Ketimpangan Gender dlm Pembangunan SDM di Prop.Jambi*


Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi dan karakteristik ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi (2) menganalisis faktor penyebab ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi,

Lingkup wilayah analisis adalah Propinsi Jambi dengan periode analisis Tahun 1999-2002. Data penelitian utama bersumber dari “Indonesia Human Development Report” Tahun 2001 dan 2004. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk menganalisis kondisi dan karakteristik ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi. Fokus analisis dalam hal ini adalah kondisi dan perkembangan IPM, IPG, dan IKG selama periode tahun 1999-2002, dengan membandingkan antara Propinsi Jambi dengan propinsi lainnya di Indonesia serta membandingkan antara kabupaten/kota dalam Propinsi Jambi (khusus tahun 2002). Untuk menganalisis faktor penyebab ketimpangan gender juga akan dianalisis secara deskriptif dengan melihat perkembangan komponen-komponen penyusun IPM, IPG dan IKG selama periode tahun 1999-2002, dengan membandingkan antara Propinsi Jambi dengan propinsi lainnya di Indonesia, membandingkan antara kabupaten/kota dalam Propinsi Jambi, serta membandingkan antara kabupaten/kota di Propinsi Jambi (khusus tahun 2002). Penggunaan analisis statistik sederhana (seperti koefisien variasi) akan dimanfaatkan dalam menganalisis komponen-komponen penyebab ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi sudah relatif baik dibandingkan propinsi-propinsi lainnya di Indonesia. Pada Tahun 2002 nilai IPM Propinsi Jambi adalah sebesar 67,1 dan termasuk dalam kategori menengah tinggi (meskipun masih berada pada lapisan bawah dalam kategori ini). Selanjutnya jika dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia, posisi Propinsi Jambi relatif baik yaitu berada pada posisi kesepuluh dari tiga puluh propinsi di Indonesia. Pada kategori menengah tinggi ini pencapaian pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi masih lebih tinggi dibandingkan Propinsi Banten, Maluku, Jawa Tengah, Bengkulu, Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Selatan. Namun demikian, masih lebih rendah jika dibandingkan dengan Propinsi DKI Jakarta, Sulawesi Utara, DI. Yogyakarta, Kalimantan Timur, Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Bali.

Perkembangan selama tahun 1999-2002 menunjukkan hampir seluruh propinsi di Indonesia telah menunjukkan peningkatan nilai IPM (kecuali Nusa Tenggara Timur dan Maluku). Untuk Propinsi Jambi, pada periode tersebut, terjadi peningkatan sebesar 1,7 poin (0,57 poin pertahun), dari 65,4 menjadi 67,1. Dari pengukuran “shortfall value” terjadi peningkatan 1,73 persen pertahun dibandingkan kondisi optimum (nilai IPM 100). Fakta yang menggembirakan juga, ternyata peningkatan “shortfall value” Propinsi Jambi relatif lebih tinggi dibandingkan peningkatan pada tingkat nasional, yang sebesar 1,60 persen pertahun. Beberapa propinsi yang juga mengalami peningkatan relatif tinggi ini adalah Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, DI. Yogyakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bali dan Sumatera Barat.

Peningkatan nilai IPM yang cukup pesat ini menyebabkan peringkat Propinsi Jambi kembali mengalami peningkatan. Jika sebelumnya (pada Tahun 1999) berada pada peringkat 11, maka pada Tahun 2002 menempati peringkat 10 dari tiga puluh propinsi yang ada.

Namun demikian, jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota di Propinsi Jambi, kondisi ini ternyata tidak menyebar secara merata. Terdapat daerah dengan kualitas sumberdaya manusia yang masih sangat rendah, tetapi juga terdapat daerah dengan kualitas sumberdaya manusia yang sudah relatif tinggi.

Selain itu, jika dibedakan antara laki-laki dan perempuan melalui pengukuran Indeks Pembangunan Gender (IPG), kondisi Propinsi Jambi ternyata belum menunjukkan keadaan yang memuaskan. Pada tahun 2002 nilai IPGnya adalah sebesar 53,3 persen. Nilai ini termasuk kategori rendah terutama jika dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia, yaitu berada pada posisi ke 27 dari 30 propinsi (hanya lebih tinggi dibandingkan Propinsi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat dan Bangka Belitung). IPG Propinsi Jambi bahkan mengalami penurunan dibandingkan tahun 1999 yang sebesar 54,6 dengan posisi ke 18 dari 26 propinsi.

Selain rendahnya pencapaian IPG, jika dibandingkan dengan pencapaian IPM, nilai gap Propinsi Jambi juga relatif tinggi. Pada tahun 1999 angkanya sebesar 10,8 persen dan berada pada peringkat ke 21 gap tertinggi dari 26 propinsi yang ada. Selanjutnya, sejalan dengan penurunan nilai IPG, pada tahun 2002, nilai gap Propinsi Jambi juga mengalami peningkatan menjadi 13.8 Dari sisi peringkat, pada tahun ini berada pada peringkat ke 28 gap tertinggi dari 30 propinsi yang ada. Posisi ini hanya berada di atas Propinsi Kalimantan Timur dan Bangka Belitung.

Berdasarkan komponen-komponen pembentuknya dapat dikemukakan bahwa faktor utama penyebab rendahnya IPG Propinsi Jambi adalah rendahnya kontribusi perempuan terhadap total pendapatan. Pada tahun 1999, kontribusi wanita terhadap pendapatan hanya 24,9 persen dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 75,1 persen. Dari sisi nilai indeks komponen ini, Propinsi Jambi berada pada peringkat ke 22 terendah dari 26 propinsi yang ada. Pada tahun 2002, kontribusi perempuan bahkan mengalami penurunan menjadi 21,9 persen, sedangkan laki-laki mengalami peningkatan menjadi 78,1 persen. Hal ini menyebabkan turunnya indeks komponen ini serta peringkat Propinsi Jambi menjadi peringkat ke 28 dari 30 propinsi (lihat lampiran 8 sampai 11)

Sebagaimana halnya dengan nilai IPM, juga terlihat adanya variasi kondisi pencapaian IPG antar daerah yang cukup tinggi. Kabupaten Muaro Jambi dengan IPG tertinggi telah mampu mencapai posisi ke 149 tertinggi dari 341 kabupaten/kota di Indonesia. Hal ini berarti sudah berada pada posisi separuh kabupaten/kota di Indonesia dengan IPG tinggi. Sebaliknya, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan nilai IPG terendah hanya mampu berada pada posisi ke 322. Dengan kata lain, hanya terdapat 19 kabupaten/kota lainnya di Indonesia dengan nilai yang lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Fakta variasi yang tinggi dalam pencapaian pembangunan gender antar daerah di Propinsi Jambi ini juga terlihat nyata jika dilihat dalam konteks gap IPM-IPG. Terdapat daerah (Kabupaten Muaro Jambi) dengan gap yang hanya 9,2 persen, tetapi juga terdapat daerah (Kabupaten Tanjung Jabung Timur) dengan gap yang mencapai 22,1 persen, atau lebih satu setengah kali dibandingkan gap rata-rata Propinsi Jambi. Variasi gap yang tinggi menunjukkan belum adanya kesamaan persepsi antar daerah di Propinsi Jambi dalam memahami dan memaknai pelaksanaan pembangunan berwawasan gender

Dalam konteks IKG, pada tahun 1999 nilai IKG Propinsi Jambi adalah sebesar 46,8 persen dan tetap bertahan pada angka yang sama pada tahun 2002. Nilai ini relatif rendah terutama jika dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia. Pada tahun 1999 berada pada peringkat ke 17 dan pada tahun 2002 mengalami penurunan menjadi peringkat ke 21. (lihat lampiran 12)

Fakta ini memberikan arti bahwa proses marginalisasi perempuan di Propinsi Jambi ternyata tidak hanya terlihat dari sisi pembangunan sumberdaya manusia perempuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki (yang tercermin dari nilai IPG), tetapi juga dari sisi kesempatan perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, politik dan pengambilan keputusan (yang tercermin dari nilai IKG).

Pada penelitian ini disarankan kepada pemerintah untuk merumuskan kebijakan dalam peningkatan pengarus-utamaan gender dalam masyarakat baik melalui sosialisasi, penyuluhan maupun pembinaan kelembagaan masyarakat peduli gender.

* Ringkasan Penelitian: Junaidi, Hardiani, Tona Aurora Lubis, 2005

 


2 Tanggapan

  1. assalamualaikum pak jun…saya tertarik dengan penelitian ini…apakah saya boleh membaca versi lengkapnya?terimakasih

  2. Butuh perhatian yang lebih tuh…
    Jangan sampai masalh Gender masih terus menjadi permasalahan di negara ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: