Renungan Gempa Sumbar dan Kerinci


Musibah kembali melanda bangsa kita. Setelah Tsunami Aceh, Gempa Yogya, Gempa Tasikmalaya, sekarang Gempa Sumbar dan Kerinci.

Ribuan terluka parah, ratusan nyawa menjadi korban dalam musibah kali ini, dan masih banyak lagi yang belum diketahui nasibnya, apakah sudah meninggal atau masih hidup, tertimbun tanah dan bangunan atau hilang tanpa dapat dihubungi.

Puluhan ribu rumah hancur, ratusan ribu keluarga mengalami trauma, dan ratusan ribu perantau mengalami kepanikan luar biasa karena tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga di kampung (terutama pada hari pertama dan kedua setelah gempa).

Ditengah huru-hara musibah ini, berbagai komentar baik secara lisan maupun tertulis (di media cetak, elektronik maupun di internet) bersiliweran mengkaitkan musibah gempa ini sebagai bagian dari hukuman Tuhan terhadap umatnya.  Diantara komentar tersebut adalah:

  • “Tuhan menyuruh bangunan rumah untuk bersujud, karena penghuni rumahnya tidak mau bersujud”, ini  dikotbahkan oleh khotib pada saat shalat Jum’at (hari ketiga setelah Gempa), bahkan di salah satu mesjid di desa yang terkena gempa.
  • Gempa Sumbar terjadi hari Rabu pukul 17.16. Ini kemudian dikaitkan dengan Surat 17 ayat 16 dalam Al Qur’an yang artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.  Komentar ini banyak bermunculan di internet dalam berbagai medianya”.
  • “Di Kota Padang sudah banyak terjadi kemaksiatan, tidak seperti dulu lagi. Maka Tuhan memberikan hukuman/peringatan dalam bentuk gempa”. Ini banyak muncul dalam pernyataan lisan sehari-hari dalam masyarakat kita.
  • Dan banyak lagi komentar senada yang muncul.

Subhanallah. Begitu tidak berperasaannya kita. Ketika masih belum kering air mata banyak orang  menangisi keluarganya yang meninggal. Ketika masih banyak orang tua yang menunggu di reruntuhan bangunan dan berharap agar anaknya yang tertimbun tidak terhunjam oleh mata kait alat berat yang mengangkat runtuhan bangunan tersebut. Ketika kepanikan dan trauma masih melanda sebagian besar masyarakat Sumbar dan Kerinci, sehingga tidak berani tidur di dalam rumah, dan terpaksa tidur menahan dingin malam dengan tenda seadanya.  Begitu teganya kita mencap hal tersebut sebagai akibat mereka tidak bersujud kepada Allah, sebagai akibat mereka melakukan kedurhakaan dan sebagai akibat kemaksiatan yang terjadi.

Saudara-saudaraku. Kalaupun itu benar adanya, bersediakah Anda menahan diri untuk tidak mengungkapkan komentar-komentar tersebut? Karena akan sangat sakit terasa bagi mereka yang menjadi korban.

Saudara-saudaraku. Alangkah baiknya jika yang kita lakukan saat ini adalah berdoa bersama-sama. Demi kesembuhan bagi mereka menderita sakit. Demi kelapangan bagi mereka yang telah mendahului kita. Demi ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Demi tidak ada lagi musibah-musibah yang menyesakkan dada ini.

Saudara-saudaraku. Alangkah baiknya, jika kita punya waktu, untuk berkunjung ke lokasi gempa. Mencoba menguatkan hati dan memberikan kesabaran pada mereka yang menjadi korban gempa.

Insya Allah, ini lebih bermanfaat bagi mereka dan tidak terasa menyakitkan.

Satu Tanggapan

  1. lebih baik tulisan mengajak untuk sholat ghoib dan taubat nasional … saya belum menemukan tulisan itu ….

    silahkan ke blog saya Richocean
    atau blog saya lainnya Richmountain

    salam …

    Setuju mas. Yang penting tidak menghujat korban gempa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: