Iklan

Contoh Aplikasi VECM


Tulisan ini adalah contoh aplikasi salah satu model regresi yaitu model VECM (Vector Error-Correction Model). Tulisan inidiresume dari: Kollias,C dan Paleologou SM.2006. “Fiscal Policy in the European Union. Tax and spend,spen and tax, fiscal synchronisation or institutional separation?” Journal of Economic Studies. Vol.33 No. 2; 2006

Isu ketidakseimbangan anggaran adalah salah satu tema sentral kebijakan ekonomi di banyak negara dan telah menjadi ukuran konvergensi utama dari perjanjian Maastricht (Maastricth Treaty). Memperbaiki ketidakseimbangan fiskal dan mempertahankan target defisit anggaran merupakan prasyarat untuk ikut dalam tahap akhir EMU (Economic and Monetary Union) di Eropa. Sementara itu, dalam perjanjian SGP (Stability and Growth Pact), negara-negara anggota eurozone berkomitmen untuk mencapai tujuan jangka menengah yaitu ke posisi surplus anggaran atau paling tidak mendekati keseimbangan.
Dalam konteks tersebut, studi ini bertujuan untuk meneliti hubungan jangka panjang antara penerimaan pajak dan pengeluaran pada 15 anggota Uni Eropa (EU15), yaitu Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Itali, Luksemburg, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia dan Inggris. Negara-negara tersebut menunjukkan kinerja fiskal yang cukup bervariasi, dengan berbagai sistem pajak, dan dengan berbagai perbedaan tujuan redistribusi. Selain itu, 12 dari 15 negara tersebut juga ikut dalam perjanjian SGP.
Penelitian ini mengajukan dua hipotesis alternatif hubungan pengeluaran pemerintah dan penerimaan pajak, yaitu keduanya saling berhubungan atau tidak berhubungan. Dalam konteks saling berhubungan, penelitian ini merumuskan tiga hipotesis lanjutan yaitu: pengeluaran dan pajak, pajak dan pengeluaran, serta sinkronisasi fiskal. Hipotesis pajak dan pengeluaran menunjukkan bahwa perubahan dalam penerimaan pajak mengakibatkan perubahan dalam pengeluaran, yang berarti hubungan satu arah dari penerimaan ke pengeluaran pemerintah. Hipotesis pengeluaran dan pajak menunjukkan keputusan pengeluaran mendahului perubahan pajak, yang berarti hubungan satu arah dari pengeluaran pemerintah ke pendapatan. Hipotesis sinkronisasi fiskal menunjukkan keputusan pemerintah antara penerimaan pajak dan pengeluaran dilakukan secara simultan. Ini berarti adanya hubungan dua arah antara dua variabel. Selanjutnya, hipotesis tidak adanya hubungan mengacu ke hipotesis pemisahan kelembagaan. Ini berarti tidak ada hubungan antara keputusan penerimaan dan pengeluaran.
Variabel yang digunakan adalah total pengeluaran dan penerimaan pemerintah, ditambah dengan GDP sebagai variabel kontrol, dengan periode pengamatan adalah 1960-2002, kecuali untuk Luksemburg dan Portugal yang masing-masingnya dimulai dari 1973 dan 1970, dan Spanyol yang dimulai dari 1962. Semua variabel dalam harga berlaku, dan sebelum diestimasi terlebih dahulu ditransformasi secara logaritma. Dalam kasus GDP (y), karena terdapat masalah stasioner untuk ke 15 negara anggota Uni Eropa, di detrend melalui Hodrick-Prescott filter menggunakan parameter lambda (γ) sebagai koefisien smoothing.

λ adalah non-negatif scaler (yakni suatu vektor dengan semua elemen sama dengan λ ≥ 0).
Penelitian ini menggunakan uji standar Augmented Dickey-Fuller (ADF) dan Phillips-Perron (PP) dengan memasukkan konstanta tanpa trend untuk menguji sifat data time seriesnya. Hasil pengujian ADF dan PP pada Tabel 1, menunjukkan bahwa penerimaan pajak (lr), pengeluaran pemerintah (le) dan PDB (ly) adalah I(1).
Selanjutnya berdasarkan uji kointegrasi menggunakan Johansen’s full information maximum likelihood (JML), didapatkan bahwa variabel yang diteliti terkointegrasi dan statistik trace Johansen mengkonfirmasikan bahwa terdapat suatu hubungan kointegrasi antara variabel pada kelimabelas negara angggota uni Eropa.(lihat tabel 2).
Model untuk menguji kausalitas pada masing-masing negara dinyatakan sebagai model koreksi kesalahan (ECM) dan diberikan dalam persamaan (2) dan (3)

dimana SPEit = pengeluaran pemerintah, REVit = penerimaan pemerintah, GDP sebagai variabel kontrol dan cit adalah konstanta. γiZt-1 mengandung γ term kointegrasi, menunjukkan keberadaan hubungan keseimbangan jangka panjang antar variabel. εit adalah error term. Uji kausalitas Granger didasarkan pada apakah koefisien ΔREVt-1, ΔSPEt-1 atau ΔGDPt-1 secara statistik berbeda dari 0 berdasarkan uji F dan koefisien dari ECM juga signifikan
Klik  disini untuk melihat Tabel 1 & 2. Uji Akar Unit dan Uji Kointegrasi
Karena variabel yang diteliti memiliki vektor kointegrasi, selanjutnya dilakukan uji kausalitas dengan menggunakan penyelidikan Engle dan Granger (1987). Penentuan panjang lag untuk uji kausalitas Granger menggunakan urutan prosedur Hsiao (1979a,b, 1981). Prosedur ini didasarkan pada definisi kausalitas Granger definisi dan kriteria minimum final prediction error (FPE) Akaike’s (1974). Dalam Tabel 3 terlihat adanya hubungan sistematis antara penerimaan pemerintah, pengeluaran pemerintah dan GDP.
Berdasarkan hasil penelitian ini (diringkas dalam tabel 3), perbedaan signifikan dalam proses pengambilan keputusan anggaran terjadi baik di seluruh grup maupun pada sub-group zona Eropa tanpa pola tertentu. Hipotesis sinkronisasi fiskal terlihat dalam kasus Denmark, Yunani, Irlandia, Belanda, Portugal dan Swedia. Hipotesis Buchanan-Wagner (yaitu kausalitas satu arah dari penerimaan ke pengeluaran dengan dampak negatif dari penerimaan terhadap pengeluaran – yang menunjukkan bahwa kenaikan penerimaan akan mengakibatkan penurunan pengeluaran melalui ilusi fiskal), terlihat di Finlandia, Perancis dan Inggris. Bukti kausalitas satu arah dari pengeluaran ke pendapatan juga ditemukan dalam kasus Luksemburg tetapi dampaknya positif, sehingga dalam kasus ini tidak mendukung hipotesa Buchanan-Wagner. Hipotesis pajak dan pengeluaran terlihat di Italia dan Spanyol. Terakhir, hipotesa pemisahan kelembagaan terlihat dalam kasus Austria, Belgia dan Jerman.
Klik disini untuk melihat Tabel 3. Uji Kausalitas Granger

Iklan

3 Tanggapan

  1. pak, mau tanya, kalo menganalisis data dengan VAR dan saya maunya tidak usah menguji ada tidaknya kointegrasi supaya tidak dilanjutkan ke VECM, kalo seperti itu boleh tidak ya?
    terima kasih…

  2. pak,,mo tanya ni… apa kelebihan VECM dibandingkan granger dan VAR dalam menentukan kausalitas.. terimakasih

  3. pak dhe ,,,,saya masih bingung mengenai ECM, mohon bantuannya?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: