Indeks Whipple: Evaluasi Pelaporan Umur Penduduk

Pada tulisan sebelumnya (lihat tulisan tersebut) kita telah melihat bahwa adanya kecenderungan orang untuk melaporkan umurnya pada umur-umur yang berakhiran angka 0 dan 5. Hal ini terdeteksi dari proporsi penduduk yang berumur dengan akhiran 0 dan 5 relatif lebih besar dibandingkan dengan umur sebelumnya dan dan umur sesudahnya.

Selain dengan cara pengamatan jumlah atau proporsi tersebut, kita bisa mendeteksi kesalahan pelaporan umur  dengan menggunakan Indeks Whipple (IW). Whipple mengevaluasi kesalahan yang disebabkan oleh pelaporan umur dengan anggapan bahwa kesalahan pelaporan umur sebagian besar terletak pada umur 23 tahun sampai dengan 62 tahun. Dalam pelaporannya, antara umur-umur tersebut banyak menyukai umur-umur yang berakhiran angka 0 dan 5.

Dengan dasar tersebut, Whipple kemudian merumuskan indeks kecermatan pelaporan umur dengan rumus:

Dari rumus tersebut terlihat bahwa indeks whipple dihitung dengan cara:  kalikan 5 jumlah  penduduk yang berumur dengan akhiran 0 dan 5 mulai dari umur 25 sampai 60. Selanjutnya dibagi dengan total jumlah penduduk yang berumur antara 23 sampai 62 tahun.

Jika semua penduduk yang berumur 23 sampai 62 tahun melaporkan umurnya berakhiran angka 0 atau 5, nilai indeks akan menjadi sebesar 500. Sebaliknya jika pelaporan umur antara 23 tahun sampai dengan 62 tahun tersebut benar, maka secara ringkas nilai indeks tersebut akan sama dengan 100. Dengan demikian, semakin dekat nilai indeks dengan 100, maka pelaporan umur makin mendekati kecermatan.

Sebagai contoh, kita kutipkan kembali data penduduk Provinsi Jambi tahun 2000 dari tulisan sebelumnya (hanya mulai umur 23 – 62 tahun), sebagai berikut:

Dari data tersebut, maka indeks whipplenya adalah:

Apa artinya ?

PBB merekomendasikan suatu standar untuk mengukur kesalahan pelaporan umur menggunakan indeks Whipple ini sebagai berikut:

Indeks Whipple Kualitas Data
< 105 Sangat akurat
105–110 Relatif akurat
110–125 OK
125–175 Buruk
> 175 Sangat buruk

Age Heaping: Ternyata Kita Senang dengan Angka 0 dan 5

Ternyata secara tidak sadar, kita cenderung menyenangi angka 0 dan 5.  Kecenderungan kita menyenangi angka tersebut, menyebabkan kita cenderung melaporkan umur dengan umur-umur  yang berakhiran angka 0 dan 5. Ini menyebabkan terjadinya penumpukan penduduk pada umur-umur tersebut.

Secara normal, jumlah penduduk menurut umur satu tahunan atau umur tunggal  hanya berubah sedikit demi sedikit dari satu umur ke umur berikutnya. Tetapi kalau Anda perhatikan data distribusi umur penduduk di bawah ini, terlihat penumpukan umur pada umur-umur yang berakhiran 0 dan 5.  Sebagai contoh, pada umur 30 tahun proporsi penduduk mencapai 2,80 % sedangkan umur dibawahnya ( 29 tahun)  hanya sebesar 1,49 % dan umur diatasnya (31 tahun) hanya sebesar 1,27 %. Contoh lainnya pada umur 45 tahun, proporsi penduduk sebanyak 1,76 %, sedangkan pada umur dibawahnya (44 tahun) hanya 0,72 % dan diatasnya (46 tahun) hanya 0,65 %. Pola-pola semacam ini bisa Sdr. lihat pada umur-umur lainnya (yang berwarna merah).

Data ini memang data hasil Sensus Penduduk tahun 2000 untuk perdesaan Provinsi Jambi. Tapi fenomena ini  juga akan berlaku sama jika dilihat pada daerah-daerah lainnya.

Fenomena penumpukan umur ini dinamakan dengan “age heaping “.  Dan kesalahan-kesalahan dalam pelaporan umur penduduk ini akan berakibat kesalahan-kesalahan dalam berbagai analisis yang menggunakan data penduduk menurut umur ini. Oleh karenanya, kita perlu terlebih dahulu melakukan  evaluasi dan perapian data penduduk menurut umur ini sebelum digunakan untuk tujuan analisis tersebut.

Tulisan ini merupakan pengantar untuk seri metode evaluasi dan perapian data penduduk menurut umur. Kita akan  bahas metode-metode tersebut pada tulisan-tulisan berikutnya pada blog ini.

Lihat tulisan: Indeks Whipple: Evaluasi Pelaporan Umur Penduduk

Sensus Penduduk 2010 dan Kita

Besok, tepatnya tanggal 1 Mei 2010, Indonesia memulai hajat besar yang dilakukan sekali dalam sepuluh tahun yaitu “Sensus Penduduk”. Sensus Penduduk Tahun 2010 (SP2010) ini merupakan sensus penduduk modern yang keenam yang dilakukan di Indonesia.  Sensus-sensus penduduk sebelumnya diselenggarakan pada tahun-tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000.

Dalam SP2010 akan diajukan sekitar 40 pertanyaan mengenai: kondisi dan fasilitas perumahan dan bangunan tempat tinggal, karakteristik rumahtangga dan keterangan individu anggota rumahtangga.

Data yang  diperoleh dalam sensus penduduk ini akan sangat berguna bagi bangsa kita dalam mengevaluasi hasil pembangunan selama ini serta sebagai dasar dalam perumusan perencanaan dan kebijakan kedepan.

Data yang salah akan menghasilkan perencanaan dan kebijakan keliru. Hal ini akan berdampak sangat luas bagi kesejahteraan bangsa kita kedepannya. Selain itu, kegagalan dalam memperoleh data yang baik dan tepat dalam SP2010 tidak saja akan menghasilkan dasar perencanaan yang salah arah, tetapi juga berarti telah menyia-nyiakan anggaran negara. Bayangkan besarnya anggaran untuk SP2010 ini. Pelaksanaannya mulai dari tahap persiapan sampai analisis hasil akhirnya akan berlangsung selama lebih kurang lima tahun (2008 – 2012). Pencacah yang dipekerjakan mencapai sekitar 600 ribu orang, belum termasuk petugas-petugas lainnya (input data, pengolahan data, analisis dsbnya). Ditambah lagi dengan biaya pencetakan daftar pertanyaan untuk sekitar 65 juta rumah tangga.

Oleh karenanya, dalam rangka ikut mensukseskan SP2010, pengelola blog ini mengajak kita semua (khususnya pengunjung blog ini), marilah ikut berpartisipasi aktif dalam bentuk memberikan jawaban yang tepat dan benar kepada petugas sensus yang akan mendatangi saudara. Mari juga kita berikan pemahaman kepada lingkungan sekitar kita tentang arti pentingnya SP2010 ini. Dan khususnya bagi saudara-saudara yang memiliki website/blog di internet, mari kita sosialisasikan SP2010 melalui media tersebut. Kita semua berkepentingan langsung terhadap hasil sensus ini.

Sekali lagi. Mari kita sukseskan Sensus Penduduk 2010.

Dasar-Dasar Teori Ekonomi Kependudukan

Buku Dasar-Dasar Teori Ekonomi Kependudukan ini menguraikan konsep dasar ekonomi kependudukan serta berbagai teori dan pendekatan ekonomi untuk menjelaskan dinamika penduduk, baik sebagai variabel yang mempengaruhi maupun variabel yang dipengaruhi. Pada dasarnya, teori dan pendekatan  yang digunakan dapat dilihat dari sisi mikro ekonomi maupun makro ekonomi. Namun demikian, buku ini lebih difokuskan pada pembahasan dari sisi makro ekonomi, dan lebih khusus lagi, pada dampak pembangunan ekonomi terhadap dinamika penduduk serta dampak dinamika penduduk terhadap pembangunan ekonomi.

Selain itu, dalam buku ini juga dibahas beberapa isu-isu kependudukan terkini, mengenai indikator kualitas penduduk, isu gender dan penuaan penduduk. Disadari bahwa tidak semua isu-isu terkini dapat dicakup dalam buku ini. Tetapi paling tidak, melalui pembahasan tersebut diharapkan dapat menuntun pembaca untuk menemukan isu-isu lainnya, yang saat ini masih menjadi “embrio” tetapi diperkirakan akan menjadi persoalan krusial  yang akan dihadapi pada masa-masa yang akan datang.

Judul Buku : Dasar-Dasar Teori Ekonomi Kependudukan

Pengarang : Junaidi & Hardiani

Penerbit : Hamada Prima, Tahun 2009

ISBN : 978-979-19971-2-6

Halaman : 149  +  xi halaman

Daftar Isi Buku:

BAB I.     KONSEP DASAR EKONOMI KEPENDUDUKAN

1.1. Pengertian Demografi

1.2. Demografi Formal Versus Demografi Sosial

1.3. Pengertian Ekonomi Kependudukan

BAB II. SEJARAH PERKEMBANGAN PENDUDUK DAN MODEL TRANSISI DEMOGRAFI

2.1. Kependudukan Dunia

2.2. Kependudukan Indonesia

2.3. Model Transisi Demografi

BAB III. PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

3.1. Teori Pre Malthusian

3.2. Teori Malthus

3.3. Aliran Sosialis

3.4. Teori-Teori Lain di Era Modern

3.5. Posisi Penduduk dalam Berbagai Teori Pertumbuhan Ekonomi

3.6. Pembangunan Berwawasan Kependudukan

BAB IV. FERTILITAS DAN PEMBANGUNAN

4.1. Pengertian dan Pengukuran Fertilitas

4.2. Kerangka Dasar Analisis Fertilitas

4.3. Fertilitas dan Pembangunan: Kajian Empiris

BAB V.  MORTALITAS, MORBIDITAS DAN PEMBANGUNAN

5.1. Pengertian dan Istilah Dasar

5.2. Ukuran-Ukuran Mortalitas

5.3. Ukuran-Ukuran Morbiditas

5.4. Teori Transisi Epidemiologi

5.5. Keterkaitan Derajat Kesehatan dengan Pertumbuhan Ekonomi

BAB VI.  MOBILITAS PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN

6.1. Pengertian dan Pengukuran Mobilitas Penduduk.

6.2. Mobilitas Penduduk dan Pembangunan

BAB VII.  ISU-ISU  KEPENDUDUKAN TERKINI:

Indikator Kualitas Penduduk

7.1. Pengertian Kualitas Penduduk

7.2. Indikator-Indikator Kualitas Penduduk

BAB VIII.  ISU-ISU KEPENDUDUKAN TERKINI:

Ketimpangan Gender

8.1. Pengertian Gender

8.2. Diferensiasi Gender

8.3. Gender dalam Dunia Kerja

BAB IX.  ISU-ISU KEPENDUDUKAN TERKINI:

Penuaan Penduduk

9.1. Batasan Lanjut Usia dan Pengertian Penuaan Penduduk

9.2. Dampak Penuaan Penduduk di Negara-Negara Maju

9.3. Dampak Penuaan Penduduk di Negara-Negara Berkembang

Ketimpangan Gender dlm Pembangunan SDM di Prop.Jambi*

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi dan karakteristik ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi (2) menganalisis faktor penyebab ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi,

Lingkup wilayah analisis adalah Propinsi Jambi dengan periode analisis Tahun 1999-2002. Data penelitian utama bersumber dari “Indonesia Human Development Report” Tahun 2001 dan 2004. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk menganalisis kondisi dan karakteristik ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi. Fokus analisis dalam hal ini adalah kondisi dan perkembangan IPM, IPG, dan IKG selama periode tahun 1999-2002, dengan membandingkan antara Propinsi Jambi dengan propinsi lainnya di Indonesia serta membandingkan antara kabupaten/kota dalam Propinsi Jambi (khusus tahun 2002). Untuk menganalisis faktor penyebab ketimpangan gender juga akan dianalisis secara deskriptif dengan melihat perkembangan komponen-komponen penyusun IPM, IPG dan IKG selama periode tahun 1999-2002, dengan membandingkan antara Propinsi Jambi dengan propinsi lainnya di Indonesia, membandingkan antara kabupaten/kota dalam Propinsi Jambi, serta membandingkan antara kabupaten/kota di Propinsi Jambi (khusus tahun 2002). Penggunaan analisis statistik sederhana (seperti koefisien variasi) akan dimanfaatkan dalam menganalisis komponen-komponen penyebab ketimpangan gender dalam pembangunan sumberdaya manusia ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi sudah relatif baik dibandingkan propinsi-propinsi lainnya di Indonesia. Pada Tahun 2002 nilai IPM Propinsi Jambi adalah sebesar 67,1 dan termasuk dalam kategori menengah tinggi (meskipun masih berada pada lapisan bawah dalam kategori ini). Selanjutnya jika dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia, posisi Propinsi Jambi relatif baik yaitu berada pada posisi kesepuluh dari tiga puluh propinsi di Indonesia. Pada kategori menengah tinggi ini pencapaian pembangunan sumberdaya manusia di Propinsi Jambi masih lebih tinggi dibandingkan Propinsi Banten, Maluku, Jawa Tengah, Bengkulu, Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Selatan. Namun demikian, masih lebih rendah jika dibandingkan dengan Propinsi DKI Jakarta, Sulawesi Utara, DI. Yogyakarta, Kalimantan Timur, Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Bali.

Perkembangan selama tahun 1999-2002 menunjukkan hampir seluruh propinsi di Indonesia telah menunjukkan peningkatan nilai IPM (kecuali Nusa Tenggara Timur dan Maluku). Untuk Propinsi Jambi, pada periode tersebut, terjadi peningkatan sebesar 1,7 poin (0,57 poin pertahun), dari 65,4 menjadi 67,1. Dari pengukuran “shortfall value” terjadi peningkatan 1,73 persen pertahun dibandingkan kondisi optimum (nilai IPM 100). Fakta yang menggembirakan juga, ternyata peningkatan “shortfall value” Propinsi Jambi relatif lebih tinggi dibandingkan peningkatan pada tingkat nasional, yang sebesar 1,60 persen pertahun. Beberapa propinsi yang juga mengalami peningkatan relatif tinggi ini adalah Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, DI. Yogyakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bali dan Sumatera Barat.

Peningkatan nilai IPM yang cukup pesat ini menyebabkan peringkat Propinsi Jambi kembali mengalami peningkatan. Jika sebelumnya (pada Tahun 1999) berada pada peringkat 11, maka pada Tahun 2002 menempati peringkat 10 dari tiga puluh propinsi yang ada.

Namun demikian, jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota di Propinsi Jambi, kondisi ini ternyata tidak menyebar secara merata. Terdapat daerah dengan kualitas sumberdaya manusia yang masih sangat rendah, tetapi juga terdapat daerah dengan kualitas sumberdaya manusia yang sudah relatif tinggi.

Selain itu, jika dibedakan antara laki-laki dan perempuan melalui pengukuran Indeks Pembangunan Gender (IPG), kondisi Propinsi Jambi ternyata belum menunjukkan keadaan yang memuaskan. Pada tahun 2002 nilai IPGnya adalah sebesar 53,3 persen. Nilai ini termasuk kategori rendah terutama jika dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia, yaitu berada pada posisi ke 27 dari 30 propinsi (hanya lebih tinggi dibandingkan Propinsi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat dan Bangka Belitung). IPG Propinsi Jambi bahkan mengalami penurunan dibandingkan tahun 1999 yang sebesar 54,6 dengan posisi ke 18 dari 26 propinsi.

Selain rendahnya pencapaian IPG, jika dibandingkan dengan pencapaian IPM, nilai gap Propinsi Jambi juga relatif tinggi. Pada tahun 1999 angkanya sebesar 10,8 persen dan berada pada peringkat ke 21 gap tertinggi dari 26 propinsi yang ada. Selanjutnya, sejalan dengan penurunan nilai IPG, pada tahun 2002, nilai gap Propinsi Jambi juga mengalami peningkatan menjadi 13.8 Dari sisi peringkat, pada tahun ini berada pada peringkat ke 28 gap tertinggi dari 30 propinsi yang ada. Posisi ini hanya berada di atas Propinsi Kalimantan Timur dan Bangka Belitung.

Berdasarkan komponen-komponen pembentuknya dapat dikemukakan bahwa faktor utama penyebab rendahnya IPG Propinsi Jambi adalah rendahnya kontribusi perempuan terhadap total pendapatan. Pada tahun 1999, kontribusi wanita terhadap pendapatan hanya 24,9 persen dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 75,1 persen. Dari sisi nilai indeks komponen ini, Propinsi Jambi berada pada peringkat ke 22 terendah dari 26 propinsi yang ada. Pada tahun 2002, kontribusi perempuan bahkan mengalami penurunan menjadi 21,9 persen, sedangkan laki-laki mengalami peningkatan menjadi 78,1 persen. Hal ini menyebabkan turunnya indeks komponen ini serta peringkat Propinsi Jambi menjadi peringkat ke 28 dari 30 propinsi (lihat lampiran 8 sampai 11)

Sebagaimana halnya dengan nilai IPM, juga terlihat adanya variasi kondisi pencapaian IPG antar daerah yang cukup tinggi. Kabupaten Muaro Jambi dengan IPG tertinggi telah mampu mencapai posisi ke 149 tertinggi dari 341 kabupaten/kota di Indonesia. Hal ini berarti sudah berada pada posisi separuh kabupaten/kota di Indonesia dengan IPG tinggi. Sebaliknya, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan nilai IPG terendah hanya mampu berada pada posisi ke 322. Dengan kata lain, hanya terdapat 19 kabupaten/kota lainnya di Indonesia dengan nilai yang lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Fakta variasi yang tinggi dalam pencapaian pembangunan gender antar daerah di Propinsi Jambi ini juga terlihat nyata jika dilihat dalam konteks gap IPM-IPG. Terdapat daerah (Kabupaten Muaro Jambi) dengan gap yang hanya 9,2 persen, tetapi juga terdapat daerah (Kabupaten Tanjung Jabung Timur) dengan gap yang mencapai 22,1 persen, atau lebih satu setengah kali dibandingkan gap rata-rata Propinsi Jambi. Variasi gap yang tinggi menunjukkan belum adanya kesamaan persepsi antar daerah di Propinsi Jambi dalam memahami dan memaknai pelaksanaan pembangunan berwawasan gender

Dalam konteks IKG, pada tahun 1999 nilai IKG Propinsi Jambi adalah sebesar 46,8 persen dan tetap bertahan pada angka yang sama pada tahun 2002. Nilai ini relatif rendah terutama jika dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia. Pada tahun 1999 berada pada peringkat ke 17 dan pada tahun 2002 mengalami penurunan menjadi peringkat ke 21. (lihat lampiran 12)

Fakta ini memberikan arti bahwa proses marginalisasi perempuan di Propinsi Jambi ternyata tidak hanya terlihat dari sisi pembangunan sumberdaya manusia perempuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki (yang tercermin dari nilai IPG), tetapi juga dari sisi kesempatan perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, politik dan pengambilan keputusan (yang tercermin dari nilai IKG).

Pada penelitian ini disarankan kepada pemerintah untuk merumuskan kebijakan dalam peningkatan pengarus-utamaan gender dalam masyarakat baik melalui sosialisasi, penyuluhan maupun pembinaan kelembagaan masyarakat peduli gender.

* Ringkasan Penelitian: Junaidi, Hardiani, Tona Aurora Lubis, 2005

 


Aplikasi Model REMI-EDFS dalam Analisis Keterkaitan Variabel Demografi dan Ekonomi serta Proyeksi Penduduk

Oleh : Junaidi, Amril, Hardiani

I. PENDAHULUAN

Semakin lama disadari bahwa tinjauan terhadap masalah kependudukan tidak cukup hanya dengan memperhatikan jumlah penduduk dan laju pertumbuhannya. Dikaitkan dengan penyediaan fasilitas/kebutuhan masyarakat serta perencanaan pembangunan pada umumnya, maka banyak aspek kependudukan dan non kependudukan yang harus diperhatikan.

Kurangnya perhatian terhadap aspek yang terkait dengan jumlah dan pertumbuhan penduduk, menyebabkan kurang terarahnya kebijakan kependudukan. Sigit (1987) dalam Esmara (1987) mengemukakan cara terbaik menghadapi masalah kependudukan adalah melakukan penyesuaian-penyesuaian interaktif faktor non-demografi dan demografi. Diketahuinya hubungan timbal balik faktor demografi dan non-demografi memberikan dasar yang kuat untuk formulasi kebijakan kependudukan sekaligus kebijakan sosial-ekonomi.

Selanjutnya, kebijakan yang dirumuskan seharusnya tidak hanya diarahkan untuk mengatasi permasalahan kependudukan saat ini, tetapi juga untuk mengantisipasi keadaan dan permasalahan masa yang akan datang. Oleh karenanya, diperlukan informasi keadaan penduduk pada masa yang akan datang, yang dapat diperoleh melalui proyeksi penduduk.

Selama ini, umumnya di Indonesia dan khususnya di Propinsi Jambi, proyeksi penduduk semata-mata hanya didasarkan pada perubahan-perubahan variabel demografi. Hal ini tentunya akan menghasilkan proyeksi yang kurang akurat, terutama jika dikaitkan dengan berbagai perubahan-perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat belakangan ini. Oleh karenanya, diperlukan suatu pendekatan baru yang mengkaitkan berbagai perubahan penduduk di masa datang dengan perkiran perubahan-perubahan variabel non-demografi.

Satu-satunya model proyeksi yang mampu mengkaitkan variabel demografi dengan variabel non-demografi adalah model REMI-EDFS. Oleh karenanya, penelitian ini akan mencoba mengaplikasikan model REMI-EDFS dengan mengambil kasus Propinsi Jambi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

REMI-EDFS adalah model structural ekonomi-demografi yang mengintegrasikan pendekatan input-output, keseimbangan umum, ekonometrik dan ekonomi geografi. Model mencakup analisis substitusi antar faktor produksi sebagai respon biaya relatif faktor produksi, migrasi sebagai respon perubahan pendapatan yang diharapkan, TPAK sebagai respon tingkat upah dan kondisi kesempatan kerja, konsumsi masyarakat sebagai respon perubahan pendapatan disposibel ril dan harga komoditi, dan market share sebagai respon dari perubahan biaya produksi regional dan aglomerasi ekonomi. Selanjutnya keseluruhan model diringkas dalam lima blok yaitu; (1) Output,; (2) Permintaan modal dan tenaga kerja; (3). Penduduk dan penawaran tenaga kerja.; (4). Upah, biaya dan harga; (5) Market share

Penelitian difokuskan pada dinamika penduduk dan kaitannya dengan faktor ekonomi. Penduduk secara langsung dipengaruh oleh tiga variable yaitu kelahiran (BTH), ukuran kohor pada tahun target (COHt) dan migran (MG). Kelahiran dan ukuran kohor pada tahun target tergantung pada fertilitas (FER) dan tingkat bertahan hidup (SVR), dan kedua variable juga tergantung pada ukuran kohor tahun sebelumnya (COHt-1). Ini dapat diidentifikasi sebagai suatu model komponen kohor. Perbedaan antara REMI-EDFS dan model komponen kohor terlihat dari cara memperlakukan komponen migrasi. REMI-EDFS membagi migrasi atas migrant kembali (RTMG), migrasi internasional (INMG) dan migrasi ekonomi (ECMG).

Migrasi kembali tergantung pada tingkat migrasi kembali dan ukuran kohor dari tahun target (COHt). Migrasi internasional dihitung berdasarkan share regional dari imigrasi nasional. Migran ekonomi dipengaruhi oleh angkatan kerja potensial (NLF), peluang kesempatan kerja relative (REO), tingkat upah relative (RWR), kenyamanan yang ditawarkan (λ) dan indeks akses konsumsi (MIGPROD) dari daerah. Selanjutnya, Angkatan kerja potensial dihitung berdasarkan tingkat partisipasi angkatan kerja (NPR) dan ukuran kohor (COHt-1). Peluang kerja relative dipengaruhi oleh kesempatan kerja yang disesuaikan untuk daerah asal (ER) dan angkatan kerja potensial (NLF). Tingkat upah relative tergantung pada pendapatan personal (YP), pendapatan disposibel real (RYD), tingkat upah rata-rata masing-masing sector (wi) dan kesempatan kerja total (E). Pendapatan disposibel riil berhubungan dengan pajak (TAX), pendapatan personal (YP) dan konsumsi personal (CP) dan total kesempatan kerja tergantung pada kesempatan kerja menurut sector (Ei).

Berdasarkan hubungan antara variabel demografi dan ekonomi pada model REMI-EDFS, dapat dibangun persamaan-persamaan berikut::

Persamaan dasar penduduk:

Dimana:     P = Total population, t = Target year, COHk = Size of cohort “k” survived in target year, BTH = Total number of births,     NMG = Net migtants, RTMG = Total retired migrants, INMG = Total International migrants, ECMG = Total economic migrants, SpP = Special population (Military personnel and students).

Migran dibagi tiga kategori, migran ekonomi, migran kembali dan migran internasional untuk memperoleh perubahan penduduk akibat factor selain perubahan alami.

, dimana: SVR = tingkat bertahan hidup (survival rate)

Jumlah penduduk yang bertahan hidup pada tahun target (COHt) pada kohor tertentu (k) tergantung pada penduduk pada kohor yang sama pada tahun sebelumnya (COHt-1) dan tingkat bertahan hidup (SVR) dari kohor.


Tingkat fertilitas (FER) adalah ratio jumlah kelahiran terhadap jumlah wanita dalam masing-masing kelompok umur. Karena tingkat kelahiran bervariasi menurut kelompok umur dan etnis, model juga membagi tingkat fertilitas menurut umur dan etnis.

Total migran dirumuskan sebagai:

Dimana:     MG = total migran,     RTMG = migran kembali, ECMG = migran karena faktor ekonomi, INMG     = migran internasional

Total migran kembali dihitung melalui penjumlahan kohor umur satu tahunan, dengan persamaan berikut:

Dimana:     rmk = tingkat migrasi dari kohor k, RTDUM = variabel dummy (1 jika rmk positif dan 0 jika negatif),  COHnk= ukuran kohor k secara nasional

Variabel dummy RTDUM dimasukkan untuk menghitung migrasi bersih positif dan negatif. Selanjutnya persamaan untuk migran ekonomi adalah sebagai berikut:


Dimana :     ECMG = migran ekonomi, Β = koefisien yang diestimasi dari data timeseries dan cross section, REO = peluang kerja relatif, RWR = tingkat upah relatif, MIGPROD = indeks akses konsumsi, λ = tingkat kenyamanan, L    = daerah terpilih

Migran ekonomi adalah penduduk yang berusia di bawah 65 tahun yang tertarik pindah ke suatu daerah karena λ, REO, RWR dan MIGPROD dari daerah tersebut dibandingkan nasional (Treyz,1993). λ adalah suatu angka konstan untuk masing-masing daerah sebagai representasi kualitas hidup, diukur dari iklim, kualitas udara, tingkat kriminalitas dan lainnya. Jika suatu daerah memiliki tingkat kenyamanan positif, berarti rating kualitas hidupnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Migrasi internasional dirumuskan sebagai: INMG = share daerah x total imigrasi nasional

Peluang kerja relatif dirumuskan sebagai:


Dimana: E = total kesempatan kerja, ER = kesempatan kerja daerah, NLF = angkatan kerja potensial, P = probabilita, n = nasional

Tingkat upah relatif dirumuskan sebagai:


Dimana:     RYD     = pendapatan disposibel riil, YP = pendapatan personal, i     = industri/sektor

Tingkat upah relatif adalah ratio dari proposi kesempatan kerja pada suatu sektor (Ei/E), rata-rata tingkat upah menurut sektor (wi), dan biaya hidup (RYD/YP) antara daerah dengan nasional. Indeks akses konsumsi diukur dari kemudahan memperoleh suatu komoditi di suatu daerah dan tergantung pada jumlah komoditi yang tersedia untuk konsumsi di daerah.

Pendapatan disposibel riil dirumuskan sebagai berikut:


Angkatan kerja potensial dirumuskan sebagai berikut:

III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Penelitian bertujuan untuk: (1). Mendapatkan gambaran perkembangan penduduk dan komponen demografi pembentuk perubahan penduduk di Propinsi Jambi Tahun 1990 – 2005; (2). Menganalisis keterkaitan variabel ekonomi terhadap variabel demografi di Propinsi Jambi tahun 1990-2005; (3). Mendapatkan proyeksi penduduk Propinsi Jambi Tahun 2006 – 2025. Selanjutnya, berdasarkan tujuan tersebut diharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai masukan dalam perumusan kebijakan yang berkaitan dengan penduduk dan variabel-variabel ekonomi yang terkait dengan penduduk di Propinsi Jambi. Selain itu dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan terkait dengan metode proyeksi penduduk.

IV. METODE PENELITIAN
Periode analisis dalam penelitian ini selama tahun 1990-2005 sebagai tahun dasar dan Tahun 2010-2025 sebagai tahun proyeksi. Wilayah analisis pada tingkat Propinsi Jambi. Data yang digunakan data sekunder berupa publikasi dari instansi terkait. Publikasi utama yang dimanfaatkan bersumber SP, SUPAS, SUSENAS, SAKERNAS, Jambi dalam Angka, IHDR, Tabel Input-Output (IO). Penelitian akan mengaplikasikan model REMI-EDFS untuk melihat keterkaitan variabel demografi dengan variabel ekonomi. Meskipun demikian, model REMI-EDFS dalam penelitian ini akan disesuaikan/dimodifikasi tergantung pada ketersediaan data.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Perkembangan Penduduk Propinsi Jambi Tahun 1990 – 2005

Jumlah penduduk Propinsi Jambi sampai akhir Tahun 2005 adalah sebanyak 2.657.536 jiwa. Penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, dengan sex ratio 101,24, Selama Tahun 1990-2005 tingkat pertumbuhan penduduk 2,10 persen pertahun. Tingkat pertumbuhan penduduk laki-laki lebih rendah 1,97 persen pertahun lebih rendah dibandingkan perempuan sebesar 2,24 persen pertahun, menyebabkan seks ratio mengalami penurunan.

Tabel 5.1. Penduduk Propinsi Jambi Menurut Jenis Kelamin Tahun 1990 – 2005

 

 

 

 

Uraian

1990

1995

2000

2005

Pert./th (%)

Perempuan

988837

1175283

1180033

1320612

2.24

Laki-Laki

1031831

1194676

1227133

1336924

1.97

Pr + Lk

2020668

2369959

2407166

2657536

2.10

Seks Ratio

104.35

101.65

103.99

101.24

 

Sumber : SP 1990, SUPAS 1995, SP 2000, SUPAS 2005

5.2. Struktur Umur Penduduk Propinsi Jambi Tahun 1990 – 2005

Struktur umur penduduk di Propinsi Jambi pada Tahun 2005 sudah tidak tergolong lagi pada struktur umur muda, tetapi belum sepenuhnya memenuhi kategori struktur umur tua. Proporsi penduduk umur dibawah 15 Tahun sudah dibawah proporsi 40 persen, tetapi proporsi penduduk usia 65 Tahun keatas masih dibawah 10 persen. Namun demikian, dengan mengamati perkembangan data selama Tahun 1990-2005, diperkirakan kedepan struktur umur penduduk akan semakin mendekati  struktur umur tua.

Tabel 5.2.        Penduduk Propinsi Jambi Menurut Kelompok Umur Tahun 1990 – 2005

Tahun

Umur (tahun)

Jumlah

%

0 – 14

15 – 64

65 +

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1990

795744

39.38

1181901

58.49

43023

2.13

2020668

100.00

1995

887133

37.43

1426261

60.18

56565

2.39

2369959

100.00

2000

794016

32.99

1546011

64.23

67139

2.79

2407166

100.00

2005

821064

30.90

1753257

65.97

83215

3.13

2657536

100.00

Sumber : SP 1990, SUPAS 1995, SP 2000, SUPAS 2005

5.3. Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi Propinsi Jambi Tahun 1990 – 2005

Fertilitas yang diukur dari TFR telah mengalami penurunan dari 3,35 pada tahun 1990-1995 menjadi 2,70 perwanita pada tahun 2000-2005. Mortalitas, yang diukur dari IMR mengalami penurunan untuk perempuan dari 54,4 perseribu kelahiran pada tahun 1990-1995 menjadi 33,8 pada tahun 2000-2005. Untuk laki-laki dari 68,25 perseribu kelahiran pada tahun 1990-1995 menjadi 42,86 pada tahun 2000-2005. Bersamaan dengan itu, usia harapan hidup perempuan meningkat dari 64 tahun menjadi 69,3 tahun dan laki-laki dari 60,2 tahun menjadi 65,7 tahun. Migrasi risen neto menunjukkan angka positif, yang berarti jumlah migran masuk lebih banyak dibandingkan migran keluar. Namun, kecenderungan menunjukkan penurunan.

Tabel 5.3.Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi di Propinsi Jambi Tahun 1990 – 2005

Uraian

1990-1995

1995-2000

2000-2005

ASFR                15-20

81

68

57

20-25

185

167

150

25-30

167

152

138

30-35

127

116

105

35-40

73

67

61

40-45

28

25

22

45-50

8

7

6

TFR

3.35

3.01

2.70

Harapan Hidup (Pr) (Lk)

(64)   (60.2)

(66.5)   (63.1)

(69.3)   (65.7)

IMR (Pr) (Lk)

(54.4)   (68.3)

(44.6)   (54.8)

(33.8)   (42.9)

Migrasi risen netto (per 000 penduduk)

3.6

2.2

1.4

Sumber: Diolah dari SP 1990, SUPAS 1995, SP 2000 dan SUPAS 2005

Asumsi-Asumsi Proyeksi Penduduk

5.4.1. Asumsi Fertilitas

Trend penurunan TFR periode proyeksi, diasumsikan mengikuti fungsi eksponensial dengan tingkat penurunan yang sama dengan yang terjadi pada periode 1990 – 2005, yaitu sebesar 1,94 persen pertahun. Dengan menggunakan fungsi eksponensial ini, penurunan linear dalam periode proyeksi sebesar 1,68 persen pertahun. Selanjutnya, tingkat perubahan distribusi %ASFR sesuai dengan perubahan proporsi yang terjadi untuk masing-masing kelompok umur juga mengikuti fungsi eksponensial. Perubahan distribusi %ASFR menunjukkan terjadinya penurunan untuk dua kelompok umur muda (15–19 dan 20–24) serta dua kelompok umur tua (40–44 dan 45–49). Sebaliknya terjadi peningkatan pada kelompok umur pertengahan (25–39). Keadaan ini diperkirakan akan terjadi pada periode proyeksi sebagai implikasi peningkatan usia kawin dan penurunan fertilitas.

Tabel 5.4. Perkiraan ASFR, TFR dan Distribusi ASFR Prop. Jambi Tahun 2005 – 2025

Uraian

2005-2010

2010-2015

2015-2020

2020-2025

Pert/th (%)

 

ASFR

%

ASFR

%

ASFR

%

ASFR

%

ASFR

%

15-20

49

10.04

42

9.46

36

8.91

31

8.38

-2.51

-1.10

20-25

136

27.75

123

27.74

112

27.71

101

27.68

-1.70

-0.02

25-30

127

25.91

116

26.21

107

26.5

98

26.78

-1.52

0.22

30-35

97

19.79

89

20.03

82

20.26

75

20.49

-1.51

0.24

35-40

56

11.52

52

11.7

48

11.88

44

12.05

-1.45

0.31

40-45

20

4.00

17

3.93

16

3.86

14

3.8

-1.93

-0.33

45-50

5

0.99

4

0.93

4

0.88

3

0.82

-2.54

-1.14

TFR

2448

100

2222

100

2016

100

1830

100

-1.68

 

5.4.2. Asumsi Mortalitas

Untuk perkiraan mortalitas, didekati dengan model “time-series” yang mengikuti trend log linear (regresi log-linear), dengan persamaan sebagai berikut:

Persamaan harapan hidup perempuan :Ln HHf = – 103.86 + 14.22 ln T

Persamaan harapan hidup laki-laki:Ln HHm = – 103.67 + 14.19 ln T

Persamaan IMR perempuan: Ln IMRf = 1749.84- 229.67 ln T

Persamaan IMR laki-laki: Ln IMRm = 1335.85 – 175.20 ln T

Tabel 5.6.        Perkiraan HH dan IMR Propinsi Jambi Tahun 2005 – 2025

Uraian

Tahun

2005-2010

2010-2015

2015-2020

2020-2025

Harapan Hidup           Perempuan

72.0

74.8

77.6

80.0

                                       Laki-laki

68.4

71.0

73.6

76.0

IMR                              Perempuan

24.49

15.9

8.87

4.45

                                      Laki-laki

31.68

22.35

14.4

8.61

Harapan hidup perempuan diperkirakan akan bertambah sebanyak 8 tahun, dimana pada periode 2005-2010 sebesar 72 tahun menjadi 80 tahun pada periode 2020-2025, sedangkan harapan hidup laki-laki bertambah 7,6 tahun dari 68,4 tahun pada periode 2005-2010 menjadi 76 tahun pada periode 2020-2025. Selanjutnya, angka kematian bayi untuk perempuan diperkirakan akan mengalami penurunan dari 24,29 perseribu kelahiran bayi perempuan pada tahun 2005-2010 menjadi 4,45 perseribu kelahiran bayi perempuan pada periode 2020 – 2025. Demikian juga, angka kematian bayi untuk laki-laki akan mengalami penurunan dari 31,68 perseribu kelahiran bayi laki-laki pada tahun 2005 – 2010 menjadi 8,61 perseribu kelahiran bayi laki-laki pada tahun 2020 – 2025.

5.4.3. Asumsi Migrasi dan Model REMI-EDFS

Sesuai dengan ketersediaan data, variabel ekonomi yang digunakan untuk memprediksi migrasi adalah variabel peluang kerja relatif (REO) dan tingkat upah relatif (RWR). Peluang kerja relatif disederhanakan sebagai ratio probabilita mendapakan pekerjaan di Propinsi Jambi dengan probabalita mendapatkan pekerjaan secara nasional. Probabilita mendapatkan pekerjaan itu sendiri diukur dari perbandingan kesempatan kerja terhadap angkatan kerja. Selanjutnya, tingkat upah relatif disederhanakan sebagai perbandingan antara rata-rata upah minimum Propinsi Jambi dengan rata-rata upah minimum nasional.

Tabel 5.7.        REO, RWR dan Migrasi Neto Propinsi Jambi Tahun 1990 – 2005

 

1990

1995

2000

2005

Propinsi Jambi          Angkatan Kerja

825198

945741

1179317

1575913

                                    Kesempatan Kerja

785642

884944

1121350

1453464

Indonesia                   Angkatan Kerja

77803000

86361000

95651000

106305000

                                    Kesempatan Kerja

75851000

80110000

89538872

95112000

Peluang Kerja Relatif (REO)

0.98

1.01

1.02

1.03

Rata-Rata Upah Minimum

 

 

 

 

Propinsi Jambi

121700

160200

214500

485000

Indonesia

136700

180000

225000

507697

Tingkat Upah Relatif (RWR)

0.89

0.89

0.95

0.96

Migrasi neto (NMR)

 

3.6

2.2

1.4

 

Berdasarkan data REO, RWR dan NMR selama periode 1990-2005 dibangun model “time-series” yang mengikuti trend log linear (regresi log-linear), sebagai berikut:

Ln NMR = 9.80 – 245.83 REO + 39.05 RWR

Selanjutnya, untuk mendapatkan perkiraan migrasi, dilakukan perkiraan terhadap REO dan RWR. Perkiraan REO dan RWR selama periode proyeksi menggunakan kecenderungan linear kedua variabel tersebut selama periode 1990 – 2005.

Tabel 5.8. Perkiraan REO, RWR dan NMR Propinsi Jambi Tahun 2010 – 2025

Tahun

REO

RWR

NMR

2010

1.04

1.04

3.17

2015

1.06

1.12

2.56

2020

1.07

1.20

1.98

2025

1.08

1.28

1.19

5.4.2. Proyeksi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Berdasarkan data penduduk tahun 2005 dan asumsi fertilitas, mortalitas dan migrasi, diberikan proyeksi penduduk Propinsi Jambi selama periode 2010 – 2025, sebagai berikut:

Tabel 5.9.Perkiraan Penduduk Prop. Jambi Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010-2025

Uraian

2010

2015

2020

2025

Perempuan

1463696

1573798

1673325

1758197

Laki-Laki

1476551

1581925

1675978

1754435

Pr + Lk

2940248

3155723

3349303

3512632

Pert/th  (%)

2.13

1.47

1.23

0.88

Seks Ratio

100.88

100.52

100.16

99.79

Tingkat pertumbuhan penduduk Propinsi Jambi terus mengalami penurunan. Pada tahun 2005-2010 sebesar 2,13 persen pertahun, menjadi 0,88 persen pertahun pada periode 2020 – 2025. Pertumbuhan penduduk perempuan lebih cepat dibandingkan laki-laki, sehingga proporsi penduduk perempuan terus meningkat. Hal ini dapat dilihat dari penurunan seks ratio yang semula pada tahun 2005 sebesar 101,24 (lihat tabel 5.1.) menjadi 99,79 pada tahun 2025.

Tabel 5.10.Penduduk Propinsi Jambi Menurut Kelompok Umur Tahun 2010 – 2025

Tahun

Umur (tahun)

Jumlah

0 – 14

15 – 64

65 +

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

2010

848108

28.84

1982722

67.43

109418

3.72

2940248

2015

836613

26.51

2186560

69.29

132550

4.20

3155723

2020

846476

25.27

2314264

69.10

188563

5.63

3349303

2025

793817

22.60

2460776

70.06

258039

7.35

3512632

 

Selama periode 2010 – 2025 struktur umur penduduk semakin mengarah pada struktur penduduk tua. Pada tahun 2010 proporsi penduduk usia di bawah 15 tahun sebesar 28.84 persen, dan usia 65 tahun ke atas sebesar 3,72 persen. Pada tahun 2025, proporsi penduduk usia 0 – 14 tahun turun menjadi 22,60 persen, sebaliknya, proporsi penduduk usia 65 tahun ke atas meningkat menjadi 7,35 persen.

5.4.3. Komponen Pertumbuhan Penduduk Propinsi Jambi Tahun 2005 – 2025

Pada periode 2005–2025, kelahiran (CBR) diperkirakan masih memberikan share yang besar terhadap pertumbuhan penduduk, diikuti oleh migrasi (NMR) dan kematian (CDR).  Selama periode proyeksi ketiga komponen pertumbuhan tersebut diperkirakan akan mengalami penurunan, dengan penurunan tertinggi terjadi pada tingkat migrasi bersih, diikuti oleh angka kelahiran dan angka kematian.

Tabel 5.11.Komponen Pertumbuhan Penduduk Prop. Jambi Tahun 2005 – 2025

Uraian

2005-2010

2010-2015

2015-2020

2020-2025

Penduduk

2798892

3047985

3252512

3430967

Kelahiran pertahun

61599

50933

48780

44364

Kematian pertahun

13937

15650

16495

15783

Migrasi bersih pertahun

8880

7813

6432

4085

Tingkat (ribu penduduk/thn)

CBR

22.0

16.7

15.0

12.9

CDR

5.0

5.1

5.1

4.6

Pertambahan alami

17.0

11.6

9.9

8.3

NMR

3.2

2.6

2.0

1.2

Pertambahan penduduk

20.2

14.2

11.9

9.5

 

 

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  1. Pada tahun 2025 diperkirakan jumlah penduduk Propinsi Jambi adalah sebanyak 3.512.632 jiwa, terdiri dari penduduk perempuan sebanyak 1.758.197 jiwa dan laki-laki 1.754.435. Selama periode 2005 – 2025 diperkirakan pertumbuhan penduduk Propinsi Jambi akan terus mengalami penurunan.
  2. Dari sisi seks ratio, diperkirakan akan terjadi penurunan seks ratio, dimana pada tahun 2005 sebesar 101,24 menjadi 99,79 pada tahun 2025.
  3. Diperkirakan penurunan fertilitas lebih cepat dibandingkan mortalitas. Fertilitas (CBR) mengalami penurunan dari 22 perseribu penduduk pada tahun 2005-2010 menjadi 12,9 perseribu penduduk pada tahun 2020-2025. Sedangkan mortalitas (CDR) mengalami penurunan dari 5,0 perseribu penduduk pada tahun 2005-2010 menjadi 4,6 perseribu penduduk pada tahun 2020-2025
  4. Diperkirakan migrasi bersih Propinsi Jambi selama periode 2005 – 2025 menunjukkan angka positif, namun demikian akan terjadi kecenderungan penurunan dari angka positif tersebut. Penurunan ini terutama karena adanya pengaruh negatif dari peluang kerja relatif di Propinsi Jambi. Sebaliknya, meskipun tingkat upah relatif menunjukkan pengaruh positif, namun pengaruhnya relatif kecil.

6.2. Saran-Saran

  1. Pemerintah Propinsi Jambi perlu memperhatikan kecenderungan pertambahan dan komposisi penduduk menurut umur dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar penduduk seperti pendidikan, kesehatan, pangan dan perumahan.
  2. Memperhatkan struktur umur penduduk Propinsi Jambi yang masih bersifat constictive, dalam rangka mencegah terjadinya kembali ledakan penduduk, maka pemerintah perlu lebih mengintensifkan peningkatan program keluarga berencana.
  3. Metode proyeksi ini masih memiliki beberapa kelemahan mendasar terutama terkait dengan ketersediaan data untuk mendukung model proyeksi. Oleh karenanya, untuk penelitian kedepan, modifikasi model perlu dilakukan yang berorientasi pada ketersediaan data.

DAFTAR PUSTAKA

Borts G and Stein J. 1964. Economic Growth in a Free Market. New York. Columbia University Press

Greenwood. 1981. Migration and Economic Growth in United States: National Regional and Metropolitan Perspectives. New York. Academic Press.

Isserman, Andrew. 1977. Accuracy of Population Projections for Sub-county Areas,Journal of American Institute of Planners. Vol 43, pp- 247- 59.

Klosterman, Richard E. 1990. Community Analysis and Planning Techniques. Savage.Rowman & Littlefield, c1990.

Muth R. 1971. Migration: Chicken or Egg, Southern Economic Journal. Vol 37, pp 295-306. Chapel Hill. Southern Economic Association.

Plane D. 1993. Demographic influences on Migration. Regional Studies. Vol 27, pp 375-383. Cambridge, Cambridge University Press.

Regional Economic Models, Inc.. REMI Policy Insight. User Guide Versi 9.West Street. Amherst.

Smith, Stanley , Jeff, Tayman, and David, Swanson. 2001. State and Local PopulationProjections: Methodology and Analysis. New York. Kluwer Academic/ Plenum Publishers.

Treyz, George. 1993. Regional Economic modeling : A Systematic Approach toEconomic Forecasting and Policy Analysis. Boston, Kluwer Academic.

 

Analisis Transfer Pendapatan (Remitan) Migran dari Pulau Jawa di Propinsi Jambi

Oleh : Junaidi, Hardiani, Erfit

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam teori ekonomi neoklasik, mobilitas penduduk di- pandang sebagai mobilitas geografis tenaga kerja, yang me- rupakan respon terhadap ketidakseimbangan distribusi ke- ruangan lahan, tenaga kerja, kapital dan sumberdaya alam. Ketidakseimbangan lokasi geografis faktor produksi tersebut pada gilirannya mempengaruhi arah dan volume migrasi.

Tenaga kerja akan pindah dari tempat dengan kapital langka dan tenaga kerja banyak (karenanya upah rendah) ke tempat dengan kapital banyak dan tenaga kerja langka (karenanya upah tinggi). Oleh karenanya Spengler dan Myers (1977) dalam Wood (1982) mengemukakan migrasi dapat dipandang sebagai suatu proses yang membantu pemerataan pem-bangunan yang bekerja dengan cara memperbaiki ketidakseimbangan hasil faktor produksi antar daerah.

Migrasi yang terjadi di negara-negara sedang berkembang dipandang memiliki efek yang sama. Namun, terdapat fenomena khusus dari migrasi di negara-negara ini, yang diperkirakan lebih mempercepat pemerataan pembangunan. Fenomena tersebut berbentuk transfer pendapatan ke daerah asal (baik berupa uang ataupun barang), yang dalam teori migrasi dikenal dengan istilah remitan (remittance). Menurut Connel (1980), di negara-negara sedang berkembang terdapat hubungan yang sangat erat antara migran dengan daerah asalnya, dan hal tersebutlah yang memunculkan fenomena remitan.

Salah satu daerah tujuan perpindahan penduduk di Indonesia adalah Propinsi Jambi. Selama tahun 1990-1995, jumlah migran (selain migran melalui transmigrasi) di Propinsi Jambi mencapai 81.884 jiwa. Migran ini berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Namun dirinci lebih jauh, ternyata sebagian besar (49.130 jiwa atau 60,00 persen) berasal dari Pulau Jawa (BPS,1995).

Dibandingkan dengan migran dari daerah/suku lain di Indonesia, migran dari pulau/suku Jawa mempunyai ikatan yang lebih erat dengan daerah asalnya (Mulder,1978 dalam Mantra,1994). Sebagai konsekwensinya, ini diduga menyebabkan intensitas remitan mereka juga relatif lebih tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, maka menarik untuk melakukan penelitian mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan transfer pendapatan ke daerah asal (remitan) migran dari Pulau Jawa di Propinsi Jambi.

1.2. Perumusan Masalah

Remitan pada dasarnya memiliki dua sisi yang berlawanan arah. Di satu sisi, besarnya remitan yang dikirimkan ke daerah asal dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga migran di daerah asal khususnya, dan percepatan pembangunan daerah asal pada umumnya. Di sisi lain, besarnya remitan yang dikirim ke daerah asal, secara umum diketahui merupakan wujud dari “pengorbanan” yang dilakukan migran dengan cara meminimalkan pengeluaran/konsumsi (baik makanan, pakaian dan perumahan) di daerah tujuan. Konsekuensi dari meminimalkan pengeluaran ini, akan menyebabkan turunnya kualitas hidup dan lingkungan, seperti munculnya “pemukiman kumuh” di daerah tujuan.

Selain itu, dampak remitan juga tergantung pada tujuan utama pengiriman remitan. Remitan hanya akan berdampak positif pada pembangunan daerah asal jika ditujukan untuk kegiatan- kegiatan yang bersifat produktif, dan sebaliknya jika remitan lebih ditujukan untuk kegiatan-kegiatan yang kurang produktif, maka dampak remitan di daerah asal tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.

Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini akan mncoba membahas mengenai aspek-aspek remitan migran dari Pulau Jawa yang ada di Propinsi Jambi. Secara spesifik pertanyaan- pertanyaan yang ingin didapatkan penjelasannya dalam penelitian ini adalah : 1). Berapakah besarnya dan proporsi penghasilan migran asal Pulau Jawa yang berada di Propinsi Jambi, yang dikirimkan sebagai remitan ? 2). Apakah tujuan utama remitan yang dikirimkan oleh migran ? 3). Faktor-faktor apakah yang menentukan besarnya remitan yang dikirimkan oleh migran ?

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Remitan, Pembangunan Daerah Asal dan Pola Konsumsi Migran di Daerah Tujuan

Remitan dalam konteks migrasi di negara-negara sedang berkembang merupakan bentuk upaya migran dalam menjaga kelangsungan ikatan sosial ekonomi dengan daerah asal, meskipun secara geografis mereka terpisah jauh. Selain itu, migran mengirim remitan karena secara moral maupun sosial mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan (Curson,1983). Kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang migran, sudah ditanamkan sejak masih kanak-kanak. Masyarakat akan menghargai migran yang secara rutin mengirim remitan ke daerah asal, dan sebaliknya akan merendahkan migran yang tidak bisa memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, remitan dari migran dipandang sebagai suatu instrumen dalam memperbaiki keseimbangan pembayaran, dan merangsang tabungan dan investasi di daerah asal. Oleh karenanya dapat dikemukakan bahwa remitan menjadi komponen penting dalam mengkaitkan mobilitas pekerja dengan proses pembangunan di daerah asal.

Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan di daerah Jatinom Jawa Tengah (Effendi, 1993). Sejak pertengahan tahun 1980an, seiring dengan meningkatnya mobilitas pekerja, terjadi perubahan pola makanan keluarga migran di daerah asal menuju pada pola makanan dengan gizi sehat. Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari peningkatan daya beli keluarga migran di daerah asal, sebagai akibat adanya remitan.

Peningkatan daya beli tidak hanya berpengaruh pada pola makanan, namun juga berpengaruh pada kemampuan membeli barang- barang konsumsi rumah tangga lainnya, seperti pakaian, sepatu, alat-alat dapur, radio, televisi dan sepeda motor. Permintaan akan barang-barang tersebut telah memunculkan peluang berusaha di sektor perdagangan, dan pada tahap selanjutnya berefek ganda pada peluang berusaha di sektor lainnya.

Namun di sisi lain, remitan ternyata tidak hanya mempengaruhi pola konsumsi keluarga migran di daerah asal. Dalam kerangka pemupukan remitan, migran berusaha melakukan berbagai kompromi untuk mengalokasikan sumberdaya yang dimilikinya, dan mengadopsi pola konsumsi tersendiri di daerah tujuan.

Para migran akan melakukan “pengorbanan” dalam hal makanan, pakaian, dan perumahan supaya bisa menabung dan akhirnya bisa mengirim remitan ke daerah asal. Secara sederhana para migran akan meminimalkan pengeluaran untuk memaksimalkan pendapatan. Migran yang berpendapatan rendah dan tenaga kerja tidak terampil, akan mencari rumah yang paling murah dan biasanya merupakan pemukiman miskin di pusat-pusat kota.

Bijlmer (1986) mengemukakan bahwa untuk memperbesar remitan, ada kecenderungan migran mengadopsi sistem pondok, yakni tinggal secara bersama-sama dalam satu rumah sewa atau bedeng di daerah tujuan. Sistem pondok memungkinkan para migran untuk menekan biaya hidup, terutama biaya makan dan penginapan selama bekerja di kota.

Hal yang sama juga ditemukan oleh Mantra (1994) dalam penelitiannya di berbagai daerah di Indonesia. Buruh-buruh bangunan yang berasal dari Jawa Timur yang bekerja di proyek pariwisata Nusa Dua Bali, tinggal di bedeng-bedeng yang kumuh untuk mengurangi pengeluaran akomodasi. di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim ditemukan pada tukang becak di Yogyakarta yang berasal dari Klaten. Pada waktu malam hari tidur di becaknya untuk menghindari pengeluaran menyewa pondokan.

2.2. Faktor Penentu Remitan

Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa besarnya remitan yang dikirimkan migran ke daerah asal relatif bervariasi. Penelitian yang dilakukan Rose dkk (1969) dalam Curson (1983) terhadap migran di Birmingham menemukan bahwa remitan migran India sebesar 6,3 persen dari penghasilannya sedangkan migran Pakistan mencapai 12,1 persen. Bahkan dalam penelitian yang dilakukan Jellinek (1978) dalam Effendi (1993) menemukan bahwa remitan yang dikirimkan para migran penjual es krim di Jakarta mencapai 50 persen dari penghasilan yang diperolehnya.

Besar kecilnya remitan ditentukan oleh berbagai karakteristik migrasi maupun migran itu sendiri. Karakteristik tersebut mencakup sifat mobilitas/migrasi, lamanya di daerah tujuan, tingkat pendidikan migran, penghasilan migran serta sifat hubungan migran dengan keluarga yang ditinggalkan di daerah asal.

Berkaitan dengan sifat mobilitas/migrasi dari pekerja, terdapat kecenderungan pada mobilitas pekerja yang bersifat permanen, remitan lebih kecil dibandingkan dengan yang bersifat sementara (sirkuler) (Connel,1980). Hugo (1978) dalam penelitian di 14 desa di Jawa Barat menemukan bahwa remitan yang dikirimkan oleh migran sirkuler merupakan 47,7 persen dari pendapatan rumah tangga di daerah asal, sedangkan pada migran permanen hanya 8,00 persen.

Sejalan dengan hal tersebut, besarnya remitan juga dipengaruhi oleh lamanya migran menetap (bermigrasi) di daerah tujuan. Lucas dkk (1985) mengemukakan bahwa semakin lama migran menetap di daerah tujuan maka akan semakin kecil remitan yang dikirimkan ke daerah asal.

Adanya arah pengaruh yang negatif ini selain disebabkan oleh semakin berkurangnya beban tanggungan migran di daerah asal (misalnya anak-anak migran di daerah asal sudah mampu bekerja sendiri), juga disebabkan oleh semakin berkurangnya ikatan sosial dengan masyarakat di daerah asal. Migran yang telah menetap lama umumnya mulai mampu menjalin hubungan kekerabatan baru dengan masyarakat/ lingkungan di daerah tujuannya.

Tingkat pendidikan migran lebih cenderung memiliki pengaruh yang positif terhadap remitan. Rempel dan Lobdell (1978) mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan migran, maka akan semakin besar remitan yang dikirimkan ke daerah asal. Hal ini pada dasarnya berkaitan dengan fungsi remitan sebagai pembayaran kembali (repayment) investasi pendidikan yang telah ditanamkan keluarga kepada individu migran. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan migran menunjukkan besar kecilnya investasi pendidikan yang ditanamkan keluarga, dan pada tahap selanjutnya berdampak pada besar kecilnya “repayment” yang diwujudkan dalam remitan.

Pengaruh positif juga ditemukan antara penghasilan migran dan remitan (Wiyono,1994). Remitan pada dasarnya adalah bagian dari penghasilan migran yang disisihkan untuk dikirimkan ke daerah asal. Dengan demikian, secara logis dapat dikemukakan semakin besar penghasilan migran maka akan semakin besar remitan yang dikirimkan ke daerah asal.

Besarnya remitan juga tergantung pada hubungan migran dengan keluarga penerima remitan di daerah asal. Keluarga di daerah asal dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu keluarga inti (batih) yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak, serta keluarga di luar keluarga inti. Dalam konteks ini, Mantra (1994) mengemukakan bahwa remitan akan lebih besar jika keluarga penerima remitan di daerah asal adalah keluarga inti. Sebaliknya, remitan akan lebih kecil jika keluarga penerima remitan di daerah asal bukan keluarga inti.

2.3. Tujuan Utama Remitan

    Tujuan pengiriman remitan akan menentukan dampak remitan terhadap pembangunan daerah asal. Berbagai pemikiran dan hasil penelitian telah menemukan keberagaman tujuan remitan ini, namun demikian dapat dikelompokkan atas tujuan-tujuan sebagai berikut:

a. Kebutuhan hidup sehari-hari keluarga

    Sejumlah besar remitan yang dikirim oleh migran berfungsi untuk menyokong kerabat/keluarga migran yang ada di daerah asal. Migran mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengirimkan uang/barang untuk menyokong biaya hidup sehari- hari dari kerabat dan keluarganya, terutama untuk anak-anak dan orang tua. Hal ini ditemukan Caldwell (1969) dalam Mantra (1994) pada penelitian di Ghana, Afrika. Di daerah ini, 73 persen dari total remitan yang dikirimkan oleh migran ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari keluarga di daerah asal.

b. Peringatan hari-hari besar yang berhubungan dengan siklus hidup manusia

    Di samping mempunyai tanggung jawab terhadap kebutuhan hidup sehari-hari keluarga dan kerabatnya, seorang migran juga berusaha untuk dapat pulang ke daerah asal pada saat diadakan peringatan hari-hari besar yang berhubungan dengan siklus hidup manusia, misalnya kelahiran, perkawinan, dan kematian. Menurut Curson (1983) pada saat itulah, jumlah remitan yang dikirim atau ditinggalkan lebih besar daripada hari-hari biasa.

c. Investasi

    Bentuk investasi adalah perbaikan dan pembangunan perumahan, membeli tanah, mendirikan industri kecil, dan lain-lainnya. Kegiatan ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sebagai sarana sosial dan budaya dalam menjaga kelangsungan hidup di daerah asal, tetapi juga bersifat psikologis, karena erat hubungannya dengan prestise seseorang.

Effendi (1993) dalam penelitiannya di tiga desa Jatinom, Klaten menemukan bahwa remitan telah digunakan untuk modal usaha pada usaha-usaha skala kecil seperti pertanian jeruk, peternakan ayam, perdangan dan bengkel sepeda.

d. Jaminan hari tua

    Migran mempunyai keinginan, jika mereka mempunyai cukup uang atau sudah pensiun, mereka akan kembali ke daerah asal. Hal ini erat kaitannya dengan fungsi investasi, mereka akan membangun rumah atau membeli tanah di daerah asal sebagai simbol kesejahteraan, prestisius, dan kesuksesan di daerah rantau. Lee (1992) mengemukakan bahwa berbagai pengalaman baru yang diperoleh di tempat tujuan, apakah itu keterampilan khusus atau kekayaan, sering dapat menyebabkan orang kembali ke tempat asal dengan posisi yang lebih menguntungkan Selain itu, tidak semua yang bermigrasi bermaksud menetap selama- lamanya di tempat tujuan.

III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengetahui besar dan proporsi penghasilan migran asal Pulau Jawa di Propinsi Jambi, yang dikirimkan sebagai remitan, 2). Menganalisis tujuan utama remitan yang dikirimkan oleh migran, 3). Menganalisis faktor- faktor yang menentukan besarnya remitan yang dikirimkan oleh migran

3.2. Manfaat Penelitian

    Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan buah pikiran bagi pemerintah dalam mengarahkan migrasi khususnya yang terkait remitan, agar tercapainya keseimbangan pembangunan baik di daerah asal dan daerah tujuan, serta meningkatnya kesejahteraan migran dan keluarganya.

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam mengkaji kaitan antara pembangunan dengan mobilitas atau migrasi pekerja.

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Populasi dan Sampel

    Populasi dalam penelitian ini adalah migran dari Pulau Jawa yang berada di Propinsi Jambi. Jumlah populasi pada tahun 1995 adalah sebanyak 49.130 jiwa (data tahun-tahun sesudahnya tidak tersedia, meskipun demikian diduga jumlah migran ini mengalami peningkatan setiap tahunnya).

Secara geografis, migran tersebar pada semua Kabupaten/ Kota di Propinsi Jambi dan menyebar pada berbagai jenis pekerjaan. Oleh karenanya, dalam mengarahkan penelitian, penentuan sampelnya dilakukan melalui tiga tahap sebagai berikut:

1. Tahap pertama adalah pemilihan salah satu Kabupaten/Kota sebagai lokasi penelitian. Pemilihan lokasi dilakukan seca- ra purposive (secara disengaja). Dari sepuluh Kabupaten/ Kota di Propinsi Jambi, ditetapkan Kota Jambi sebagai daerah sampel penelitian. Dasar pertimbangan pemilihan, karena Kota Jambi sebagai ibu kota Propinsi Jambi sekaligus merupakan pusat perekonomian dan perdagangan sehingga pem- bangunan yang lebih pesat dilakukan di daerah ini. Oleh ka- renanya juga memiliki migran asal Pulau Jawa yang lebih ba- nyak dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya di Propinsi Jambi.

2. Tahap kedua adalah penentuan sampel berdasarkan jenis pekerjaan migran. Dari survai pendahuluan, ditemukan bahwa pekerjaan sebagai pedagang bakso umumnya didominasi oleh migran dari Pulau Jawa. Oleh karenanya, secara purposive ditetapkan sampel penelitian adalah migran dari Pulau Jawa yang bekerja sebagai pedagang bakso.

3. Tahap ketiga adalah penentuan sampel yang dijadikan responden penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode “snowballing-multiple entry”. Metode ini digunakan mengingat tidak tersedianya data alamat pedagang bakso. Pada setiap kecamatan yang ada di Kota Jambi (delapan kecamatan) ditentukan masing-masing satu orang “responden pertama” pedagang bakso. Dari responden pertama selanjutnya ditentukan responden yang lain dengan cara menanyakan kepada responden pertama tersebut pedagang bakso lainnya yang dikenal.

Jumlah sampel yang diambil sebanyak 80 orang. Jumlah ini didasarkan pada rancangan bahwa secara rata-rata masing- masing responden pertama memberikan 9 orang pedagang bakso lainnya yang dikenal.

4.2. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan

    Penelitian menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui wawancara pada responden pedagang bakso dengan berpedoman pada kuesioner yang telah disusun sebelumnya. Disamping itu dilakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas kehidupan pedagang bakso dalam rangka mempertajam analisis.

4.3. Alat Analisis

Analisis Tujuan 1

Untuk menganalisis besar dan proporsi penghasilan migran yang dikirimkan sebagai remitan, digunakan alat analisis/pengukuran-pengukuran statistik deskriptif serta bantuan tabel frekuensi tunggal dan tabel frekuensi silang. Dalam konteks ini, juga akan dianalisis saluran institusi yang digunakan dalam pengiriman remitan tersebut.

Analisis Tujuan 2

Untuk menganalisis tujuan penggunaan remitan, juga digunakan alat analisis/pengukuran-pengukuran statistik deskriptif serta bantuan tabel frekuensi tunggal dan tabel frekuensi silang. Dalam konteks ini juga akan dianalisis pihak keluarga penerima remitan, berdasarkan tujuan remitan tersebut.

Analisis Tujuan 3

Untuk menganalisis faktor-faktor yang menentukan besarnya remitan yang dikirimkan oleh migran digunakan alat analisis regresi berganda. Persamaan regresi yang diajukan adalah sebagai berikut :

RM = ßo + ß1SM + ß2LT + ß3PD + ß4PM + ß5SK + e

dimana :

RM = Besarnya remitan

SM = Sifat mobilitas/migrasi dari migran, merupakan

variabel dummy

1 = migran sementara/non-permanen

0 = migran permanen

LT = Lamanya migran (dalam bulan) di daerah tujuan

(Kotamadia Jambi)

PD = Pendidikan

PM = Penghasilan migran

SK = hubungan migran dengan keluarga di daerah asal,

merupakan variabel dummy

1 = keluarga inti

0 = bukan keluarga inti

Dalam penaksiran koefisien regresi digunakan prosedur ordinary least square (OLS). Selanjutnya, untuk menentukan tingkat keberartiannya, variabel-variabel yang berpengaruh terhadap besarnya remitan, diuji dengan menggunakan kriteria uji t-statistik.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Migran dan Migrasi

Secara keseluruhan, umur migran berkisar antara 20 sampai 62 tahun dengan rata-rata umur 33,7 tahun. Selanjutnya dari distribusi umur migran memperlihatkan hampir separuhnya (45,00 persen) berumur antara 30-39 tahun, dengan proporsi terendah berumur 40 tahun atau lebih.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa migran umumnya adalah mereka yang berada pada puncak usia kerja. Sesuai dengan hasil analisis berbagai data sekunder tentang ketenagakerjaan secara nyata memperlihatkan penduduk pada kelompok umur 30-39 tahun memiliki TPAK yang mendekati angka 100.

Sesuai dengan rata-rata umur migran responden, sebagian besar (76 orang atau 95,00 persen) dari responden adalah mereka yang berstatus kawin. Hanya 1 orang (1,25 persen) dari migran yang berstatus belum kawin. Selain itu terdapat 3 orang (3,75 persen) yang berstatus cerai mati.

Dari sisi pendidikan dapat dikemukakan relatif rendahnya pendidikan formal migran. Hanya 16,25 persen migran yang berpendidikan SLTP ke atas, sedangkan sebagian besar lainnya 83,75 persen berpendidikan tamat SD atau tidak pernah sekolah/tidak tamat SD. Rendahnya pendidikan formal responden merupakan konsekwensi logis dari pilihan responden penelitian ini yang bekerja sebagai pedagang bakso.

Selanjutnya jika dilihat dari propinsi asalnya, semua migran yang menjadi responden penelitian ini berasal dari Propinsi Jawa Tengah. Fenomena ini pada dasarnya merupakan suatu fenomena yang dikenal dengan istilah “pekerjaan menurut etnis”. Pada berbagai daerah lain di Indonesia, juga ditemukan adanya dominasi migran dari Jawa Tengah yang memiliki mata pencaharian sebagai pedagang bakso.

Meskipun demikian daerah asal migran ini masih dapat dibedakan menurut kabupatennya. Terdapat empat kabupaten asal responden yaitu Sukoharjo, Karang Anyar, Wonogiri dan Sragen. Proporsi terbesar dari migran berasal dari Kabupaten Wonogiri dengan proporsi terendah berasal dari Sragen.

Selanjutnya berkaitan dengan karakteristik migrasinya dapat dikemukakan bahwa tahun migrasi responden relatif lama, yaitu rata-rata 13,9 tahun menetap di Kota Jambi. Dikaitkan dengan rata-rata umur responden, terlihat bahwa secara rata- rata responden telah melakukan perpindahan ke Kota Jambi berkisar pada umur 19 dan 20 tahun (tabel 2).

Berkaitan dengan status migrasi responden dapat dikemukakan, meskipun tahun migrasinya relatif telah lama, namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa proporsi migran permanen dan non-permanen hampir sama besar, yaitu 53,75 persen untuk migran permanen dan 46,25 persen untuk migran non-permanen.

Ditelusuri lebih jauh, ditemukan fakta bahwa dari 37 responden yang ingin kembali ke daerah asal, sebagian besar diantaranya (32 responden atau 86,49 persen) menyatakan ingin kembali setelah tidak mampu lagi bekerja. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa migran non-permanen ini sebagai migran kehidupan kerja (mereka yang ingin kembali ke daeah asal setelah tidap mampu lagi bekerja).

5.2. Pendapatan dan Remitan

    Secara rata-rata pendapatan responden sebesar Rp 7,056 juta pertahun. Pendapatan ini memiliki variasi yang relatif tinggi antar responden, dimana terdapat responden yang memiliki pendapatan Rp 5 juta atau kurang, tetapi juga terdapat responden dengan pendapatan di atas Rp 12,5 juta pertahunnya.

    Selanjutnya sepertiga (33,8 persen) dari responden memiliki pendapatan sebesar Rp 5 juta atau kurang pertahunnya, diikuti dengan proporsi responden yang memiliki pendapatan di atas Rp 5juta sampai dengan Rp 7,5 juta. Selanjutnya, dengan proporsi terkecil (11,3 persen) adalah responden dengan pendapatan di atas Rp 12,5 juta.

Pendapatan yang diterima migran telah dialokasikan pada berbagai penggunaan, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Kota Jambi (daerah migrasi), sebagai tabungan (simpanan) maupun dialokasikan untuk remitan. Khusus untuk remitan dapat dikemukakan bahwa selama setahun terakhir, secara rata-rata remitan yang dikirimkan migran ke daerah asalnya mencapai 1,366 juta perorangny. Jumlah ini cukup besar mengingat rata-rata pendapatan responden yang hanya Rp 7,056 juta pertahun, yang berarti mencapai 19,37 persen dari penghasilannya.

    Jika diamati lebih jauh pada masing-masing kelompok pendapatan, terdapat suatu fenomena yang menarik. Besarnya remitan memiliki hubungan yang searah dengan besarnya pendapatan, di mana semakin tinggi pendapatan semakin besar nominal remitan yang dikirimkan migran ke daerah asalnya. Namun demikian, dari sisi proporsi remitan terhadap pendapatan migran terlihat bahwa relatif lebih besarnya proporsi pada kelompok pendapatan terendah dan pendapatan tertinggi, jika dibandingkan dengan tiga kelompok pendapatan diantaranya.

Fenomena ini pada dasarnya dapat dijelaskan melalui kerangka tujuan remitan itu sendiri. Migran pada kelompok pendapatan rendah umumnya adalah migran dengan tahun migrasi yang relatif belum terlalu lama. Dengan pengalaman usaha yang masih rendah, yang menyebabkan pendapatan usaha mereka juga masih rendah, sebagian besar remitan masih meninggalkan anak atau istrinya di daerah asal. Oleh karenanya, migran pada kelompok ini secara rutin mengirimkan sebagian besar pendapatan kepada keluarganya di daerah asal dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan.

Sebaliknya pada migran kelompok pendapatan tinggi, meskipun keluarga intinya telah berada di daerah migrasi (Kota Jambi), tetapi dengan kelebihan pendapatan dan adanya niat untuk kembali ke daerah asal, sebagian besar diantaranya mengirimkan remitan untuk kepentingan investasi terutama membangun rumah dan pembelian lahan tani di daerah asalnya. Remitan yang dikirimkan untuk tujuan investasi ini, meskipun tidak dilakukan secara rutin, tetapi dengan nilai nomimal yang relatif besar.

5.3. Tujuan Utama Remitan

Berbagai penelitian terdahulu yang menunjukkan kuatnya kaitan ekonomi migran asal Pulau Jawa dengan daerah asalnya, ternyata juga didukung oleh hasil penelitian ini. Hanya 14 orang (17,50 persen) dari responden yang sama sekali belum pernah mengirimkan remitan ke daerah asal dalam setahun terakhir. Sebagian besar lainnya (82,50 persen) pernah mengirimkan dengan berbagai kepentingan remitan tersebut.

Pengiriman remitan dilakukan migran melalui berbagai saluran remitan. Dari total responden, 47 orang (58,75 persen) menyatakan mengirimkan melalui jasa pos, 32 orang (40,00 persen) menitipkan dengan kenalan/keluarga yang pulang kampung, sedangkan sisanya sebanyak 11 orang (13,75 persen) menggunakan jasa perbankan dalam pengirimannya.

Remitan juga dapat dipandang dari jumlah uang yang ditinggalkan responden pada saat pulang kampung. Dari 80 responden, 64 orang (80,00 persen) diantaranya pernah pulang ke daerah asal pada tahun terakhir, dan seluruhnya menyatakan telah meninggalkan sejumlah uang tertentu sebagai bagian dari remitan.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, remitan yang dikirimkan migran memiliki berbagai tujuan penggunaan di daerah asalnya. Penelitian menemukan terdapat empat tujuan utama pemberian remitan, yaitu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga di daerah asal (baik yang dikirimkan secara rutin maupun tidak rutin), untuk kepentingan perayaan keluarga seperti pesta perkawinan, untuk investasi (dalam penelitian ini terutama untuk pembelian/pembangunan rumah serta pembelian lahan tani), serta untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti bantuan pembangunan tempat ibadah di daerah asal.

    Dari 80 responden yang diteliti, secara keseluruhan jumlah remitan dalam setahun terakhir adalah sebanyak Rp 109,375 juta. Dari jumlah tersebut terlihat jumlah remitan yang dikirimkan hampir tidak menunjukkan perbedaan yang berarti dengan jumlah yang ditinggalkan. Kenyataan ini juga memberikan arti walaupun responden tidak pernah mengirimkan remitannya ke daerah asal, tidak selalu berarti besarnya remitan yang diberikan (dengan cara memberikan pada saat pulang kampung) lebih kecil dari yang lainnya.

Berdasarkan tujuan remitan, dapat dikemukakan proporsi terbesar dari tujuan remitan adalah untuk investasi yang mencapai 74,66 persen. Pada urutan kedua adalah untuk kepentingan kebutuhan sehari-hari pada keluarga di daerah asal, dan proporsi terkecil adalah untuk kegiatan sosial.

Remitan yang ditujukan secara langsung untuk kepentingan keluarga (untuk kebutuhan sehari-hari dan perayaan keluarga), tidak hanya diberikan pada salah seorang keluarga saja. Berdasarkan hubungannya dengan responden, penerima remitan dapat terdiri dari isteri, anak, orang tua/mertua, adik/kakak, paman/kakek, maupun anggota keluarga lainnya.

Isteri adalah penerima utama untuk remitan kebutuhan sehari-hari yang diberikan secara rutin. Sebaliknya untuk tujuan yang sama tetapi tidak diberikan secara rutin, penerima dengan proporsi terbesar adalah pihak orang tua/mertua. Berkaitan dengan hal tersebut, orang tua/mertua juga merupakan pihak yang terutama mendapatkan bantuan remitan untuk kepentingan perayaan-perayaan keluarga.

5.4. Faktor Penentu Remitan

    Lima variabel diajukan untuk menganalisis faktor penentu besar kecilnya remitan (RM) yang diberikan oleh migran, yaitu sifat mobilitas atau status migran (SM), lamanya migran di Kota Jambi (LT), pendidikan (PD), pendapatan (PM) dan hubungan migran dengan keluarga di daerah asal (SK).

Berdasarkan kelima variabel tersebut diberikan persamaan regresi dan uji statistiknya sebagai berikut:

RM = 151,88 + 30,09SM – 0,31LT* – 0,58PD + 0,01PM** + 248,65SK**

SE (29,74) ( 0,16) ( 7,78) (0,00) (43,17)

t ( 1,01) (-2,01) (-0,74) (2,89) ( 5,76)

F = 20,35**

R² = 0,55

Keterangan : * signifikan pada level 95 %

** signifikan pada level 99 %

Berdasarkan uji parsial (uji t) masing-masing koefisien regresi dari lima variabel yang diajukan, tiga variabel yaitu lamanya bermigrasi, pendapatan dan hubungan migran dengan keluarga di daerah asal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besar kecilnya remitan yang dikirimkan. Dua variabel lainnya yaitu sifat mobilitas dan pendidikan tidak memiliki pengaruh yang berarti.

Lamanya bermigrasi memiliki pengaruh negatif terhadap remitan. Hal ini menunjukkan semakin lama tahun migrasi seorang migran, semakin kecil remitan yang diberikan ke daerah asal. Demikian juga sebaliknya.

Jika remitan dipandang sebagai bentuk upaya migran dalam menjaga kelangsungan ikatan sosial-ekonomi migran dengan daerah asalnya, maka hal tersebut mencerminkan bahwa semakin lama migran meninggalkan daerah asalnya, maka semakin berkurang keinginan migran dalam menjaga kelangsungan ikatan tersebut. Di sisi lain, adanya pengaruh negatif ini diduga karena mulai mapannya kehidupan migran di daerah migrasi, sehingga kebutuhan untuk menjaga ikatan sosial-ekonomi dengan daerah asal (dengan harapan jika kembali ke daerah asal dapat diterima oleh lingkungannya), juga semakin berkurang.

Pendapatan migran berpengaruh positif terhadap remitan yang dikirimkan. Di satu sisi, ini merupakan konsekwensi logis karena remitan merupakan bagian dari pendapatan migran yang disisihkan (meskipun dari proporsinya hubungan tersebut tidak terlihat nyata, disebabkan adanya perbedaan tujuan remitan pada masing-masing kelompok pendapatan). Meskipun demikian, di sisi lain temuan ini berimplikasi bahwa keberhasilan migran di daerah tujuan akan berdampak positif bagi pembangunan di daerah asal (melalui multiplier efect remitan tersebut).

Hubungan migran dengan keluarga di daerah asal, (sebagai variabel dummy dalam persamaan ini), memberikan koefisien positif yang signifikan. Hal ini berarti bahwa remitan dari migran yang meninggalkan keluarga inti (isteri atau anak) di daerah asal lebih besar dibandingkan dengan remitan migran yang tidak memiliki keluarga inti di daerah asal. Besarnya remitan tersebut disebabkan adanya tanggung jawab migran dalam membiayai kebutuhan hidup sehari-hari secara rutin untuk isteri atau anak yang ditinggalkannya.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Berdasarkan status migrasinya dapat dikemukakan bahwa hampir separuh (46,25 persen) dari migran asal Pulau Jawa di Jambi adalah migran permanen. Secara lebih jauh, untuk migran non-permanen ini, 86,49 persen diantaranya adalah migran kehidupan kerja, yang berniat untuk kembali ke daerah asal setelah tidak mampu lagi bekerja. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, strategi yang dilakukan migran kehidupan kerja ini terutama dengan mempersiapkan jaminan hari tua di daerah asal (persiapan rumah dan lahan tani), serta berusaha untuk menghemat pengeluaran hidup sehari-hari selama menjadi migran di Jambi.

2. Dari pendapatan migran, secara rata-rata 19,37 persen dialokasikan migran untuk remitan ke daerah asalnya. Persentase pendapatan yang dialokasikan untuk remitan ini relatif besar pada kelompok pendapatan terendah dan kelompok pendapatan tertinggi, dibandingkan kelompok pendapatan diantaranya.

3. Remitan yang dikirimkan maupun yang ditinggalkan pada saat pulang kampung memiliki berbagai tujuan penggunaan. Dari hasil penelitian, terdapat empat tujuan utama remitan yaitu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga di daerah asal, untuk perayaan keluarga, investasi dan untuk kegiatan sosial.

Secara proporsi, remitan untuk tujuan investasi menempati urutan pertama diikuti oleh remitan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk perayaan keluarga dan untuk kegiatan sosial.

Berdasarkan hubungannya dengan migran, penerima remitan terdiri dari isteri, anak, orang tua/mertua, kakak/ adik/kandung/ipar, paman maupun kakek.

4. Dari lima variabel yang diajukan terdapat tiga variabel yang signifikan mempengaruhi besar kecilnya remitan yaitu lamanya bermigrasi, pendapatan dan hubungan migran dengan keluarga di daerah asal. Dua variabel lainnya yaitu status mobilitas dan pendidikan tidak memiliki pengaruh yang berarti.

6.2. Saran-Saran

1. Fenomena lebih besarnya proporsi migran kehidupan kerja ini memberikan implikasi tersendiri terhadap distribusi penduduk. Arus migrasi keluar pada saat ini secara nyata memang mampu mengurangi tekanan penduduk di Pulau Jawa. Namun perlu dirumuskan kebijakan/program-program yang terutama untuk mengantisipasi arus migrasi kembali yang dapat meningkatkan kembali tekanan penduduk di Pulau Jawa.

2. Mengingat besarnya proporsi migran kehidupan kerja ini, maka perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut baik yang menyangkut fenomena-fenomena ekonomi,sosial dan budayanya.

DAFTAR PUSTAKA

Bijlmer,J. 1986. Employment and Accomodation in The  Ambuatory Street Economy: The Case of Surabaya  Indonesia. Institute of Cultural Anthropology/Sociolgy  of Development, Free University. Netherland BPS, 1995.  Penduduk Jambi: Hasil SUPAS 1995. Seri  S2.05.Jakarta

Connel,J. 1980. Remittances and Rural Development:  Migration, Dependency and Inequality in The South  Pacific. Occasional Paper No.22, The Australian  National University. Canberra.

Curson,P. 1983. “Remmitances and Migration-The Commerce of Movement”. Population Demography. Vol. 3, April; 77-95

Effendi,TN.  1993. Sumberdaya Manusia, Peluang  Kerja  dan Kemiskinan. Tiara Wacaaa. Yogyakarta

Hugo,GJ.  1978. Population Mobility in West  Java.  Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Lee,E.S. 1992. Teori Migrasi. Pusat Penelitian  Kependudukan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Lucas, REB dkk. 1985. “Motivation to Remit: Evidence  from Botswana.” Journal of Political Economy, 93 (5);901-918

Mabogunje,A.L.  1970.  “System  approach to  a  theory  of rural-urban   migration”.   Geographical Analysis. Vol.2; 1-8.

Mantra,I.B.  1994.  “Mobilitas  Sirkuler  dan  Pembangunan Daerah Asal”. Warta Demografi. Vol.3; 33-40

Rempel,H  dan Lobdell. 1978. “The Role  of  Urban-to-Rural Remmitances in Rural Development”.Journal of Development Studies. Vol.14; 324-341

Wiyono,NH. 1994. “Mobilitas Tenaga Kerja dan Globalisasi”. Warta Demografi. Vol.3; 8-13

Wood,CH.  1982.  “Equilibrium  and   Historical-Structural Perspectives  Migration”.  International   Migration Review Vol.2; 298-319