Iklan

Migrasi Etnis Batak ke Jambi


Ditulis Oleh : Junaidi, Hardiani

 

I. LATAR BELAKANG

Propinsi Jambi merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sejak lama telah terkenal sebagai daerah tujuan utama migran dari daerah lain. Berdasarkan data tahun 2000, jumlah migran masuk ke Propinsi Jambi selama lima tahun terakhir adalah sebanyak 16.356 orang, dengan jumlah migran keluar sebanyak 7.697 orang, atau terdapat selisih (migrasi neto) 8.839 orang. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Propinsi Jambi yang sebanyak 2.405.378 orang, didapatkan tingkat migrasi neto sebesar 3,6 perseribu penduduk. Tingkat migrasi neto ini berada pada urutan keempat tertinggi setelah Kalimantan Timur, Riau dan Bengkulu.

Tingginya migrasi neto tidak hanya disebabkan Jambi sebagai daerah penerima transmigran, tetapi juga banyaknya migrasi masuk non-transmigran ke Jambi, yang dapat dilihat dari keberagaman suku bangsa penduduk yang ada di Propinsi Jambi. Dari total penduduk Jambi pada tahun 2000, hanya 45,25 persen yang merupakan penduduk etnis asli Jambi (Melayu Jambi dan Kerinci). Sebagian besar lainnya merupakan etnis Jawa (27,64 persen) dan etnis Luar Jawa (27,11 persen).

Salah satu etnis luar Jawa yang melakukan migrasi swakarsa ke Jambi adalah etnis Batak. Etnis Batak yang berdiam di Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu etnis di Indonesia yang memiliki budaya merantau kuat. Dalam lima tahun terakhir (data tahun 2000) jumlah migran keluar ke berbagai daerah dari propinsi ini sebanyak 276.912 orang, hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan migran masuk ke daerah ini yang hanya 102.560 orang (atau terjadi migrasi neto negatif).

Migrasi etnis Batak khususnya ke daerah Jambi, sebagaimana karakteristik mobilitas penduduk secara umum, selain berdampak positif terutama dalam redistribusi penduduk, juga dapat berdampak negatif baik pada daerah asal maupun daerah tujuan. Meskipun demikian, mobilitas penduduk merupakan hak azasi setiap individu, dan ini sesuai dengan UU Hak Azasi Manusia No. 39 Tahun 1999 bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk secara bebas bergerak, berpindah dan bertempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya, tidak ada yang berhak melarang siapapun untuk berpindah. Bagian yang perlu menjadi perhatian penting adalah bagaimana masing-masing daerah menyusun kebijakan untuk mengurangi dampak negatif dari mobilitas penduduk ini.

1.2. Tujuan Penelitian

  1. Menganalisis karakteristik sosial-ekonomi-demografi migran etnis Batak serta factor pendorong dan penarik etnis Batak untuk untuk melakukan migrasi ke Jambi
  2. Menganalisis status dan pola mobilitas dari migran etnis Batak di Jambi serta kaitan sosial dan ekonomi terhadap daerah asalnya

1.3. Manfaat Penelitian

  1. Dari sisi praktis, diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan dalam mengarahkan mobilitas penduduk agar dapat memberikan dampak positif baik pada daerah asal maupun daerah tujuan
  2. Dari sisi akademis, bermanfaat sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Faktor-faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan untuk bermigrasi dan proses migrasi adalah faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, di daerah tujuan, faktor penghalang antara dan faktor-faktor pribadi. Model yang sering digunakan untuk menganalisis migrasi penduduk di suatu wilayah adalah model “dorong-tarik” (push-pull factors).

Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh PPK-UGM mengenai mobilitas sirkuler ke enam kota besar di Indonesia pada tahun 1985 didapatkan bahwa hampir 25 persen keluarga dari mana para migran berasal, tidak memiliki lahan pertanian, bahkan keluarga tanpa tanah dari migran sirkuler yang berada di Palembang mencapai 46,5 persen dan di Padang 40,75 persen.

Kecilnya kepemilikan lahan di daerah asal menyebabkan mereka melakukan migrasi ke daerah lain yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Jadi daerah tujuan mempunyai nilai kefaedahan yang lebih tinggi dibandingkan daerah asal.

Menurut Lee (1966), Todaro (1979) dan Titus (1982) bahwa motivasi utama seseorang untuk pindah adalah motif ekonomi, yakni karena adanya ketimpangan ekonomi antara berbagai daerah. Todaro menyebut motif utama tersebut sebagai pertimbangan ekonomi yang rasional, dimana mobilitas ke kota mempunyai dua harapan, yaitu untuk memperoleh pekerjaan dan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari yang diperoleh di desa.

Selain faktor ekonomi, arah pergerakan penduduk juga ditentukan faktor lain, seperti jarak, biaya dan informasi yang diperoleh. Kota atau daerah tujuan yang berjarak jauh dengan desa asal cenderung menghasilkan mobilitas permanen, yang berjarak sedang menghasilkan mobilitas sirkuler, dan yang berjarak dekat dilakukan secara ulang alik (commuting).

Selanjutnya menurut Lee (1966) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk migrasi berbeda-beda dan kompleks, antara lain: (1) faktor-faktor sosial, termasuk keinginan migran melepaskan diri dari batas-batas tradisional yang berupa struktur sosial desa yang menghambat; (2) faktor-faktor fisik, termasuk bencana iklim dan meteorologis seperti banjir, kekeringan, dan kelaparan yang memaksa orang-orang untuk mencari lingkungan hidup alternatif; (3) faktor-faktor demografis, termasuk penurunan angka kematian, dan dalam waktu bersamaan angka pertumbuhan penduduk desa yang tinggi yang mengarah pada naiknya kepadatan penduduk desa secara cepat; (4) faktor-faktor budaya, termasuk adanya hubungan keluarga luas di kota yang menyediakan jaminan finansial awal bagi migran baru, dan daya tarik seperti apa yang biasa disebut cahaya kota yang gemerlapan dan (5) faktor-faktor komunikasi, yang merupakan akibat peningkatan transportasi, sistem pendidikan yang berwawasan kota, dan pengaruh modernisasi media massa.

Penelitian tentang alasan utama melakukan migrasi pernah juga dilakukan oleh Mantra (1992) di tiga kota, yaitu kota Yogyakarta (431 miggran), Bandung (400 migran) dan kota Samarinda (401 migran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan ekonomi sangat dominan oleh mereka yang melakukan migrasi. Migrasi dengan alasan ekonomi di Yogyakarta sebesar 79,9 persen, Bandung 71,7 persen dan di Samarinda sebesar 66,1 persen.

Selanjutnya jika dilihat dari status dan pola mobilitasnya terdapat beberapa penggolongan migran. Status mobilitas menurut Standing (1991) dibedakan atas dua kategori yaitu migran sementara dan migran jangka panjang.

1. Migran sementara

Adalah mereka yang berpindah tempat kegiatannya tetapi tetap tempat tinggalnya yang ‘biasa’. Pengertian biasa dalam konsep ini adalah tempat tinggal yang menurut migran adalah tempat tinggalnya yang sebenarnya, yang tetap. Dalam kategori ini terdapat tiga sub kategori yaitu (a). Migran sirkuler : adalah suatu perpindahan yang dilakukan untuk jangka waktu pendek dengan tujuan kembali ke tempat tinggal biasa. Migran ini akan kembali bekerja di daerah asal, jika tidak terdapat lagi kemungkinan adanya pekerjaan musiman di daerah lain tersebut. (b). Migran tahap daur hidup (life cycle stage migrant) adalah mereka yang berpindah kegiatannya tetapi tetap tempat tinggalnya. Dalam sub-kategori ini lebih menekankan kepada adat/tradisi/kebiasaan di suatu daerah yang mengharuskan penduduknya untuk meninggalkan desanya dalam suatu tahap daur hidupnya. (c). Pelaju (Commuter), yaitu mereka yang bepergian untuk melakukan kegiatan khusus, biasanya kegiatan ekonomi, namun tempat tinggalnya tetap di daerah asal.

2. Migran jangka panjang

Adalah mereka yang ketika berpindah berubah tempat tinggalnya yang biasa dan tempat kegiatannya untuk jangka waktu lama. Dalam kategori ini terdapat dua sub kategori utama yaitu migran kehidupan kerja dan migran sepanjang hidup yaitu (a). Migran kehidupan kerja (working-life migrants), dimana mereka meninggalkan wilayah untuk menghabiskan kehidupan kerja, namun tetap mempunyai hubungan dengan kampungnya, misalnya sebidang tanah atau suatu bagian dalam suatu usaha pertanian, bisnis, sekedar jaringan keturunan atau teman. Migran ini bermaksud kembali, namun jelas telah beralih dari tempat tinggalnya yang ‘biasa’. (b). Migran sepanjang hidup, dimana mereka meninggalkan daerah asal dan memutuskan semua hubungan dengan daerah asalnya atau tidak berkeinginan kembali ke daerah asal.

Dalam konteks kaitan ekonomi migran ke daerah asal, Connel (1974), mengemukakan hubungan migran dengan daerah asal dinegara-negara berkembang dikenal sangat erat. Penelitian yang dilakukan oleh Mantra (1992) di Yogyakarta, Bandung dan Samarinda menemukan banyak migran yang mengirimkan uangnya ke desa (remiten). Persentase migran yang memberi remiten secara teratur kepada keluarga batih di Yogyakarta lebih besar dari pada di Bandung dan Samarinda. Kalau remiten dapat dipandang sebagai indikator keeratan hubungan antara migran dengan masyarakat, maka berarti migran di Yogyakarta mempunyai keeratan hubungan yang paling tinggi, kemudian diikuti Bandung dan terakhir Samarinda.

III. METODE PENELITIAN

Populasi dalam penelitian ini adalah migran etnis Batak di Propinsi Jambi. Penentuan sampel dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah pemilihan salah satu daerah kabupaten/kota sebagai lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk lebih mengarahkan penelitian, disebabkan luasnya wilayah Propinsi Jambi. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive (secara disengaja). Dari sepuluh kabupaten/kota di Propinsi Jambi, ditetapkan Kota Jambi sebagai daerah sampel penelitian. Dasar pertimbangan pemilihan ini karena Kota Jambi sebagai ibu kota Propinsi Jambi sekaligus merupakan pusat berbagai akitivas ekonomi,sosial dan budaya. Oleh karenanya juga akan memiliki migran etnis Batak yang lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Propinsi Jambi.

Tahap kedua adalah adalah penentuan sampel migran etnis Batak. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan metode “snowball sampling” dengan “multiple entry”. Ditetapkan “entry” sebanyak 5 orang responden, selanjutnya dari responden yang dijadikan entry ini ditentukan responden yang lain dengan cara menanyakan kepada responden tersebut migran etnis Batak lainnya yang dikenal. Jumlah sampel diambil sebanyak 50 orang

Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan berpedoman pada kuestioner terhadap migran etnis Batak yang terambil sebagai sampel. Data sekunder berupa data yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik serta data lain yang mendukung penelitian ini. Data ini dikumpulkan dengan cara mencatat data relevan yang ada pada masing-masing instansi tersebut. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis dengan alat analisis utama adalah tabel-tabel frekuensi.

IV. TEMUAN PENELITIAN

4.1. Karakteristik Migran Etnis Batak di Jambi

Dari hasil penelitian ditemukan rata-rata umur migran adalah 44,5 tahun. Sesuai dengan rata-rata umur migran, seluruh migran yang diteliti adalah mereka yang berstatus kawin dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 5,4 jiwa. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata anggota rumah tangga di Jambi yang sebanyak 4,01.

Dari sisi pendidikan dapat dikemukakan bahwa pendidikan pendidikan formal migran etnis Batak ini sudah relatif tinggi. Hanya 32,00 persen migran yang berpendidikan SLTP ke bawah, sedangkan sebagian besar lainnya 68,00 persen berpendidikan tamat SLTA dan akademi/perguruan tinggi.

Pekerjaan yang ditekuni migran etnis Batak di Jambi juga relatif beragam, dengan pekerjaan utama yang ditekuni adalah wiraswasta (40,00 persen). Selain itu juga terdapat migran dengan proporsi pekerjaan yang cukup besar yaitu sebagai karyawan swasta (22,00 persen) dan pegawai negeri sipil (18,00 persen).

4.2. Faktor Pendorong dan Penarik Migran Etnis Batak ke Jambi

Berdasarkan alasan melakukan migrasi dapat dikemukakan bahwa factor ekonomi dan factor sosial/kejiwaan memiliki peran yang hampir sama pentingnya bagi migran etnis Batak sebagai factor pendorong untuk melakukan perpindahan. Dari sisi factor ekonomi 56,00 persen menyatakan melakukan perpindahan karena tidak adanya peluang kerja dan berusaha di daerah asal. Sebaliknya dari sisi factor sosial/kejiwaan, 44,00 persen menyatakan melakukan perpindahan dengan alasan untuk mencari pengalaman, ikut keluarga dan lainnya.

Sebelum memutuskan pindah ke Jambi, sebagian besar (82,00 persen) migran sudah mendapatkan informasi tentang keadaan Jambi dan hanya 18,00 persen yang sama sekali belum mendapatkan informasi. Umumnya (50,00 persen) migran mendapatkan informasi tentang keberadaan Jambi sebagai daerah tujuan migran berasal dari keluarga dan sebagian lainnya (32, 00 persen) berasal dari kawan.

Kuatnya pengaruh keluarga dalam keputusan migran etnis Batak juga terlihat dari kenyataan bahwa sebagian besar migran (46,00 persen) menyatakan bahwa pihak yang pertama kali ditempati di Jambi adalah keluarga mereka sendiri. Namun demikian, dari hasil penelitian terdapat fakta yang juga cukup menarik. Hampir sepertiga (30,00 persen) menyatakan tidak memiliki pihak yang pasti untuk ditempati ketika pertama kali datang ke Jambi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa selain pengaruh keluarga, tingkat kemandirian yang cukup tinggi dari migran etnis Batak juga menjadi salah satu factor yang mendorong mereka untuk melakukan migrasi.

4.3. Status Mobilitas Migran Etnis Batak di Jambi

Dilihat dari riwayat migrasi dari migran etnis Batak di Jambi, dapat dikemukakan bahwa 40,00 persen (20 orang) dari migran pernah melakukan migrasi ke daerah lain sebelum ke Jambi. Sebaliknya 60,00 persen (30 orang) adalah migran yang langsung melakukan perpindahan dari daerah asal ke Jambi.

Selanjutnya, jika dilihat dari tahun migrasinya di Jambi, rata-rata migran telah menetap cukup lama di Jambi yaitu 19,3 tahun. Dikaitkan dengan rata-rata umur, terlihat bahwa secara rata-rata migran melakukan perpindahan ke Jambi berkisar pada umur 25- 26 tahun.

Relatif lamanya migran etnis Batak di Jambi menunjukkan bahwa status mobilitas migran etnis Batak di Jambi termasuk pada status migran jangka panjang (permanen). Selanjutnya, jika dilihat dari keinginan untuk kembali ke daerah asal, hanya 6,00 persen dari migran etnis Batak yang dapat dikelompokkan sebagai migran kehidupan kerja (working-life migrants), yaitu mereka yang memiliki keinginan kembali ke daerah asal setelah menghabiskan kehidupan kerja di daerah tujuan. Sedangkan, bagian terbesar (94,00 persen) dari migran etnis Batak adalah mereka yang termasuk dalam kelompok migran sepanjang hidup, yaitu migran yang tidak memiliki keinginan kembali ke daerah asal.

4.4. Keterkaitan Sosial dan Ekonomi Migran Etnis Batak ke Daerah Asal

Fakta relatif besarnya proporsi migran permanen etnis Batak selain menunjukkan potensi Jambi dalam memberikan peluang kesejahteraan migran yang lebih baik, juga disebabkan atau menunjukkan rendahnya keterikatan sosial dan emosional migran etnis Batak pada daerah asalnya. Hal ini terlihat dari frekuensi pulang kampung serta intensitas komunikasi migran dengan daerah asalnya.

Rata-rata kepulangan ke daerah asal migran etnis Batak selama 5 tahun terakhir hanya 2 kali. Artinya, secara rata-rata migran pulang ke daerah asal hanya sekali dalam dua tahun. Selain itu, terdapat 16,00 persen yang sama sekali belum pernah pulang ke daerah asal dalam 5 tahun terakhir.

Intensitas komunikasi migran etnis Batak juga relatif rendah. Berdasarkan kondisi di daerah asal dapat dikemukakan bahwa seluruh daerah sudah memiliki layanan pos, 74,00 persen memiliki layanan telepon tetap dan 44 persen memiliki layanan telepon seluler. Namun demikian, 84,00 persen menyatakan tidak pernah berkirim surat dalam tiga bulan terakhir. Dari total migran dengan daerah asal yang memiliki jaringan telepon tetap, 45,95 persen menyatakan tidak pernah berkomunikasi melalui telepon selama tiga bulan terakhir. Dari total migran dengan daerah asal yang memiliki jaringan telepon seluler, 59,09 persen menyatakan tidak pernah mengirimkan kabar melalui fasilitas SMS (short messages services) ke daerah asal selama tiga bulan terakhir.

Keterkaitan migran ke daerah asal juga dapat dilihat dari keterkaitan ekonomi. Dapat dikemukakan bahwa selama setahun terakhir, secara rata-rata remitan yang dikirimkan migran ke daerah asalnya mencapai Rp 41.667 perorangnya. Jumlah ini relatif kecil mengingat rata-rata pendapatan sebesar Rp. 1.212.500 perbulan atau Rp 14.550.000 pertahun, yang berarti hanya 0,29 persen dari penghasilannya.

Remitan yang dikirimkan migran memiliki berbagai tujuan penggunaan di daerah asalnya. Penelitian menemukan terdapat empat tujuan utama pemberian remitan, yaitu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga di daerah asal (baik yang dikirimkan secara rutin maupun tidak rutin), untuk kepentingan perayaan keluarga seperti pesta perkawinan, untuk investasi (dalam penelitian ini terutama untuk pembelian/pembangunan rumah serta pembelian lahan tani), serta untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti bantuan pembangunan tempat ibadah di daerah asal.

Remitan yang ditujukan secara langsung untuk kepentingan keluarga (untuk kebutuhan sehari-hari dan perayaan keluarga), tidak hanya diberikan pada salah seorang keluarga saja. Penerima remitan dapat terdiri dari isteri, anak, orang tua/mertua, adik/kakak, paman/kakek, maupun anggota keluarga lainnya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  1. Faktor ekonomi dan factor sosial/kejiwaan memiliki peran yang hampir berimbang dalam mendorong migran etnis Batak melakukan keputusan migrasi ke Jambi. Proporsi yang menyatakan alasan bermigrasi karena factor ekonomi sebesar 56,00 persen sedangkan alasan sosial/kejiwaan sebesar 44,00 persen.

    2. Sebagian besar (94,00 persen) migran asal Pulau Jawa di Jambi adalah migran permanen (jangka panjang) dalam sub-kategori migran sepanjang hidup, sedangkan 6,00 persen lainnya merupakan migran permanen dalam sub-kategori migran kehidupan kerja. Relatif besarnya proporsi migran sepanjang hidup terutama disebabkan karakteristik migran etnis Batak yang secara umum memiliki keterkaitan yang rendah dengan daerah asal, baik secara emosional, sosial dan ekonomi.

    3. Rendahnya keterkaitan ekonomi ke daerah asal, terlihat dari alokasi remitan yang hanya 0,29 persen dari total pendapatannya. Rendahnya keterkaitan sosial/kejiwaan ke daerah asal terlihat dari intensitas komunikasi dan frekuensi pulang ke daerah asalnya.

5.2. Saran-Saran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa migrasi ternyata mampu meningkatkan pendapatan migran, dan di sisi lain daerah tujuan juga diuntungkan karena migran masuk dapat menjadi modal sumberdaya manusia penggerak pembangunan di daerah. Meskipun demikian, di era otonomi daerah yang sering menimbulkan ego kedaerahan, perlu dirumuskan kebijakan yang mengantisipasi dampak negatif dari ego kedaerahan yang dapat memicu konflik antar suku/ras di daerah tujuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

BPS, 1994. Buku Saku Statistik Jambi.

BPS, 1994, Tren Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi, Jakarta, Bastela Indah Prinindo.

Connell, J, et al. 1975. Migration from rural areas: the evidence from village studies. Brighton: Institute of Development Studies, University of Sussex.

Lee. E.S., 1992. Teori Migrasi, Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada

Lee, Everett. S. 1966. “A Theory of Migration”, Demography, 3: 47-57.

Mantra I.B., 1992. Mobilitas Penduduk Sirkuler Dari Desa ke Kota di Indonesia, Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Titus, Milan J. 1982, Migrasi Antar Daerah di Indonesia, Yogyakarta, Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan, UGM (Seri terjemahan no.12).

Todaro, M.P, 1979. Economic for a developing world introduction to a principles, problem, and policies. Hongkong, Longman.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Pak saya minta hasil penelitian mengenai masuk nya orang batak ke daerah jambi, pada tahun berapa mulai imigrasi nya …
    saya harap bapa bisa membantu saya dalam penelitian sebagai skripsi saya pak..
    terimakasih

  2. bapak, bisa saya minta contoh kuisionernya??
    saya sedang meneliti perpindahan suatu etnis ke Bali
    terima kasih

  3. Makalahnya bagus pak, saya sangat setuju, memang migrasi akan berdampak lebih besar di daerah tujuan dari pada daerah asal.

    Memang penelitian-penelitian yang ada umumnya melihat dampak di daerah tujuan. Jarang yang melakukan penelitian dampaknya terhadap daerah asal, sehingga kita kekurangan informasi untuk itu. Barangkali mbak Rika tertarik untuk menelitinya ? Ini akan sangat bermanfaat untuk pengetahuan kita mengenai migrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: