Kerangka Kerja Diagnostik Pertumbuhan HRV


Gagasan untuk menemukan suatu kebijakan pembangunan ekonomi “yang tepat/layak untuk semuanya”, pada saat ini sudah dianggap sebagai mitos. Negara-negara yang berbeda menghadapi kendala yang berbeda dalam mencapai tingkat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang lebih cepat. Oleh karenanya, misi utama dari ahli ekonomi pembangunan adalah membantu menentukan sifat dari kendala-kendala tersebut pada masing-masing negara.
Ricardo Hausmann, Dani Rodrik, dan Andreas Velasco (HRV) mengusulkan suatu kerangka kerja dalam bentuk pohon keputusan (decision tree) untuk mendiagnosa pertumbuhan dalam rangka mengatasi kendala-kendala yang sebagian besar dialami negara-negara dalam pertumbuhan ekonominya. Dalam kerangka kerjanya, HRV memberikan tahapan yang harus dilakukan dalam kasus umum dimana negara-negara berkembang mengalami suatu tingkat investasi swasta dan enterpreneurship yang relatif rendah, seperti terlihat pada gambar berikut:

Tahap pertama, analisisnya membagi negara-negara dengan masalah utama rendahnya tingkat pengembalian (low return of economic activity) dan yang memiliki masalah biaya modal tinggi (high cost of finance).
Pengembalian yang rendah untuk investor mengacu pada fakta bahwa secara intrinsik terdapat pengembalian sosial yang rendah (low social return) untuk aktivitas ekonomi. Selain itu, pengembalian yang rendah mungkin juga disebabkan oleh apa yang dinamakan dengan “low appropriability”, yang berarti keterbatasan kemampuan investor untuk memperoleh hasil yang memadai dari investasinya.
Selanjutnya, pengembalian sosial yang rendah mungkin disebabkan oleh salah satu dari tiga faktor berikut. Pertama, faktor geografi yang miskin (poor geography) seperti hama daerah tropis, pegunungan dan hambatan fisik lainnya, jarak ke pasar dunia, dan status tanpa akses ke laut. Faktor-faktor tersebut akan membatasi kemampuan negara-negara dengan pendapatan rendah untuk memulai dan mempertahankan pembangunan ekonomi. Oleh karenanya, ketika kendala-kendala ini lebih menonjol, kebijakan pembangunan mula-mula harus menfokuskan pada strategi untuk mengatasinya. Kedua, sumberdaya manusia yang rendah (low human capital) – keahlian, pendidikan dan kesehatan pekerja – yang saling melengkapi dengan faktor lain dalam produksi, mempengaruhi pengembalian aktivitas ekonomi. Misalnya, jika pengembalian ekonomi lebih dipengaruhi oleh kekurangan melek huruf dan angka, maka hal ini yang dijadikan prioritas kebijakan pembangunan. Ketiga, setiap negara berkembang harus menyediakan infrastruktur vital yang dibutuhkan untuk mencapai dan mempertahankan perekonomian modern, diawali dengan struktur fisik dasar seperti jalan, jembatan, rel kereta api, pelabuhan, telekomunikasi dan utilitas lainnya. Dengan infrastruktur yang buruk, aktivitas ekonomi dengan pengembalian yang tinggi terbukti tidak lagi menguntungkan. Di beberapa negara, ketidakcukupan dan ketidakseimbangan infrastruktur merupakan faktor utama yang menghalangi percepatan pertumbuhan, dan dalam kasus semacam ini, kebijakan difokuskan pada pemberian dorongan investasi dan pertumbuhan.
Tetapi masalah yang terjadi mungkin tidak terkait dengan “low social return”, tetapi adalah dengan “low appropriability”, yang berarti bahwa investor tidak dapat memperoleh hasil yang layak dari investasinya. “Low appropriability” ini dapat disebabkan oleh kegagalan pemerintah (government failures) atau kegagalan pasar (market failures). Dalam diagram HRV, kegagalan pemerintah dibagi antara resiko mikro (micro risks) dan resiko makro (macro risks). Resiko mikro mengacu pada kelemahan kelembagaan seperti kekurangan hak milik, korupsi pemerintah dan pajak yang tinggi. Artinya, pengembalian aktivitas ekonomi mungkin cukup tinggi, tetapi kaum elite mengambil bagian yang lebih besar dibandingkan investor dan menyebabkan investasi menjadi tidak menarik. “Appropriability” mungkin juga dibatasi oleh resiko makro – kegagalan pemerintah untuk memberikan stabilitas keuangan, moneter dan fiskal.
Masalah “low appropriability” mungkin juga disebabkan oleh kegagalan pasar (market failures). Kegagalan pasar ini mencakup masalah eksternalitas informasi (masalah self-discovery) maupun eksternalitas kordinasi (masalah kordinasi).
Namun, dalam kasus lain, masalah utama mungkin bukan terkait dengan tingkat pengembalian yang rendah, tetapi lebih disebabkan biaya modal yang tinggi. Disini masalahnya mungkin karena keuangan internasional yang buruk – ketidakcukupan akses terhadap sumber-sumber modal luar negeri, atau masalah keuangan lokal yang buruk, yang mengacu pada rendahnya ketersediaan dana yang dapat dipinjam melalui pasar keuangan domestik yang disebabkan rendahnya tabungan domestik atau fungsi intermediasi keuangan yang buruk atau sistem perbankan yang terlalu diregulasi sehingga tidak mampunya/maunya saluran keuangan untuk membiayai aktivitas ekonomi yang memiliki pengembalian yang tinggi.

Sumber: Todaro MP dan Smith SC, 2009, “Economic Development.” Pearson Addison Wesley.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: