Model Komponen Kohor

3.     Model Ratio

  1. Model “Constant Share”
  2. Model “Shift Share”
  3. Model “Share of Growth”

1. Model Ektrapolasi Trend
Model ekstrapolasi trend secara sederhana menggunakan trend penduduk masa yang lalu untuk memperkirakan jumlah penduduk masa yang akan datang. Metode ini adalah metode yang mudah digunakan dalam rangka proyeksi penduduk. Selain itu, metode ini juga digunakan untuk menghitung tingkat dan ratio pada masa yang akan datang berdasarkan tingkat dan ratio pada masa yang lalu.

Model ekstrapolasi trend yang banyak digunakan adalah model linear, geometric dan parabolic. Asumsi dasar dari model linear, geometric dan parabolik adalah pertumbuhan atau penurunan akan berlanjut tanpa batas. Namun demikian, asumsi tersebut tidak mungkin diberlakukan jika proyeksi yang disusun adalah proyeksi jangka panjang. Misalnya jika populasi di suatu daerah berkurang, dalam jangka panjang model ini akan memproyeksikan penduduk menjadi nol, dan bahkan menjadi negative. Demikian juga, jika jumlah penduduk di suatu daerah yang meningkat, tidak mungkin akan meningkat pada jumlah yang tanpa batas. Dalam kenyataannya, penduduk hanya akan meningkat sampai suatu tingkat dengan kapasitas yang maksimum dan kemudian akan kembali turun atau stabil dalam kaitannya dengan kepadatan penduduk, biaya hidup dan kualitas hidup. Oleh karenanya, penggunaan model ekstrapolasi trend membutuhkan pemahaman yang baik tentang kecenderungan pertumbuhan masa lalu untuk membuat estimasi dengan batasan yang masuk akal (reasonable).

a. Model Linear (Aritmethic)

Model linear menurut Klosterman (1990) adalah teknik proyeksi yang paling sederhana dari seluruh model trend. Model ini menggunakan persamaan derajat pertama (first degree equation). Berdasarkan hal tersebut, penduduk diproyeksikan sebagai fungsi dari waktu, dengan persamaan:

 

    Pt =α + βT  

Dimana :     Pt = penduduk pada tahun proyeksi t

  

 

 

 

            α = intercept = penduduk pada tahun dasar

             β = koefisien = rata-rata pertambahan penduduk

             T = periode waktu proyeksi = selisih tahun proyeksi dengan tahun dasar

Hasil proyeksi akan berbentuk suatu garis lurus. Model ini berasumsi bahwa penduduk akan bertambah/berkurang sebesar jumlah absolute yang sama/tetap (β) pada masa yang akan datang sesuai dengan kecenderungan yang terjadi pada masa lalu. Ini berarti bahwa, jika Pt+1 dan Pt adalah jumlah populasi dalam tahun yang berurutan, Pt+1 – Pt yang adalah perbedaan pertama yang selalu tetap (konstan). Klosterman (1990), mengacu pada Pittengar (1976), mengemukakan bahwa model ini hanya digunakan jika data yang tersedia relatif terbatas, sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan model lain. Selanjutnya, Isserman (1977) mengemukakan bahwa model ini hanya dapat diaplikasikan untuk wilayah kecil dengan pertumbuhan yang lambat, dan tidak tepat untuk proyeksi pada wilayah-wilayah yang lebih luas dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi.

b. Model Geometric.

Asumsi dalam model ini adalah penduduk akan bertambah/berkurang pada suatu tingkat pertumbuhan (persentase) yang tetap. Misalnya, jika Pt+1 dan Pt adalah jumlah penduduk dalam tahun yang berurutan, maka penduduk akan bertambah atau berkurang pada tingkat pertumbuhan yang tetap (yaitu sebesar Pt+1/Pt ) dari waktu ke waktu. Menurut Klosterman (1990), proyeksi dengan tingkat pertumbuhan yang tetap ini umumnya dapat diterapkan pada wilayah, dimana pada tahun-tahun awal observasi pertambahan absolut penduduknya sedikit dan menjadi semakin banyak pada tahun-tahun akhir. Model geometric memiliki persamaan umum:

    Pt =α + βT

Persamaan diatas dapat ditransformasi kedalam bentuk linear melalui aplikasi logaritma, menjadi sebagai berikut:

    LogPt =Logα + T.logβ

c. Model Parabolik.
Model parabolic seperti model geometric berasumsi bahwa penduduk suatu daerah tidak tumbuh dalam bentuk linear. Namun demikian, tidak seperti model geometrik (yang berasumsi tingkat pertumbuhan konstan dari waktu ke waktu), pada model parabolic tingkat pertumbuhan penduduk dimungkinkan untuk meningkat atau menurun. Model ini menggunakan persamaan derajat kedua yang ditunjukkan sebagai berikut:

    Pt =α + β1T + β2T2

Model parabolic memiliki dua koefisien yaitu β1 dan β2. β1 adalah koefisien linear (T) yang menunjukkan pertumbuhan konstan, dan β2 adalah koefisien non-linear yang (T2) yang menyebabkan perubahan tingkat pertumbuhan. Tanda positif atau negatif pada β1 dan β2 bervariasi tergantung pada apakah tingkat pertumbuhan tersebut akan meningkat atau menurun. Berdasarkan variasi pada tanda β1 dan β2, model akan menghasilkan empat scenario sebagai berikut:

Tabel. Skenario dalam Model Parabolik

β1

β2

Efek terhadap pertumbuhan penduduk

+ 

+ 

Pertambahan yang semakin meningkat

Penduduk bertambah

Kurva cekung ke atas (Concave upward)

+

Pertambahan yang semakin berkurang

Penduduk berkurang

Kurva cekung ke bawah (concave downward)

+

Pertambahan yang semakin berkurang

Penduduk bertambah

Kurva cekung ke atas (Concave upward)

Pertambahan yang semakin meningkat

Penduduk berkurang

Kurva cekung ke bawah (concave downward)

Klosterman (1990), menyarankan demographer untuk terlebih dahulu mencermati (menguji coba) model ini ketika akan diaplikasikan pada suatu daerah. Menurutnya, meskipun model ini baik untuk daerah dengan pertumbuhan atau penurunan yang cepat, namun demikian proyeksi jangka panjang akan menghasilkan angka yang sangat besar atau sangat kecil.

2. Model Komponen Kohor

Model-model ekstrapolasi trend yang didiskusikan diatas mengacu pada perkiraan penduduk secara agregat, sementara model komponen kohor mengacu pada perubahan-perubahan komponen penduduk (yaitu fertilitas, mortalitas dan migrasi) secara terpisah. Penduduk secara keseluruhan dibagi kedalam beberapa kohor/kelompok umur. Interval (k) dari kohor ini umumnya dalam satu tahunan (0-1, 1-2, 2-3 dst), lima tahunan (0-4, 5-9, 10-14 dst), atau 10 tahunan (0-9, 10-19, 20-29. Selanjutnya, kohor dibagi lagi berdasarkan gender dan etnis.

Pengelompokan penduduk berdasarkan komponen-komponen yang mempengaruhi perubahan penduduk, kelompok umur, gender dan etnis akan membantu untuk membangun pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika penduduk suatu daerah. Karena ukuran kohor semakin kecil, maka akan semakin terperinci informasi yang dapat digunakan dalam analisis. Misalnya, bayi dan penduduk umur-umur tua akan memiliki persentase kematian yang lebih tinggi dibandingkan penduduk usia muda. Jumlah kelahiran akan bervariasi berdasarkan umur dan etnis dari penduduk wanita. Demikian juga, migrasi akan bervariasi menurut umur, gender dan etnis individu.

Persamaan dalam model komponen kohor adalah:

Dimana:     Pt     = penduduk tahun t pada kohor di interval k

    t    = tahun

    n     = umur awal dari kohor

    k     = jumlah tahun dalam kohor (interval kohor umur)

    DTH     = total kematian

    IR    = total kelahiran

    NMIG = total migrasi bersih

Karena penduduk kohor n pada tahun sebelumnya () dikurangi dengan jumlah kematian dalam kohor tersebut () adalah jumlah penduduk yang bertahan hidup ke kohor n pada tahun t (), maka persamaan dapat ditulis ulang sebagai berikut:

Berikut diberikan perhitungan-perhitungan untuk ketiga komponen dalam metode ini:

 

a. Mortalitas-Tingkat Survival

Mortalitas dihitung dalam model sebagai jumlah penduduk dalam kohor tertentu n-k pada tahun t-k, yang bertahan hidup ke kohor berikutnya (n) pada tahun t.

Dimana: penduduk dari kohor n-k pada tahun t-k

    n-kSRVk     = tingkat bertahan hidup (survival)

 

b. Kelahiran- Tingkat Fertilitas

Fertilitas adalah jumlah bayi yang dilahirkan wanita usia subur (biasanya antara 15-44 tahun). Tingkat fertilitas diberikan melalui persamaan berikut:

Dimana: tingkat fertilitas wanita dalam kohor n dari interval k

     jumlah kelahiran oleh wanita pada kohor n

     jumlah wanita dalam kohor n

Tingkat fertilitas yang diperoleh dari rumus diatas dapat digunakan untuk menghitung jumlah kelahiran dalam interval waktu yang sama sesuai dengan ukuran kohor. Misalnya, jika ukuran kohor adalah lima tahunan (0-4, 5-9, 10-14), maka proyeksi dapat dilakukan untuk interval lima tahunan (2005, 2010, 2015).

Selanjutnya, jika wanita-wanita pada kohor umur tertentu tidak memiliki kelahiran, maka untuk keakuratan perhitungan, tingkat fertilitas perlu disesuaikan. Tingkat fertilitas yang disesuaikan adalah rata-rata dari dua tingkat fertilitas yang berurutan.

Dimana:     tingkat fertilitas yang disesuaikan dari wanita dalam kohor n dengan interval k

Total kelahiran selanjutnya dibagi atas kelahiran bayi laki-laki dan bayi perempuan berdasarkan sex ratio waktu lahir dari data masa yang lalu.

c. Migrasi bersih (Net Migration).

Migrasi bersih adalah perbedaan antara jumlah penduduk yang masuk dengan jumlah penduduk yang keluar dari suatu daerah, dengan persamaan:

 

3. Model Ratio

Menurut Smith, Tayman dan Swanson (2001), model ratio-sebagaimana model ekstrapolasi trend- juga didasarkan pada trend masa lalu. Model ratio menggunakan konsep bahwa penduduk (atau perubahan penduduk) pada suatu wilayah yang lebih kecil (wilayah studi) merupakan proporsi dari penduduk (perubahan penduduk) dari wilayah yang lebih luas, atau wilayah basis (base area). Model ini sederhana dan mudah dalam perhitungannya serta membutuhkan data yang relative lebih sedikit. Meskipun demikian, model ini membutuhkan proyeksi penduduk dari wilayah basis tersebut.

Model ratio mencakup model constant share, shift share dan model share of growth.

a. Model Constant Share

Model ini berasumsi bahwa share penduduk dari daerah studi merupakan suatu proporsi yang konstan dari daerah basis dan proyeksi dilakukan berdasarkan proporsi konstan tersebut.

Model disajikan dalam bentuk persamaan berikut:

Dimana: P     = jumlah penduduk pada daerah studi

    Pj     = penduduk pada daerah basis atau daerah yang lebih luas yang didalamnya terdapat daerah studi

    l     = tahun akhir dari observasi

    t    = tahun proyeksi

Jika data wilayah studi menunjukkan kecenderungan yang sama seperti wilayah basis, penggunaan model ini akan menghemat waktu dan lebih sederhana dalam penerapannya. Namun demikian, jika daerah studi dan daerah basis memiliki trend pertumbuhan yang berlawanan, artinya jika daerah studi mengalami penurunan penduduk dan daerah basis mengalami peningkatan penduduk, atau sebaliknya, proyeksi ini tidak dapat diaplikasikan

b. Model Shift Share

Model shift share mencoba mengoreksi kelemahan dari model constant share dengan memasukkan indeks pergeseran (shift term) untuk menghitung perubahan share penduduk dari waktu ke waktu. Jika pertumbuhan daerah studi lebih cepat dari daerah basis maka shift term akan positif. Sebaliknya jika pertumbuhan daerah studi lebih lambat dari daerah basis, maka shift termnya akan negative.

Persamaan dalam metode ini adalah sebagai berikut:

Dimana:     b     = tahun awal observasi

    s    = shift term

    z    = jumlah tahun dalam proyeksi (t-1)

    y    = jumlah tahun dalam periode observasi (1-b)

Satu kelemahan utama dari metode ini adalah jika terjadi pertumbuhan atau pengurangan yang tinggi pada tahun dasar, hal ini dapat menyebabkan bertambahnya atau berkurangnya penduduk dalam jumlah yang sangat besar pada tahun proyeksi. Oleh karenanya, penggunaan metode ini untuk proyeksi penduduk jangka panjang harus dilakukan secara hati-hati.

c. Metode “share of growth”

Metode ini menggunakan share dari pertumbuhan penduduk bukannya share dari jumlah penduduk seperti yang digunakan dua model ratio sebelumnya. Asumsi dasar dari model ini adalah bahwa share pertumbuhan penduduk daerah studi pada periode observasi akan berlaku sama dalam periode proyeksi.

Model ini disajikan dalam bentuk persamaan berikut:

Metode ini akan lebih tepat diterapkan jika trend pertumbuhan penduduk pada daerah studi sama dengan trend pertumbuhan pada daerah basis. Misalnya jika pertumbuhan penduduknya sama-sama meningkat atau sama-sama menurun.

Bahan Bacaan:

Isserman, Andrew. 1977. Accuracy of Population Projections for Sub-county Areas,Journal of American Institute of Planners. Vol 43, pp- 247- 59.

Klosterman, Richard E. 1990. Community Analysis and Planning Techniques. Savage.Rowman & Littlefield, c1990.

Smith, Stanley , Jeff, Tayman, and David, Swanson. 2001. State and Local PopulationProjections: Methodology and Analysis. New York. Kluwer Academic/ Plenum Publishers.

 

 

Iklan

16 Tanggapan

  1. […] Model-Model Proyeksi Penduduk | Junaidi – 10/6/2008 · 1. Model Ektrapolasi Trend Model ekstrapolasi trend secara sederhana menggunakan trend penduduk masa yang lalu untuk memperkirakan jumlah penduduk …… […]

  2. pak kalau proyeksinya model sebaran gimana ya pak.. bagaimana menghubungi bapak via telp. thanks

  3. pak jun punya software fivsin g?

  4. mohon informasinya, kalo yang dinamakan rumus proyeksi pesimis, optimis, dan stagnant itu yang seperti apa ya? terimakasih banyak

  5. infonya sangat membantu… 😀
    terima kasih ya pa… kalo untuk mencari penurunan dari rumus tersebut gmn ya pa? ada buku referensi yang bisa dijadikan acuan ga? saya mencari alfa, beta dan P+1 dan P nya… terimakasih sebelumnya… 😀

    • bisa penurunan biasa biar gak pusing coba masukan angka2nya, baru kemudian turunkan.silakan email k smuslih@bps.go.id, bisa saya bantu. buat pak jun, bagus sekali pak share ilmunya

  6. trima kasih atas infonya…sy bisa minta tolong gak pak contoh model komponen kohor…jika bpk membalasnya saya sangat berterima kasih…

  7. Apakah model-model di atas bisa diterapkan untuk proyeksi ke belakang, misalnya untuk mengetahui penduduk level kecamatan pada tahun 1980?

  8. trims pak atas infonya..oya pak kalau metode least square itu ap ya pak? apakah sama dengan metode parabolik?

  9. Makasih Pak…atas infonya, kebetulan saya lagi hunting buat tugas kuliah……..

  10. trim’s pak…
    maaf pak.. sy mhsswa unja yg sdg mysn skrpsi.. dan kbtln jg mnlti ttg proyksi pnddk. krn referensi yg trbtas.. bleh g pak kl sy mmnjam bku bpk utk mnambah rfrensi skrpsi sy.. kl bleh, bpk bs mengkonfirmasi sy di januare@ymail.com
    thank’s…

  11. terima kasih artikelnya pak.. bs kasih tau contoh maisng2 metode proyek ga pak..misalnya : data dasar penduduk 2005, yang ditanyakan gimana cara mencari proyeksi 2006-2014??
    salam

  12. apakah tanda beta atau koefisien sama dengan (1+r) seperti dalam rmus geometrik yang lain ato pda situs BPS.

    Ya, serupa

  13. cara mencari proyeksi tu gimana pak ?
    tolong rincikan donk …
    kalau bisa sih sekalian contoh soalnya

  14. terimakasih artikelnya pak.
    yang dimaksud “proyeksi linear” itu apa ya? bisakah diberikan contoh? maturnuwun….

    Proyeksi linear maksudnya adalah proyeksi dengan asumsi tambahan setiap periode waktunya secara absolut adalah sama. Misalnya, kita berasumsi bahwa sepuluh tahun kedepan, setiap tahun penduduk bertambah 500.000 orang. Dengan asumsi ini, kalau kita buat kurvanya, maka akan berbentuk garis lurus (linear)

  15. terima kasih mas….saya kebetulan sedang mencari metode2 proyeksi penduduk buat tugas kuliah teknik sanitasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: