Etika Bersalaman


Sehabis shalat Jum’at, jama’ah disamping saya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tidak ada yang aneh memang, karena sepertinya ini memang menjadi tradisi baik yang berkembang di negara kita. Bersalaman ketika bertemu dengan kenalan ataupun ketika berkenalan dengan orang baru, salaman ketika mengakhiri pertemuan (berpisah), salaman ketika lebaran dan lainnya.

Tapi kali ini saya memang agak sedikit tertegun. Jama’ah tadi mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tetapi pandangannya tertuju ke arah yang berlawanan dengan saya (mungkin sedang memperhatikan sesuatu yang menarik perhatiannya). Waktu itu timbul pikiran nakal, bagaimana kalau salamnya saya sambut dengan tangan kiri, toh dia juga tidak melihat. He..he…he.

Saya tertegun karena saking mentradisinya bersalaman tangan, membuat kita jadi lupa hakikatnya. Bersalaman pada hakikatnya bertujuan untuk lebih mempererat silaturahmi (dan lebih baiknya tentunya dengan mengucapkan Assalamu’alaikum, saling mendoakan dalam keselamatan). Kita lupa hakikat bersalaman, sehingga ketika bersalaman kita tidak lagi berusaha untuk melihat orang yang disalami. Coba perhatikan, misalnya ketika seseorang datang dalam suatu pertemuan dan menyalami orang-orang yang sudah hadir duluan. Banyak diantara mereka yang menjabat tangan orang tersebut, tetapi dengan tetap mengobrol dengan teman sebelahnya tanpa melihat ke arah orang yang disalami.   Coba perhatikan pada acara halal-bil-halal yang biasa diadakan di kantor-kantor sehabis Idul Fitri. Ketika para bawahan bersalaman dengan para pimpiman kantor tersebut (biasanya pejabatnya berbaris di depan, dan para bawahan antri satu persatu menyalami atasannya), sang pemimpin menyambut salaman bawahannya tetapi sambil tetap mengobrol dengan rekan pimpinan lain yang ada disampingnya. Tidak berusaha menyisihkan waktu sekejap saja untuk menatap bawahannya yang mengulurkan tangan tersebut.

Ini membuat bersalaman menjadi kehilangan makna. Karena kita sering melupakan etikanya.

2 Tanggapan

  1. As Wr Wb.
    Karena menganggab hanya tradisi sebuah salaman tapi tidak tahu maknanya blm awareness jd dalam mengadopsi perilaku banyak hanya sekedar jabat tangan…tanpa makna..
    Tanggung Jawab kita yang tahu untuk mensosialisasi…smg lewat tulisan bapak..ada perubahan perilaku…Amin.

    Wass Wr Wb.
    Endah

  2. Asslm Pak… salam kenal ya Pak…

    Mungkinkah hal ini dikarenakan sistem pembelajaran di kita yg kurang memperhatikan makna dari setiap kegiatan belajar di sekolah, umumnya melulu dg hapalan? Yg penting hapal, bukan yg penting paham, sehingga terbudayakan dg laku yg tanpa makna, formalitas saja… yg penting melakukan…

    Tapi juga, mungkin tahapan pembelajaran kita pada umumnya masih di taraf, ‘baru melakukan saja’ (tanpa makna), insya ALLAH, berikutnya akan menjadi laku dg makna… amiin

    Afwan… 😉

    Wassalaam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: