Iklan

Seorang Perempuan Berjilbab Tertangkap Mencopet


Ditengah keramaian, seorang pencopet tertangkap sedang melakukan aksinya. Seperti biasa, keramaian menjadi tambah ramai dengan kejadian tersebut. Seorang ibu, dengan nada bersemangat bercerita pada pengunjung yang baru datang. “Ada perempuan berjilbab tertangkap mencopet…….!!!”

Saya terkejut dengan pernyataan tersebut, seakan-akan mendengar sesuatu yang baru (padahal mungkin sudah pernah saya dengar). Ada tiga kata kunci dalam pernyataan tersebut yang membuat saya berpikir panjang, yaitu “perempuan”, “mencopet”, dan “berjilbab”.

Ketika si ibu tadi menghubungkan kata “perempuan” dengan kata “berjilbab”, saya maklum. Toh tidak ada laki-laki yang berjilbab. Ketika si ibu tadi menghubungkan kata “perempuan” dengan “mencopet”, saya juga maklum, karena biasanya yang mencopet adalah laki-laki, sehingga penambahan kata perempuan menambah sensasi dari berita tersebut. Toh kalau laki-laki yang mencopet, biasanya hanya dikatakan “ada pencopet”, dan kita langsung paham yang mencopet adalah laki-laki.

Tapi, ketika si ibu tadi merangkai ketiga kata kunci itu sekaligus dalam suatu pernyataan “Ada perempuan berjilbab tertangkap mencopet ….!!!”, saya menjadi tidak paham. Saya coba membayangkan, seandainya perempuan tadi tidak berjilbab. Apakah sang ibu akan berkomentar “Ada perempuan tidak berjilbab tertangkap mencopet”. Saya rasa tidak akan.

Saya mencium ketidak-adilan di situ. Saya juga mencium ada proses pembusukan dari dalam (yang mungkin secara tidak sengaja) yang dilakukan oleh orang Islam (si ibu tadi saya tahu persis beragama Islam) terhadap agamanya sendiri. Pembusukan itu terjadi karena sebagian orang Islam alergi terhadap saudaranya sesama Islam yang mencoba menegakkan syariah agama yang diyakininya. Tingkat alergi tersebut kadang-kadang demikian tingginya, sehingga menghilangkan toleransi mereka. Padahal toleransinya terhadap umat agama lain sangat tinggi. Misalnya, mereka (dalam kasus laki-laki) merasa malu ketika bersalaman dengan seorang perempuan hanya disambut dengan salam dari jarak jauh tanpa bersentuhan tangan. Seringkali mereka “ngedumel” dalam hati, dan berkomentar sinis (tentunya tidak di depan perempuan tadi). Bahkan ada pimpinan institusi tertentu (yang kebetulan laki-laki) dalam acara yang salah satu agendanya bersalam-salaman (misalnya: acara wisuda atau halal bilhalal) mengumumkan kepada peserta acara wanita yang tidak mau bersentuhan tangan untuk memakai sarung tangan. Alasannya, dia malu ketika menjulurkan tangan tidak disambut oleh para wanita tersebut. Anehnya, kenapa bukan pimpinan tersebut yang berinisiatif menggunakan sarung tangan untuk menghormati muslimah yang menegakkan syariah (yang notabene adalah saudara seimannya) ?

Banyak kasus lain dimana ketidak-adilan tersebut, dimana kealergian tersebut, dimana hilangnya toleransi tersebut terjadi ketika orang Islam menyikapi saudaranya seagama yang berkeyakinan dengan syariahnya. Ini menimbulkan pertanyaan sederhana yang sampai saat ini belum mampu saya jawab ” Ada apa sebenarnya dengan kita ???”

Iklan

5 Tanggapan

  1. bagus, perlu kita renungkan, Islam selalu disudutkan, bahkan oleh pemeluknya sendiri

  2. sangat menarik

  3. yah, saya juga sependapat, bahwa banyak teman kita yang seiman baik laki-laki maupun perempuan masih beranggapan bahwa perempuan yang mengenakan jilbab hanya untuk menutupi kebusukan perempuan tersebut, sehingga ketika mereka yang berjilbab melakukan kekhilafan, apakah itu berupa perbuatan ataupun perkataan, yang disinggungnya adalah jilbab yang dipakai. Padahal perempuan yang memakai jilbab bertujuan untuk menutup aurat yang merupakan kewajiban agamanya.
    Oleh karenanya perlu diberikan penjelasan bagi mereka yang kurang tau batasan aurat bagi perempuan dan masih berfikiran negatif terhadap perempuan yang pakai jilbab.

    Jawab: Ya benar bu Dian. Terimakasih tanggapannya (Junaidi)

  4. mungkin maksud ibu itu napa sdh pake jilbab jadi copet….
    kan aneh.., jilbab adalah lambang kesucian, kebersihan, keindahan, tapi kalo ada yang pake jilbab masih mau mencopet, msih mau peluk2an, pegangan tangan,
    jdai menurut saya ibu itu tidak salah….
    hanya perempuan pencopet yg berjilbab saja yang gak bener…
    klo berjilbab jaga perilaku donk….
    jangan untuk menutpi sifatnya yang gak baik…

    dasar zaman canggih…..
    nilai2 kebaikan digunakn untuk melakukan cara-cara tidak baik..

    Yap. Saya setuju bahwa jilbab sebagai lambang kesucian,kebersihan dan keindahan. Mudah-mudahan si ibu tadi memang tidak bermaksud untuk mencemarkan agamanya sendiri, dan pernyataannya hanya sebagai respons seketika saja.
    Tapi seringkali, pernyataan-pernyataan yang senada dengan itu, menyebabkan banyak perempuan muslim yang takut pakai jilbab. Kalau ditanya kenapa belum pakai jilbab, seringkali jawaban yang kita dengar, “nantilah, saya belum sanggup menjaga perilaku saya”. Padahal, bukankah menurut aurat suatu kewajiban ? Sebagai suatu kewajiban, tentunya tidak harus menunggu berperilaku baik terlebih dahulu. (Junaidi)

  5. Ya Allah , jangan biarkan banyak orang menodai agama ini , Amin

    Amin. (Junaidi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: