Iklan

Jamuan Makan yang Menyiksa


Hari ini, untuk kesekian kalinya saya menghadiri jamuan makan dimana penjamunya (tuan rumah) tidak menyediakan kursi. Hari ini  juga untuk kesekian kalinya saya menyaksikan bagaimana tersiksanya para undangan ketika harus menikmati makanan yang disajikan tersebut. Berdempet-dempet duduk pada kursi yang kebetulan ada di ruangan tersebut (hanya ada beberapa kursi yang tertinggal, yang sebenarnya tidak ditujukan untuk undangan). Mencari-cari celah pada bandul dinding yang kebetulan bisa diduduki sekedar meletakkan separuh dari pantatnya.  Atau yang berdiri, terpaksa  merelakan untuk tidak memakan lauk-lauk yang agak keras di piringnya (seperti daging, ikan  dan lain-lainnya), karena tidak bisa dipotong-dipotong untuk dimakan dalam posisi berdiri tersebut.

“Jamuan makan berdiri” belakangan memang telah menjadi bagian dari gaya berpesta dalam masyarakat kita. Tidak hanya pada acara yang kebetulan saya ikuti hari ini (jamuan makan oleh salah seorang kepala daerah untuk peserta kongres salah satu organisasi profesi), tetapi juga pada pesta-pesta perkawinan dan pesta-pesta keluarga lainnya. Tidak hanya pada acara-acara di kota-kota besar tetapi kebiasaan tersebut juga sudah merambah pada kota-kota kecil di Indonesia.

Hal ini kemudian membuat saya merenung. Mungkin saya tidak lagi bisa (tidak lagi perlu) menasehati anak-anak (seperti saya dinasehati orang tua pada waktu kecil dulu).  “Nak, kalau makan itu duduk yang sopan !!”. Mungkin saya perlu mengajari anak-anak di rumah untuk makan sambil berdiri, sehingga ketika nantinya mereka menghadiri “jamuan makan berdiri” di luar rumah, tidak tersiksa seperti saya saat ini (sebagaimana tersiksanya sebagian besar undangan lainnya dalam ruangan hari ini).  Atau mungkin saya yang belum siap mengikuti perkembangan keadaan.

Entahlah. Yang pasti, pada saat ini, setiap menerima undangan pesta perkawinan dengan acara makan sambil berdiri, saya hanya datang, menyalami penganten dan pulang tanpa menyentuh makanannya. Karena….. memang saya tidak mau menyiksa diri sendiri.

Iklan

8 Tanggapan

  1. Makan sambil berdiri memang tidak baik untuk kesehatan pak setahu saya, kinerja alt pencernaan tidak berfungsi dengan baik, nanti sakit

  2. maksud tuan rumah sepertinya lesehan, hanya saja lupa untuk menyediakan tikar atau karpet, atau mungkin…. mungkin banget ni yah… maksud tuan rumah ngetes kesabaran tamu, aduh sulit juga yah buat positif tinking

  3. Rupanya sudah waktunya mengganti kebiasaan kita yang terlalu menyedot pengeluaran.
    Apa tidak lebih baik bila acara perkawinan dilakukan secara sederhana saja disaksikan oleh kerabat terdekat. Untuk diketahui umum, bisa melalui surat pemberitahuan/edaran atau pasang iklan di media massa. Kan biaya yang harus dikeluarkan untuk pesta, bisa disumbangkan untuk kepentingan yang lain, atau dijadikan modal bagi keluarga baru.

    • Iya memang alangkah baiknya bila seperti itu
      Tapi namanya zaman sekarang…orang lebih ngeduluin gengsi ketimbang pemikiran yang rasional…..uhhh sebel banget

  4. Memang hal itu seakan menjadi budaya yang lama-lama melunturkan kebudayaan yang asalnya baik, virus makin mendekat dan beraksi pak.

  5. Saya sangat setuju, kalau ada undangan yang seperti itu, saya makan dulu dari rumah. kalau ketemu kawan yang cocok untuk ngobrol saya ngobrol duluan baru pulang, kan nggak khawatir lapar karena perut sudah diisi lebih dulu.

    Ya, mbak Yuni. Kayaknya kita sependapat dengan ini.

  6. Memang Benar menyiksa….
    Ternyata penulis sepikiran sama saya…
    padahal dalam hadits tercantum “Walaa Taqul Qoiman”
    Artinya “jangan makan sambil berdiri”

    berarti leih baik duduk kan????

    Huft
    ^_^

    Ya, benar Mbak Yusi. Sepertinya banyak yang tidak tahu/lupa dengan hadits tersebut

  7. wah keren gan… dibungkus aja dh klo gt, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: