Iklan

Grafik dengan Dua Sumbu (Axis) Vertikal yg Berbeda

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas cara membuat grafik dengan dua jenis data yang memiliki besaran yang berbeda, dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 (lihat tulisan ini).  Sekarang kita bahas penggunaan Microsoft Excel 2003.

Misalnya kita ingin membuat grafik perkembangan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).  Realisasi PMDN dalam nilai Rp Miliar sedangkan realisasi PMA dalam nili US$ Juta. Tentunya kita tidak dapat membuat kedua besaran nilai tersebut dalam satu sumbu vertikal (axis vertikal) yang sama. Oleh karenanya, berikut ini diberikan cara membuat grafik dengan dua sumbu vertikal.

Misalnya kita punya data berikut yang menggambarkan perkembangan realisasi PMDN dan PMA di Indonesia tahun 1990 – 2009 (sumber data BKPM RI). Nilai PMDN dalam Rp Miliar sedangkan nilai PMA dalam US$ Juta. Sebagai latihan, mari kita ketikkan data tersebut pada worksheet seperti tampilan di bawah ini. (Perhatikan: Kolom E adalah tahun, tetapi judul tahunnya tidak usah diketik. Tujuannya hanya untuk memudahkan proses pengerjaan grafik)

Selanjutnya blok range B2:D22, kemudian klik Insert  > Chart dan pilih jenis grafik yang diinginkan. Dalam contoh, misalnya kita gunakan grafik garis, maka klik Line, akan muncul pilihan grafik garis. Pilih salah satunya. Dalam contoh kita ambil pilihan grafik line grafik pertama .  Klik grafik pertama tersebut dari tampilan dibawah ini (lihat kotak yang berwarna hitam).

Setelah itu klik Finish. (Catatan: Anda bisa memberikan asesoris grafik dengan cara mengklik Next. Tapi untuk penyederhanaan pembahasan tulisan ini, langsung klik Finish saja).

Setelah mengklik Finish, akan muncul grafik perkembangan PMDN dan PMA, tetapi masih dengan satu sumbu vertikal seperti di bawah ini.

Sekarang, kita ingin menjadikan grafik PMDN dan PMA dengan sumbu vertikal yang berbeda. Misalnya sebagai contoh kita set sumbu vertikal pertama (bagian sebelah kiri) untuk PMDN dan sumbu vertikal kedua (bagian sebelah kanan) untuk PMA.

Caranya adalah: klik kanan grafik PMA kemudian klik Format Data Series, kemudian klik Axis dan pada Plot Series on pilih Secondary Axis. Kemudian klik OK.

Dengan cara ini, grafik kita akan memiliki dua sumbu vertikal. Sumbu sebelah kiri untuk PMDN dalam nilai Rp Miliar dan sumbu sebelah kanan untuk PMA dengan nilai US$ Juta.

Anda juga bisa membuat jenis grafik yang berbeda antara PMA dan PMDN. Misalnya grafik PMA kita rubah jadi grafik batang sedangkan grafik PMDN tetap sebagai grafik garis. Caranya:  klik kanan grafik PMA, klik Chart Type kemudian pilih grafik Column (Batang).

Ok. Pengerjaan kita selesai.  Silakan lanjutkan dengan memberi judul sumbu vertikal, merubah warna, merubah font memindahkan legend dsbnya sesuai keinginan kita. Sebagai contoh, lihat grafik di bawah ini.

Iklan

Membuat Grafik dengan Dua Sumbu (Axis) Vertikal Berbeda

Adakalanya kita ingin membuat grafik dengan dua jenis data yang memiliki besaran yang berbeda. Misalnya kita ingin membuat grafik perkembangan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).  Realisasi PMDN dalam nilai Rp Miliar sedangkan realisasi PMA dalam nili US$ Juta. Tentunya kita tidak dapat membuat kedua besaran nilai tersebut dalam satu sumbu vertikal (axis vertikal) yang sama. Oleh karenanya, berikut ini diberikan cara membuat grafik dengan dua sumbu vertikal. Pembahasan pada tulisan ini menggunakan Microsoft Excel 2007. Untuk Excel 2003 , lihat pada tulisan ini.

Misalnya kita punya data berikut yang menggambarkan perkembangan realisasi PMDN dan PMA di Indonesia tahun 1990 – 2009 (sumber data BKPM RI). Nilai PMDN dalam Rp Miliar sedangkan nilai PMA dalam US$ Juta. Sebagai latihan, mari kita ketikkan data tersebut pada worksheet seperti tampilan di bawah ini. (Perhatikan: Kolom E adalah tahun, tetapi judul tahunnya tidak usah diketik. Tujuannya hanya untuk memudahkan proses pengerjaan grafik)

Selanjutnya blok range E2:G22, kemudian klik Insert dan pilih jenis grafik yang diinginkan. Dalam contoh, misalnya kita gunakan grafik garis, maka klik Line, akan muncul pilihan grafik garis. Pilih salah satunya. Dalam contoh kita ambil pilihan grafik 2-D Line grafik pertama .  Klik grafik pertama tersebut dari tampilan dibawah ini (arah panah berwarna merah).

Setelah mengklik grafik yang pertama tersebut, akan muncul grafik perkembangan PMDN dan PMA, tetapi masih dengan satu sumbu vertikal seperti di bawah ini

Sekarang, kita ingin menjadikan grafik PMDN dan PMA dengan sumbu vertikal yang berbeda. Misalnya sebagai contoh kita set sumbu vertikal pertama (bagian sebelah kiri) untuk PMDN dan sumbu vertikal kedua (bagian sebelah kanan) untuk PMA.

Caranya adalah: klik kanan grafik PMA kemudian klik Format Data Series, kemudian pada Series Option pilih Secondary Axis. Dengan cara ini, grafik kita akan memiliki dua sumbu vertikal. Sumbu sebelah kiri untuk PMDN dalam nilai Rp Miliar dan sumbu sebelah kanan untuk PMA dengan nilai US$ Juta.

Anda juga bisa membuat jenis grafik yang berbeda antara PMA dan PMDN. Misalnya grafik PMA kita rubah jadi grafik batang sedangkan grafik PMDN tetap sebagai grafik garis. Caranya:  klik kanan grafik PMA, klik Change Series Chart Type kemudian pilih grafik Column (Batang).

Ok. Pengerjaan kita selesai.  Silakan lanjutkan dengan memberi judul sumbu vertikal, merubah warna, merubah font memindahkan legend dsbnya sesuai keinginan kita. Sebagai contoh, lihat grafik di bawah ini.

Cara Lebih Praktis Menghitung Nilai r Tabel (Metode Excel)

Beberapa sumber menyebutkan bahwa untuk menghitung nilai r tabel kita harus terlebih dahulu menghitung nilai t tabel . Hal ini karena nilai r tabel dihasilkan dari rumus sebagai berikut:

Dimana: r = nilai r tabel, t = nilai t tabel dan df = derajat bebas

Berdasarkan rumus tersebut, maka  pada Excel dilakukan tahapan sebagai berikut: (lihat gambar dibawah)

Pada kolom A dituliskan derajat bebas (df). Derajat bebas dihitung dengan rumus N-2, dimana N adalah jumlah data. Dalam contoh diatas, kita buat df nya 1 – 5

Kolom B kita gunakan untuk menghitung nilai t tabelnya.  Pada  sel B2 kita tuliskan angka 0,05. Contoh ini adalah untuk mencari nilai t tabel dengan α ( tingkat signifikansi 5%). Kemudian pada sel B3 kita tuliskan rumus berikut:  =TINV(B$2,$A3). Ini adalah rumus untuk mencari nilai t tabel. Selanjutnya, copy rumus tersebut sampai ke sel B7

Kolom C kita gunakan untuk menghitung nilai r tabelnya.  Pada  sel C2 kita tuliskan angka 0,05. Contoh ini adalah untuk mencari nilai r tabel dengan α ( tingkat signifikansi 5%). Kemudian pada sel C3 kita tuliskan rumus berikut:  = =B3/SQRT($A3+B3^2).  Ini adalah rumus untuk mencari nilai r tabel. Selanjutnya, copy rumus tersebut sampai ke sel C7.

Nah, sudah kita dapatkan nilai r tabel.

Tapi, bagaimana kalau kita persingkat tahapannya dengan cara menggabungkan kedua rumus tersebut sehingga lebih praktis. Mari lihat gambar dibawah ini

Sama dengan cara diatas, tapi pada kolom B langsung kita hitung nilai r tabelnya. Bagaimana caranya ? Pada sel B3 tuliskan rumus berikut:  =TINV(B$2,$A3)/SQRT($A3+(TINV(B$2,$A3))^2).

Hasilnya sama kan ?. Tapi yang perlu diingat adalah, nilai r tabel ini adalah nilai dua arah. Kalau anda melakukan pengujian satu arah dengan α yang sama seperti diatas yaitu 5 %, maka Anda merubah alpha tersebut menjadi 10% (2 x 5 %).

Membentuk Model Pertumbuhan Eksponensial dengan Excel

Excel merupakan salah satu program yang terpaket dalam Microsoft Office yang memiliki banyak fasilitas dan fungsi yang menarik dan berguna dalam pengolahan dan penyajian data. Karenanya banyak buku dan tulisan-tulisan yang membahas berbagai aplikasi dari fasilitas dan fungsi tersebut.

Tulisan kali ini akan membahas mengenai cara membentuk model pertumbuhan eksponensial (exponential growth trend model). Model pertumbuhan eksponensial adalah model dimana kecenderungan (trend) perubahan data semakin lama semakin bertambah secara eksponensial (dalam tulisan ini mengikuti waktu)
Trend pertumbuhan eksponensial memiliki model sebagai berikut: Y = β0β1^T
Dimana Y adalah variabel (data) yang diamati dan T adalah waktu. ^ = pangkat
Secara grafis, contoh trend pertumbuhan eksponensial sebagai berikut.

Sebagai latihan, misalnya kita punya data penjualan selama 10 bulan, secara berurut sebagai berikut: 2, 3, 6, 9, 10, 11, 14, 16, 18, 27.
Buka program Excel, ketikkan angka tersebut pada worksheet Excel secara berurut pada satu kolom (untuk keseragaman, ketikan di range B2:B11).
Selanjutnya, tempatkan pointer anda di sel B14, kemudian ketikkan rumus berikut: =LOGEST(B2:B11). Kemudian tekan ENTER.
Dari contoh data tersebut, anda akan mendapatkan angka sebesar 1.292156. Angka ini adalah β1 pada persamaan model eksponensial. Selanjutnya untuk mengeluarkan nilai β0, blok sel B14 dan B15, kemudian tekan F2 dan tekan secara bersamaan CTRL+SHIFT+ENTER. Maka pada sel B15 akan keluar nilai β0 sebesar 2.221521.
Dari output excel tersebut, maka kita dapat membentuk model menjadi Y = 2.22152*1.292156^T
Catatan: Cara lain untuk mendapatkan β0 adalah ketik rumus: =INDEX(LOGEST(A2:A11),2) dan untuk mendapatkan β1, ketik rumus: =INDEX(LOGEST(A2:A11),1)
Jika model ini merupakan model terbaik dari data, kita dapat menggunakannya untuk kepentingan peramalan. Misalnya untuk bulan ke 11, dengan mengganti T dengan angka 11 dan mendapatkan peramalan penjualan sebesar 37.24895, dst.
Mengenai teknik memilih model untuk peramalan dan jenis-jenis model lainnya, silakan lihat tulisan-tulisan terkait di blog ini

Keanehan Perhitungan Excel

Ketika saya ingin menentukan nilai kuartil dari suatu kumpulan data, saya menemukan keanehan dalam perhitungan yang dilakukan Excel. Keanehan itu tidak hanya karena hasilnya berbeda dengan haril penggunaan rumus perhitungan kuartil pada buku-buku standar statistik, tetapi juga karena hasil yang diberikan Excel berbeda dengan perhitungan software-software statistik lainnya.

Untuk membuktikannya, kita coba dengan angka sederhana. Silakan saudara inputkan angka 1 sampai 17 dalam worksheet Excel. Angka tersebut misalkan diinput mulai dari sel B1 sampai B17 (range B1:B17).
Kemudian pada sel D1 ketikkan rumus berikut: =QUARTILE(B1:B17,1). Ini rumus untuk mencari kuartil pertama (Q1)
Pada sel D2 ketikan rumus berikut: =QUARTILE(B1:B17,2). Ini rumus untuk mencari kuartil kedua (Q2=median)
Pada sel D3, ketikan rumus berikut: =QUARTILE(B1:B17,3). Ini rumus untuk mencari kuartil ketiga (Q3).
Kita akan mendapatkan nilai Q1 = 5, Q2 = 9 dan Q3 = 13.
Karena angka-angka yang kita inputkan (untuk memperjelas kasusnya) adalah angka yang juga sesuai dengan urutan data, hasil ini juga berarti bahwa Q1 terletak diurutan ke 5, Q2 pada urutan ke 9 dan Q3 pada urutan ke 13.
Yakinkah Anda pada hasil ini ?
Kalau menggunakan rumus standar di beberapa buku statistik, untuk menentukan urutan kuartil adalah sebagai berikut: (dimana n adalah banyaknya data = 17)
Q1 = 1(n+1)/4 = 1(17+1)/4 = 4,5
Q2 = 2 (n+1)/4 = 2(17+1)/4 = 9
Q3 = 3(n+1)/4 = 3(17+1)/4 = 13,5
Kemudian coba inputkan angka yang sama pada software statistik yang lain. Disini, saya coba input ke Minitab, dan saya mendapatkan nilai Q1 = 4,5, nilai Q2=9 dan nilai Q3=13.5. Artinya, dengan menggunakan program Minitab, hasilnya menunjukkan bahwa Q1 terletak di urutan ke 4,5 (antara data ke 4 dan ke 5), Q2 pada urutan ke 9 dan Q3 pada urutan ke 13,5.
Hasil Excel ternyata hanya sama dengan Minitab dan rumus diatas dalam penentuan Q2 (median), tetapi berbeda ketika menentukan nilai Q1 dan Q2.
Saya pikir, saya salah mengoperasikan Excel sehingga hasilnya bisa berbeda. Tetapi ketika dicari pada fungsi Help Excel, saya mendapatkan contoh yang digunakan Excel dalam menjelaskan perhitungan kuartil sebagai berikut:(sengaja aslinya saya potretkan)
Dengan contoh data tersebut, dinyatakan bahwa kuartil pertama nilainya adalah 3,5. Padahal dengan menggunakan Minitab, nilai Q1 = 2,5.
Dengan menggunakan rumus sebagaimana yang dikemukakan diatas, letak Q1 = (8+1)/4 = 2,25. Angka pada urutan kedua adalah 2 dan pada urutan ketiga adalah 4, sehingga nilai Q1 = 2 +((4 – 2) x 0,25) = 2,5.
Sayangnya dalam menu Help Excel, tidak dicantumkan rumus yang digunakannya (hanya contoh seperti diatas). Karenanya, ada yang bisa membantu atau berkomentar mengapa terjadi perbedaan tersebut ?

Prasyarat dalam Pemecahan Sistem Persamaan Linear

Seorang pengunjung blog ini bertanya.

pak Junaidi..
maaf saya tanya sekali lagi..

misalkan saya punya persamaan seperti ini pak:

a

+

b

+

c

+

d

=

1

0.7083 a

+

c

+

d

=

a

0.1389 a

+

0.5 b

=

b

0.0972 a

+

0.25 b

=

c

0.0556 a

+

0.25 b

=

d

(catatan: simbolnya saya ganti, agar lebih simpel)

apakah ada rumusan add ins excel yang bisa menyelesaikan persamaan tersebut..

Terimakasih banyak Pak Junaidi atas jawabannya..
semoga pak Junaidi tambah sukses..amin!

Pertanyaan dan contoh kasus yang menarik. Karenanya, mari kita bahas bersama, mudah-mudahan dapat bermanfaat juga untuk kita semua.

Dalam penyelesaian sistem persamaan linear, add ins Excel (yaitu add ins Matrix) menggunakan Algoritma Gauss-Jordan. Algoritma ini silakan dibaca di buku-buku matematik, dan tidak kita bahas disini. Tetapi untuk aplikasi dan tahapan prosedurnya bisa lihat di tulisan di blog ini.

Pertanyaan penting sebenarnya, yaitu apakah persamaan tersebut bisa diselesaikan ? Inilah yang akan jadi bahasan utama dalam tulisan ini.

Dalam pemecahan persamaan linear ada tiga syarat yang harus dipenuhi:

  1. Jumlah bilangan anu (bilangan tak diketahui) dapat diselesaikan jika jumlah persamaan yang tersedia paling tidak sama banyaknya dengan jumlah bilangan anu tersebut. Dengan kata lain, dua bilangan anu dapat diketahui nilainya melalui paling sedikit dua persamaan, tiga bilangan anu dapat diselesaikan melalui paling sedikit tiga persamaan.

    Contoh persamaan linear yang dapat diselesaikan:

    a + 2b + 3c = 10

    3b + 5c = 11

    7a + 6b + 4c = 37

    Pada contoh diatas, jumlah bilangan anu yang ingin diketahui ada 3 (a, b, c) dan jumlah persamaan juga tepat tiga.

    Contoh persamaan linear yang juga dapat diselesaikan:

    a + 2b + 3c = 10

    3b + 5c = 11

    7a + 6b + 4c = 37

    2a + 2c = 8

    Pada contoh diatas, jumlah persamaan lebih banyak dari bilangan anu. Sistem tersebut juga dapat diselesaikan (Catatan: jika penyelesaian menggunakan metode matriks, jadikan empat persamaan tersebut menjadi 3 persamaan, baik dengan cara substitusi, eliminasi maupun dengan menjumlahkan dua persamaan menjadi satu persamaan).

  2. Persamaan harus konsisten

    Contoh persamaan yang tidak konsisten

    x + 2y = 20

    x + 2y = 23

    Walaupun dua variabel yang tidak diketahui tepat dihubungkan dengan dua persamaan, tetapi tetap tidak ada pemecahan. Kedua persamaan ini ternyata tidak konsisten. Karena bila jumlah x + 2 y = 20, tidak mungkin pada waktu yang sama x + 2y menjadi 23

  3. Persamaan-persamaan harus memiliki kebebasan fungsional (functional independence).

    Contoh persamaan yang tidak bebas (bergantung) secara fungsional:

    2x + 4y = 80

    6x + 12y = 240

    Dalam hal ini persamaan kedua sebenarnya hanya 3 kali persamaan pertama. Akibatnya, satu persamaan mubasir dan dapat dibuang dari sistem, sehingga hanya ada satu persamaan dengan dua variabel yang tidak diketahui. Pemecahannya akan menjadi 2x + 4y = 80, dan akan menghasilkan suatu bilangan yang tak terhingga (bukan pemecahan tunggal). Dengan kata lain, pasangan nilai x dan y bisa saja (0, 20), (40,0), (10,15) dstnya.

    Persyaratan bebas secara fungsional ini sebenarnya juga terkait erat dengan persyaratan konsistensi .

Secara sekilas kita dapat mengetahui apakah jumlah persamaan memenuhi persyaratan jumlah bilangan anu. Tetapi untuk mengetahui apakah persamaan kita konsisten atau tidak, serta apakah persamaan kita memiliki kebebasan fungsional atau tidak, adalah hal yang cukup sulit hanya dengan pengamatan visual, apalagi jika persamaan dalam sistem cukup banyak.

Untuk keperluan itu, kita membutuhkan operasi matriks. Suatu persamaan linear dikatakan bebas secara fungsional jika matriks bujur sangkar (untuk kepentingan pembahasan ini yang kita bicarakan hanya matriks bujur sangkar) yang dibentuk dari koefisien sistem persamaan linear adalah bersifat non-singular. Untuk mengetahui apakah matriks bujur sangkar bersifat non-singular atau singular dapat disidik melalui determinannya. Jika determinannya ≠ 0, maka matriks tersebut bersifat non-singular (Mudah-mudahan lain kali ada kesempatan untuk membahas mengenai pernak-pernik matriks ini).

Kembali kita pada kasus di awal. Sistem persamaan tersebut dapat ditulis ulang dengan memindahkan seluruh bilangan anu ke sebelah kiri dan konstantanya ke sebelah kanan tanda sama dengan sebagai berikut:

a

+

b

+

c

+

d

=

1

0.7083 a

a

+

c

+

d

=

0

0.1389 a

+

0.5 b

b

=

0

0.0972 a

+

0.25 b

c

=

0

0.0556 a

+

0.25 b

d

=

0

Sekarang kita sederhanakan menjadi:

a

+

b

+

c

+

d

=

1

-0.2917 a

+

c

+

d

=

0

0.1389 a

0.5 b

=

0

0.0972 a

+

0.25 b

c

=

0

0.0556 a

+

0.25 b

d

=

0

Ada lima persamaan dengan empat variabel anu (a, b, c, d) yang tidak diketahui. Artinya syarat bahwa paling sedikit jumlah persamaan harus sama dengan jumlah variabel anu yang tidak diketahui sudah terpenuhi.

Selanjutnya, kita ingin menyelidiki apakah persamaan-persamaan dalam sistem tersebut saling bebas secara fungsional. Dari sistem persamaan tersebut, sepertinya kita belum bisa mengambil kesimpulan apakah persamaan dalam sistem saling bebas secara fungsional. (Sebenarnya kalau yang jeli, bisa langsung menangkap bahwa persamaan-persamaan tersebut saling tidak bebas secara fungsional. Untuk latihan, silakan dicermati lagi persamaan-persamaan diatas. Jawabannya nanti lihat di bagian akhir tulisan ini)

Mari kita coba menggunakan penyidikan melalui determinan. Penyidikan melalui determinan memerlukan syarat jumlah persamaan yang tepat sama dengan jumlah variabel yang tidak diketahui. (catatan: untuk menghitung determinan diperlukan matriks bujur sangkar, dengan demikian jumlah variabel harus sama banyak dengan jumlah persamaan).

Kita akan menjadikan sistem tersebut dalam empat persamaan dengan cara menjumlahkan dua persamaan menjadi satu persamaan (misalnya persamaan 4 dan 5), sebagai berikut:

a

+

b

+

c

+

d

=

1

-0.2917 a

+

c

+

d

=

0

0.1389 a

0.5 b

=

0

0.1528 a

+

0.5 b

c

d

=

0

Selanjutnya, jika kita hitung determinan dari matriks koefisien (yang berada di sebelah kiri tanda sama dengan) akan didapatkan nilai determinan = 0. (Caranya lihat pada tulisan sebelum ini). Dengan demikian, kesimpulannya, sistem persamaan linear ini tidak akan menghasilkan satu pemecahan (nilai-nilai tunggal untuk masing-masing variabel anu yang tidak diketahui).

Catatan: sebenarnya setelah penyederhanaan sistem persamaan, kita sudah bisa menangkap persamaan-persamaan tersebut saling tidak bebas secara fungsional. Karena (persamaan 2+ persamaan 3) = – (persamaan 4 + persamaan 5).


Membuat Piramida Penduduk dengan Excel

Memahami komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan salah satu aspek yang penting khususnya dalam analisis kependudukan dan umumnya dalam perencanaan pembangunan. Misalnya, potensi pertumbuhan penduduk ke depan dapat diperkirakan melalui pengamatan dari komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin ini. Perencanaan untuk penyediaan pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan dasar penduduk lainnya juga membutuhkan informasi mengenai komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin.

Dalam kerangka mendapatkan gambaran tersebut, salah satu alat analisis yang digunakan adalah piramida penduduk. Piramida penduduk adalah dua buah diagram batang, pada satu sisi menunjukkan penduduk laki-laki dan pada sisi lainnya menunjukkan penduduk perempuan dalam kelompok interval usia penduduk biasanya lima tahunan. Penduduk laki-laki biasanya digambarkan di sebelah kiri dan penduduk wanita di sebelah kanan. Meskipun piramida penduduk dapat menunjukkan jumlah penduduk atau persentase jumlah penduduk terhadap jumlah penduduk total, tetapi umumnya adalah menggunakan persentase.

Tulisan kali ini akan membahas cara membuat piramida penduduk dengan menggunakan Program Excel. Untuk latihan, kita coba membuat piramida penduduk dengan data Penduduk Propinsi Jambi Tahun 2005 menurut kelompok umur dan jenis kelamin. Aplikasi dalam tulisan ini menggunakan Microsoft Office Excel 2007. Meskipun prosedurnya agak sedikit berbeda dengan versi-versi Excel sebelumnya, tetapi secara umum bagi yang sudah terbiasa menggunakan Excel, akan tetap bisa mengaplikasikannya pada versi-versi sebelum versi 2007 ini.

Tahapan-Tahapan yang harus dilakukan adalah:

Tahap 1. Ketik data penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Sebagai contoh ketik kelompok umur di kolom A baris 5 – 20 (range A5:20), penduduk laki-laki di range B5:B20 dan penduduk perempuan di range C5:C20. Untuk mempermudah membuat grafik. Copy kembali kelompok umur yang sudah diketik tadi ke range D5:D20.

Selanjutnya, hitung persentase penduduk masing-masing kelompok umur pada masing-masing jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Persentase untuk laki-laki ditempatkan pada range E5:E20. Tetapi nilai persentase untuk laki-laki dijadikan angka negatif. Di sel E5, ketik rumus =-(B5/B$21)*100. Kemudian copy sampai sel E20. Persentase untuk perempuan ditempatkan pada range F5:F20. Tetapi nilai persentase untuk perempuan tidap perlu dinegatifkan. Di sel F5, ketik rumus =(C5/C$21)*100. Kemudian copy sampai sel F20.

Hasil pengerjaan pada tahap pertama ini dapat dilihat di bawah ini:

piramid1

Tahap 2. Blok range D4:F20. Kemudian klik Insert > Chart > Bart > Clustered Bart. Setelah itu klik OK. Akan muncul tampilan output sebagai berikut: (Catatan: Inti dari prosedur di atas adalah kita memilih grafik jenis Bar (batang) dengan sub-jenis Clustered Bar)

piramid2

Seperti yang kita lihat, grafik tersebut belum terlalu mirip dengan piramida penduduk yang umum kita dapatkan. Antara satu batang-dengan batang belum saling merapat. Angka persentase untuk laki-laki ditampilkan dalam angka negatif (yang seharusnya positif). Belum seluruh kelompok umur yang ditampilkan. Selain itu, kelompok umur juga ditampilkan di tengah dan mengganggu tampilan. Oleh karenanya, tahapan berikut adalah memperbaiki grafik tersebut.

Untuk memperbaiki itu ada beberapa tahap pengerjaan lagi yang harus kita lakukan yaitu:

Tahap 3. Memperbaiki Grafik

a. Merapatkan batang-batang dari grafik dengan cara: Klik kanan salah satu batang grafik, kemudian klik Format Data Series. Akan muncul tampilan berikut:

piramid3

Pada Series Overlap jadikan 100% dan pada Gap Width jadikan 0 %, seperti terlihat pada tampilan diatas. Selanjutnya klik Close.

b. Menambahkan tampilan kelompok umur dan memindahkan angka kelompok umur ke sisi kiri grafik.

Klik kanan pada angka kelompok umur, kemudian klik Format Axis. Akan muncul tampilan berikut:

piramid41

Sesuaikan isian dalam kotak-kotak pilihan seperti tampilan diatas. Selanjutnya klik Close.

c. Merubah persentase negatif pada penduduk laki-laki.

Klik kanan pada angka persentase, klik Format Axis, klik Number, klik Custom. Akan muncul tampilan berikut:

piramid5

Di kotak format Code, ketik 0.0;0.0, kemudian klik Close. Maka selesailah piramida penduduk kita seperti yang terlihat di bawah ini. Kita bisa menambahkan judul grafik, nama sumbu vertikal, nama sumbu horizontal dan asesoris grafik lainnya yang tidak kita bahas disini.

piramid6