Iklan

Fenomena Penataan Ruang


Sekitar seminggu yang lalu, saya melakukan perjalanan dengan misi utama mengamati fenomena tata ruang dan penataan ruang di beberapa daerah (kabupaten/kota). Perjalanan yang melelahkan, mengunjungi empat lokasi yang cukup berjauhan dalam dua hari, serta menghabiskan waktu dengan mendengarkan pemaparan dan berdiskusi. Tetapi, meskipun melelahkan, perjalanan tersebut menjadi berharga karena banyaknya fenomena yang dapat saya tangkap sebagai suatu proses pembelajaran.

Apa itu tata ruang dan bagaimana kaitannya dengan penataan ruang ?

Mengutip Rustiadi,dkk (2007) dalam bukunya “Perencanaan dan Pengembangan Wilayah”, tata ruang diartikan sebagai konfigurasi spasial (keruangan) yang membentuk suatu keseimbangan pola dan struktur spasial. Pola pemanfaatan ruang (pola ruang) berkaitan dengan aspek-aspek distribusi spasial sumberdaya dan aktivitas pemanfaatannya. Sedangkan struktur pemanfaatan ruang (struktur ruang) adalah gambaran mengenai hubungan keterkaitan (linkages) antara aspek-aspek aktivitas-aktivitas pemanfaatan ruang.Terdapat dua aspek struktur ruang yaitu struktur jaringan prasarana dan struktur pusat-pusat aktivitas pemukiman.

Lalu, apa itu penataan ruang ? Mengutip definisi yang diberikan dalam UU No. 26 Tahun 2007, penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Pada dasarnya, tata ruang sebagai pola dan struktur ruang serta berbagai perubahan yang terjadi sudah terbentuk secara alamiah baik sebagai hasil proses-proses alam maupun hasil proses sosial akibat adanya pembelajaran (learning process) yang terus menerus. Oleh karenanya, mengacu pada definisi UU di atas, penataan ruang hakikatnya adalah upaya aktif manusia untuk mengubah pola dan struktur pemanfaatan ruang dari satu keseimbangan (yang sudah terbentuk sebelumnya) menuju keseimbangan baru yang lebih baik.

Saya menggaris-bawahi kata-kata keseimbangan, karena keseimbangan merupakan kata kunci untuk penataan ruang (dan juga proses pembangunan pada umumnya). Keseimbangan pada dasarnya mempertemukan kepentingan-kepentingan yang beragam, sehingga kepentingan-kepentingan tersebut mendapatkan porsi yang sesuai dengan kapasitas riil dan hak normatifnya.

Lalu, dalam konteks penataan ruang, kepentingan-kepentingan apa yang harus diseimbangkan ?

Ada tiga kelompok kepentingan utama, yaitu kepentingan ekonomi, kepentingan sosial dan kepentingan lingkungan. Kepentingan ekonomi menghendaki penataan ruang yang mampu menjamin peningkatan dan keberlangsungan aktivitas ekonomi. Kepentingan sosial menghendaki penataan ruang yang dapat menjamin kondisi kondusif untuk aktivitas dan interaksi sosial. Kepentingan lingkungan menghendaki penataan ruang yang mampu menjamin keberlangsungan kualitas lingkungan untuk menunjang kepentingan-kepentingan ekonomi dan sosial.

Dalam tataran mekanisme pasar, masing-masing kelompok kepentingan tidak memiliki kapasitas riil yang sama dalam memperjuangkan hak normatifnya, yang menyebabkan ketimpangan porsi yang didapatkan masing-masing kepentingan. Dalam konteks inilah, perencanaan penataan ruang menjadi penting dalam rangka mengatasi kegagalan pasar (market faillure) dalam membagikan hak normatif yang sesuai masing-masing kepentingan.

Namun demikian, perjalanan yang saya lakukan ternyata memberikan hasil yang berbeda. Perencanaan penataan ruang yang dilakukan di berbagai daerah hanya menjadi dokumen legalisasi terhadap kelompok kepentingan yang memenangkan pertempuran ruang (battle of space). Kepentingan ekonomi yang memiliki kapasitas riil yang jauh lebih tinggi dibandingkan kepentingan sosial dan lingkungan, telah memenangkan pertempuran untuk menguasai ruang ini, dan kemudian dilegalisasi oleh pemerintah-pemerintah di daerah, baik dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) dan lainnya.

Maka, muncullah berbagai fenomena di daerah-daerah. Atas nama penataan ruang, tergusurlah lahan resapan air dan pertanian oleh aktivitas industri. Kita juga mendengar bagaimana taman-taman kota harus mengalah. Kita juga sering mendapatkan fakta tergusurnya pedagang kaki lima, pasar tradisional, gedung-gedung sekolah oleh pusat-pusat perbelanjaan dan aktivitas modern perkotaan.

Lalu, apakah ini yang memang ingin dicapai dalam keseimbangan baru yang lebih baik ?

 

Download disini: UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: