Pasar Tradisional, Nasibmu Kini


Dalam terminologi ilmu ekonomi, sebenarnya tidak terdapat istilah pasar tradisional. Istilah tersebut muncul ketika terdapat fenomena di berbagai negara (terutama di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia), dimana adanya dua tipe pasar yang secara operasional berbeda tetapi berjalan secara bersamaan, yang kemudian diistilahkan dengan pasar tradisional dan pasar modern.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar modern dari sisi barang yang diperdagangkan, tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun dalam pasar modern penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan, hypermarket, supermarket, dan minimarket

Dalam sejarahnya pasar tradisional di Indonesia sudah ada pada jaman sebelum adanya Pemerintahan Indonesia, baik pada masa penjajahan maupun kerajaan. Dari Indonesian Heritage, Ancient History (1996), dinyatakan bahwa pasar tradisional telah lahir dalam abad 10. Secara formal tercatat dalam prasasti masa kerajaan Mpu Sindok dengan istilah Pkan.

Pasar tradisional dalam awal-awal keberadaannya memiliki peranan yang penting dalam perkembangan wilayah dan terbentuknya kota. Sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat, pasar tradisional telah mendorong tumbuhnya pemukiman-pemukiman dan aktivitas sosial-ekonomi lainnya di sekitar pasar tersebut, dan pada tahap selanjutnya berkembang menjadi pusat pemerintahan. Jasa besar pasar tradisional (tentunya dengan pelaku-pelaku di dalam pasar tersebut), hampir tidak terbantahkan terutama jika kita lihat sejarah berdirinya hampir seluruh kota di Indonesia.

Namun demikian, sejalan dengan perkembangan zaman, jasa besar pasar tradisional dan para pelaku didalamnya mulai terlupakan. Pasar tradisional sekarang dipandang sebagai daerah yang kumuh dan ruwet, yang telah menyebabkan rusaknya keindahan kota serta menimbulkan kemacetan lalu lintas perkotaan. Oleh karenanya, pasar tradisional ini harus disingkirkan jauh-jauh dari kota.

Pandangan ini yang kemudian menjadi dasar pertimbangan pemerintah di daerah, sehingga muncullah berbagai kebijakan di daerah yang berakibat pada penggusuran pasar tradisional ke pinggiran kota. Selain penggusuran yang sudah terjadi, dalam berbagai rencana tata ruang juga terlihat adanya keinginan kuat dari pemerintah-pemerintah di daerah untuk menggusur pasar tradisional.

Bersamaan dengan hal tersebut, muncullah mall-mall, departmen store, pusat-pusat perbelanjaan mewah dan modern di pusat-pusat kota. Dan dalam kondisi dimana pasar modern tersebut memiliki segala keunggulan (jarak yang relatif dekat, suasana belanja yang lebih bersih dan nyaman), akhirnya menyebabkan masyarakat cenderung meninggalkan pasar tradisional. Ini kemudian menyebabkan pasar tradisional yang terpinggirkan tersebut menjadi mati suri dan lambat laun menjadi mati tidak suri (mati benaran maksudnya).

Ada apa sebenarnya dengan kita? Ada apa sebenarnya dengan pemerintahan kita? Apakah tidak pernah terbayangkan bahwa ketika suatu pasar dipindahkan, maka untuk bisa mencapai kestabilan aktivitas (kalaupun pasar itu bisa bertahan hidup) paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 5 tahunan. Artinya, jika terdapat tiga ribuan pelaku dalam pasar tersebut (pedagang kecil, kuli angkut, tukang becak, petugas parkir), maka akan terdapat tiga ribuan masyarakat yang notabene masyarakat lapisan ekonomi bawah yang akan menderita selama 5 tahun tersebut.

Ke arah mana sebenarnya kebijakan kita berpihak? Kalaupun pasar tradisional dianggap menyebabkan kemacetan lalu lintas perkotaan, apakah benar-benar tidak ada solusi lain untuk mengatasi kemacetan tersebut selain melakukan penggusuran pasar tradisional? Kalaupun pasar tradisional menyebabkan kota menjadi tidak cantik, apakah tidak ada cara untuk mempercantik pasar tersebut?

Seseorang berkata: ” Ini mekanisme pasar, bung!! Dalam pertempuran ruang ekonomi (battle of economic space) harus ada pemenangnya. Dan pemenangnya adalah pasar modern yang memiliki kemampuan lebih dalam bertempur”
Saya jawab: “Ini bukan fenomena mekanisme pasar. Ini adalah kegagalan pasar (market failure) yang diikuti oleh kegagalan pemerintah (government failure) dalam mewujudkan distribusi sumberdaya guna memenuhi prinsip pemerataan, keberimbangan dan keadilan”

3 Tanggapan

  1. […] Sumber : https://junaidichaniago.wordpress.com/2008/06/23/pasar-tradisional-nasibmu-kini/ […]

  2. minta ijin ambil artikelnya ya untuk page FB belajar melulu..
    trims.

    Silakan disebarluaskan. Mudah-mudahan bermanfaat. Jangan lupa linknya kesini ya

  3. trims pak postingannya
    benar pak kalo kita lihat nasib pasar tradisional sangat memperihatinkan karena dikalahkan oleh mall atau hypermart yang mempunyai modal yang sangat besar,,,setahu saya kayak diaustralia aja mall yg besar kayak carrefour ditempatkan di pinggiran kota ga kayak kita di tempatkan ditengah kota yang mengakibatkan,,,pedagang kecil terpinggirkan

    salam

    Ahmad Fikri,SHI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: