Iklan

Analisis Transfer Pendapatan (Remitan) Migran dari Pulau Jawa di Propinsi Jambi

Oleh : Junaidi, Hardiani, Erfit

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam teori ekonomi neoklasik, mobilitas penduduk di- pandang sebagai mobilitas geografis tenaga kerja, yang me- rupakan respon terhadap ketidakseimbangan distribusi ke- ruangan lahan, tenaga kerja, kapital dan sumberdaya alam. Ketidakseimbangan lokasi geografis faktor produksi tersebut pada gilirannya mempengaruhi arah dan volume migrasi.

Tenaga kerja akan pindah dari tempat dengan kapital langka dan tenaga kerja banyak (karenanya upah rendah) ke tempat dengan kapital banyak dan tenaga kerja langka (karenanya upah tinggi). Oleh karenanya Spengler dan Myers (1977) dalam Wood (1982) mengemukakan migrasi dapat dipandang sebagai suatu proses yang membantu pemerataan pem-bangunan yang bekerja dengan cara memperbaiki ketidakseimbangan hasil faktor produksi antar daerah.

Migrasi yang terjadi di negara-negara sedang berkembang dipandang memiliki efek yang sama. Namun, terdapat fenomena khusus dari migrasi di negara-negara ini, yang diperkirakan lebih mempercepat pemerataan pembangunan. Fenomena tersebut berbentuk transfer pendapatan ke daerah asal (baik berupa uang ataupun barang), yang dalam teori migrasi dikenal dengan istilah remitan (remittance). Menurut Connel (1980), di negara-negara sedang berkembang terdapat hubungan yang sangat erat antara migran dengan daerah asalnya, dan hal tersebutlah yang memunculkan fenomena remitan.

Salah satu daerah tujuan perpindahan penduduk di Indonesia adalah Propinsi Jambi. Selama tahun 1990-1995, jumlah migran (selain migran melalui transmigrasi) di Propinsi Jambi mencapai 81.884 jiwa. Migran ini berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Namun dirinci lebih jauh, ternyata sebagian besar (49.130 jiwa atau 60,00 persen) berasal dari Pulau Jawa (BPS,1995).

Dibandingkan dengan migran dari daerah/suku lain di Indonesia, migran dari pulau/suku Jawa mempunyai ikatan yang lebih erat dengan daerah asalnya (Mulder,1978 dalam Mantra,1994). Sebagai konsekwensinya, ini diduga menyebabkan intensitas remitan mereka juga relatif lebih tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, maka menarik untuk melakukan penelitian mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan transfer pendapatan ke daerah asal (remitan) migran dari Pulau Jawa di Propinsi Jambi.

1.2. Perumusan Masalah

Remitan pada dasarnya memiliki dua sisi yang berlawanan arah. Di satu sisi, besarnya remitan yang dikirimkan ke daerah asal dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga migran di daerah asal khususnya, dan percepatan pembangunan daerah asal pada umumnya. Di sisi lain, besarnya remitan yang dikirim ke daerah asal, secara umum diketahui merupakan wujud dari “pengorbanan” yang dilakukan migran dengan cara meminimalkan pengeluaran/konsumsi (baik makanan, pakaian dan perumahan) di daerah tujuan. Konsekuensi dari meminimalkan pengeluaran ini, akan menyebabkan turunnya kualitas hidup dan lingkungan, seperti munculnya “pemukiman kumuh” di daerah tujuan.

Selain itu, dampak remitan juga tergantung pada tujuan utama pengiriman remitan. Remitan hanya akan berdampak positif pada pembangunan daerah asal jika ditujukan untuk kegiatan- kegiatan yang bersifat produktif, dan sebaliknya jika remitan lebih ditujukan untuk kegiatan-kegiatan yang kurang produktif, maka dampak remitan di daerah asal tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.

Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini akan mncoba membahas mengenai aspek-aspek remitan migran dari Pulau Jawa yang ada di Propinsi Jambi. Secara spesifik pertanyaan- pertanyaan yang ingin didapatkan penjelasannya dalam penelitian ini adalah : 1). Berapakah besarnya dan proporsi penghasilan migran asal Pulau Jawa yang berada di Propinsi Jambi, yang dikirimkan sebagai remitan ? 2). Apakah tujuan utama remitan yang dikirimkan oleh migran ? 3). Faktor-faktor apakah yang menentukan besarnya remitan yang dikirimkan oleh migran ?

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Remitan, Pembangunan Daerah Asal dan Pola Konsumsi Migran di Daerah Tujuan

Remitan dalam konteks migrasi di negara-negara sedang berkembang merupakan bentuk upaya migran dalam menjaga kelangsungan ikatan sosial ekonomi dengan daerah asal, meskipun secara geografis mereka terpisah jauh. Selain itu, migran mengirim remitan karena secara moral maupun sosial mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan (Curson,1983). Kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang migran, sudah ditanamkan sejak masih kanak-kanak. Masyarakat akan menghargai migran yang secara rutin mengirim remitan ke daerah asal, dan sebaliknya akan merendahkan migran yang tidak bisa memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, remitan dari migran dipandang sebagai suatu instrumen dalam memperbaiki keseimbangan pembayaran, dan merangsang tabungan dan investasi di daerah asal. Oleh karenanya dapat dikemukakan bahwa remitan menjadi komponen penting dalam mengkaitkan mobilitas pekerja dengan proses pembangunan di daerah asal.

Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan di daerah Jatinom Jawa Tengah (Effendi, 1993). Sejak pertengahan tahun 1980an, seiring dengan meningkatnya mobilitas pekerja, terjadi perubahan pola makanan keluarga migran di daerah asal menuju pada pola makanan dengan gizi sehat. Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari peningkatan daya beli keluarga migran di daerah asal, sebagai akibat adanya remitan.

Peningkatan daya beli tidak hanya berpengaruh pada pola makanan, namun juga berpengaruh pada kemampuan membeli barang- barang konsumsi rumah tangga lainnya, seperti pakaian, sepatu, alat-alat dapur, radio, televisi dan sepeda motor. Permintaan akan barang-barang tersebut telah memunculkan peluang berusaha di sektor perdagangan, dan pada tahap selanjutnya berefek ganda pada peluang berusaha di sektor lainnya.

Namun di sisi lain, remitan ternyata tidak hanya mempengaruhi pola konsumsi keluarga migran di daerah asal. Dalam kerangka pemupukan remitan, migran berusaha melakukan berbagai kompromi untuk mengalokasikan sumberdaya yang dimilikinya, dan mengadopsi pola konsumsi tersendiri di daerah tujuan.

Para migran akan melakukan “pengorbanan” dalam hal makanan, pakaian, dan perumahan supaya bisa menabung dan akhirnya bisa mengirim remitan ke daerah asal. Secara sederhana para migran akan meminimalkan pengeluaran untuk memaksimalkan pendapatan. Migran yang berpendapatan rendah dan tenaga kerja tidak terampil, akan mencari rumah yang paling murah dan biasanya merupakan pemukiman miskin di pusat-pusat kota.

Bijlmer (1986) mengemukakan bahwa untuk memperbesar remitan, ada kecenderungan migran mengadopsi sistem pondok, yakni tinggal secara bersama-sama dalam satu rumah sewa atau bedeng di daerah tujuan. Sistem pondok memungkinkan para migran untuk menekan biaya hidup, terutama biaya makan dan penginapan selama bekerja di kota.

Hal yang sama juga ditemukan oleh Mantra (1994) dalam penelitiannya di berbagai daerah di Indonesia. Buruh-buruh bangunan yang berasal dari Jawa Timur yang bekerja di proyek pariwisata Nusa Dua Bali, tinggal di bedeng-bedeng yang kumuh untuk mengurangi pengeluaran akomodasi. di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim ditemukan pada tukang becak di Yogyakarta yang berasal dari Klaten. Pada waktu malam hari tidur di becaknya untuk menghindari pengeluaran menyewa pondokan.

2.2. Faktor Penentu Remitan

Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa besarnya remitan yang dikirimkan migran ke daerah asal relatif bervariasi. Penelitian yang dilakukan Rose dkk (1969) dalam Curson (1983) terhadap migran di Birmingham menemukan bahwa remitan migran India sebesar 6,3 persen dari penghasilannya sedangkan migran Pakistan mencapai 12,1 persen. Bahkan dalam penelitian yang dilakukan Jellinek (1978) dalam Effendi (1993) menemukan bahwa remitan yang dikirimkan para migran penjual es krim di Jakarta mencapai 50 persen dari penghasilan yang diperolehnya.

Besar kecilnya remitan ditentukan oleh berbagai karakteristik migrasi maupun migran itu sendiri. Karakteristik tersebut mencakup sifat mobilitas/migrasi, lamanya di daerah tujuan, tingkat pendidikan migran, penghasilan migran serta sifat hubungan migran dengan keluarga yang ditinggalkan di daerah asal.

Berkaitan dengan sifat mobilitas/migrasi dari pekerja, terdapat kecenderungan pada mobilitas pekerja yang bersifat permanen, remitan lebih kecil dibandingkan dengan yang bersifat sementara (sirkuler) (Connel,1980). Hugo (1978) dalam penelitian di 14 desa di Jawa Barat menemukan bahwa remitan yang dikirimkan oleh migran sirkuler merupakan 47,7 persen dari pendapatan rumah tangga di daerah asal, sedangkan pada migran permanen hanya 8,00 persen.

Sejalan dengan hal tersebut, besarnya remitan juga dipengaruhi oleh lamanya migran menetap (bermigrasi) di daerah tujuan. Lucas dkk (1985) mengemukakan bahwa semakin lama migran menetap di daerah tujuan maka akan semakin kecil remitan yang dikirimkan ke daerah asal.

Adanya arah pengaruh yang negatif ini selain disebabkan oleh semakin berkurangnya beban tanggungan migran di daerah asal (misalnya anak-anak migran di daerah asal sudah mampu bekerja sendiri), juga disebabkan oleh semakin berkurangnya ikatan sosial dengan masyarakat di daerah asal. Migran yang telah menetap lama umumnya mulai mampu menjalin hubungan kekerabatan baru dengan masyarakat/ lingkungan di daerah tujuannya.

Tingkat pendidikan migran lebih cenderung memiliki pengaruh yang positif terhadap remitan. Rempel dan Lobdell (1978) mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan migran, maka akan semakin besar remitan yang dikirimkan ke daerah asal. Hal ini pada dasarnya berkaitan dengan fungsi remitan sebagai pembayaran kembali (repayment) investasi pendidikan yang telah ditanamkan keluarga kepada individu migran. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan migran menunjukkan besar kecilnya investasi pendidikan yang ditanamkan keluarga, dan pada tahap selanjutnya berdampak pada besar kecilnya “repayment” yang diwujudkan dalam remitan.

Pengaruh positif juga ditemukan antara penghasilan migran dan remitan (Wiyono,1994). Remitan pada dasarnya adalah bagian dari penghasilan migran yang disisihkan untuk dikirimkan ke daerah asal. Dengan demikian, secara logis dapat dikemukakan semakin besar penghasilan migran maka akan semakin besar remitan yang dikirimkan ke daerah asal.

Besarnya remitan juga tergantung pada hubungan migran dengan keluarga penerima remitan di daerah asal. Keluarga di daerah asal dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu keluarga inti (batih) yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak, serta keluarga di luar keluarga inti. Dalam konteks ini, Mantra (1994) mengemukakan bahwa remitan akan lebih besar jika keluarga penerima remitan di daerah asal adalah keluarga inti. Sebaliknya, remitan akan lebih kecil jika keluarga penerima remitan di daerah asal bukan keluarga inti.

2.3. Tujuan Utama Remitan

    Tujuan pengiriman remitan akan menentukan dampak remitan terhadap pembangunan daerah asal. Berbagai pemikiran dan hasil penelitian telah menemukan keberagaman tujuan remitan ini, namun demikian dapat dikelompokkan atas tujuan-tujuan sebagai berikut:

a. Kebutuhan hidup sehari-hari keluarga

    Sejumlah besar remitan yang dikirim oleh migran berfungsi untuk menyokong kerabat/keluarga migran yang ada di daerah asal. Migran mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengirimkan uang/barang untuk menyokong biaya hidup sehari- hari dari kerabat dan keluarganya, terutama untuk anak-anak dan orang tua. Hal ini ditemukan Caldwell (1969) dalam Mantra (1994) pada penelitian di Ghana, Afrika. Di daerah ini, 73 persen dari total remitan yang dikirimkan oleh migran ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari keluarga di daerah asal.

b. Peringatan hari-hari besar yang berhubungan dengan siklus hidup manusia

    Di samping mempunyai tanggung jawab terhadap kebutuhan hidup sehari-hari keluarga dan kerabatnya, seorang migran juga berusaha untuk dapat pulang ke daerah asal pada saat diadakan peringatan hari-hari besar yang berhubungan dengan siklus hidup manusia, misalnya kelahiran, perkawinan, dan kematian. Menurut Curson (1983) pada saat itulah, jumlah remitan yang dikirim atau ditinggalkan lebih besar daripada hari-hari biasa.

c. Investasi

    Bentuk investasi adalah perbaikan dan pembangunan perumahan, membeli tanah, mendirikan industri kecil, dan lain-lainnya. Kegiatan ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sebagai sarana sosial dan budaya dalam menjaga kelangsungan hidup di daerah asal, tetapi juga bersifat psikologis, karena erat hubungannya dengan prestise seseorang.

Effendi (1993) dalam penelitiannya di tiga desa Jatinom, Klaten menemukan bahwa remitan telah digunakan untuk modal usaha pada usaha-usaha skala kecil seperti pertanian jeruk, peternakan ayam, perdangan dan bengkel sepeda.

d. Jaminan hari tua

    Migran mempunyai keinginan, jika mereka mempunyai cukup uang atau sudah pensiun, mereka akan kembali ke daerah asal. Hal ini erat kaitannya dengan fungsi investasi, mereka akan membangun rumah atau membeli tanah di daerah asal sebagai simbol kesejahteraan, prestisius, dan kesuksesan di daerah rantau. Lee (1992) mengemukakan bahwa berbagai pengalaman baru yang diperoleh di tempat tujuan, apakah itu keterampilan khusus atau kekayaan, sering dapat menyebabkan orang kembali ke tempat asal dengan posisi yang lebih menguntungkan Selain itu, tidak semua yang bermigrasi bermaksud menetap selama- lamanya di tempat tujuan.

III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengetahui besar dan proporsi penghasilan migran asal Pulau Jawa di Propinsi Jambi, yang dikirimkan sebagai remitan, 2). Menganalisis tujuan utama remitan yang dikirimkan oleh migran, 3). Menganalisis faktor- faktor yang menentukan besarnya remitan yang dikirimkan oleh migran

3.2. Manfaat Penelitian

    Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan buah pikiran bagi pemerintah dalam mengarahkan migrasi khususnya yang terkait remitan, agar tercapainya keseimbangan pembangunan baik di daerah asal dan daerah tujuan, serta meningkatnya kesejahteraan migran dan keluarganya.

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam mengkaji kaitan antara pembangunan dengan mobilitas atau migrasi pekerja.

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Populasi dan Sampel

    Populasi dalam penelitian ini adalah migran dari Pulau Jawa yang berada di Propinsi Jambi. Jumlah populasi pada tahun 1995 adalah sebanyak 49.130 jiwa (data tahun-tahun sesudahnya tidak tersedia, meskipun demikian diduga jumlah migran ini mengalami peningkatan setiap tahunnya).

Secara geografis, migran tersebar pada semua Kabupaten/ Kota di Propinsi Jambi dan menyebar pada berbagai jenis pekerjaan. Oleh karenanya, dalam mengarahkan penelitian, penentuan sampelnya dilakukan melalui tiga tahap sebagai berikut:

1. Tahap pertama adalah pemilihan salah satu Kabupaten/Kota sebagai lokasi penelitian. Pemilihan lokasi dilakukan seca- ra purposive (secara disengaja). Dari sepuluh Kabupaten/ Kota di Propinsi Jambi, ditetapkan Kota Jambi sebagai daerah sampel penelitian. Dasar pertimbangan pemilihan, karena Kota Jambi sebagai ibu kota Propinsi Jambi sekaligus merupakan pusat perekonomian dan perdagangan sehingga pem- bangunan yang lebih pesat dilakukan di daerah ini. Oleh ka- renanya juga memiliki migran asal Pulau Jawa yang lebih ba- nyak dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya di Propinsi Jambi.

2. Tahap kedua adalah penentuan sampel berdasarkan jenis pekerjaan migran. Dari survai pendahuluan, ditemukan bahwa pekerjaan sebagai pedagang bakso umumnya didominasi oleh migran dari Pulau Jawa. Oleh karenanya, secara purposive ditetapkan sampel penelitian adalah migran dari Pulau Jawa yang bekerja sebagai pedagang bakso.

3. Tahap ketiga adalah penentuan sampel yang dijadikan responden penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode “snowballing-multiple entry”. Metode ini digunakan mengingat tidak tersedianya data alamat pedagang bakso. Pada setiap kecamatan yang ada di Kota Jambi (delapan kecamatan) ditentukan masing-masing satu orang “responden pertama” pedagang bakso. Dari responden pertama selanjutnya ditentukan responden yang lain dengan cara menanyakan kepada responden pertama tersebut pedagang bakso lainnya yang dikenal.

Jumlah sampel yang diambil sebanyak 80 orang. Jumlah ini didasarkan pada rancangan bahwa secara rata-rata masing- masing responden pertama memberikan 9 orang pedagang bakso lainnya yang dikenal.

4.2. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan

    Penelitian menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui wawancara pada responden pedagang bakso dengan berpedoman pada kuesioner yang telah disusun sebelumnya. Disamping itu dilakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas kehidupan pedagang bakso dalam rangka mempertajam analisis.

4.3. Alat Analisis

Analisis Tujuan 1

Untuk menganalisis besar dan proporsi penghasilan migran yang dikirimkan sebagai remitan, digunakan alat analisis/pengukuran-pengukuran statistik deskriptif serta bantuan tabel frekuensi tunggal dan tabel frekuensi silang. Dalam konteks ini, juga akan dianalisis saluran institusi yang digunakan dalam pengiriman remitan tersebut.

Analisis Tujuan 2

Untuk menganalisis tujuan penggunaan remitan, juga digunakan alat analisis/pengukuran-pengukuran statistik deskriptif serta bantuan tabel frekuensi tunggal dan tabel frekuensi silang. Dalam konteks ini juga akan dianalisis pihak keluarga penerima remitan, berdasarkan tujuan remitan tersebut.

Analisis Tujuan 3

Untuk menganalisis faktor-faktor yang menentukan besarnya remitan yang dikirimkan oleh migran digunakan alat analisis regresi berganda. Persamaan regresi yang diajukan adalah sebagai berikut :

RM = ßo + ß1SM + ß2LT + ß3PD + ß4PM + ß5SK + e

dimana :

RM = Besarnya remitan

SM = Sifat mobilitas/migrasi dari migran, merupakan

variabel dummy

1 = migran sementara/non-permanen

0 = migran permanen

LT = Lamanya migran (dalam bulan) di daerah tujuan

(Kotamadia Jambi)

PD = Pendidikan

PM = Penghasilan migran

SK = hubungan migran dengan keluarga di daerah asal,

merupakan variabel dummy

1 = keluarga inti

0 = bukan keluarga inti

Dalam penaksiran koefisien regresi digunakan prosedur ordinary least square (OLS). Selanjutnya, untuk menentukan tingkat keberartiannya, variabel-variabel yang berpengaruh terhadap besarnya remitan, diuji dengan menggunakan kriteria uji t-statistik.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Migran dan Migrasi

Secara keseluruhan, umur migran berkisar antara 20 sampai 62 tahun dengan rata-rata umur 33,7 tahun. Selanjutnya dari distribusi umur migran memperlihatkan hampir separuhnya (45,00 persen) berumur antara 30-39 tahun, dengan proporsi terendah berumur 40 tahun atau lebih.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa migran umumnya adalah mereka yang berada pada puncak usia kerja. Sesuai dengan hasil analisis berbagai data sekunder tentang ketenagakerjaan secara nyata memperlihatkan penduduk pada kelompok umur 30-39 tahun memiliki TPAK yang mendekati angka 100.

Sesuai dengan rata-rata umur migran responden, sebagian besar (76 orang atau 95,00 persen) dari responden adalah mereka yang berstatus kawin. Hanya 1 orang (1,25 persen) dari migran yang berstatus belum kawin. Selain itu terdapat 3 orang (3,75 persen) yang berstatus cerai mati.

Dari sisi pendidikan dapat dikemukakan relatif rendahnya pendidikan formal migran. Hanya 16,25 persen migran yang berpendidikan SLTP ke atas, sedangkan sebagian besar lainnya 83,75 persen berpendidikan tamat SD atau tidak pernah sekolah/tidak tamat SD. Rendahnya pendidikan formal responden merupakan konsekwensi logis dari pilihan responden penelitian ini yang bekerja sebagai pedagang bakso.

Selanjutnya jika dilihat dari propinsi asalnya, semua migran yang menjadi responden penelitian ini berasal dari Propinsi Jawa Tengah. Fenomena ini pada dasarnya merupakan suatu fenomena yang dikenal dengan istilah “pekerjaan menurut etnis”. Pada berbagai daerah lain di Indonesia, juga ditemukan adanya dominasi migran dari Jawa Tengah yang memiliki mata pencaharian sebagai pedagang bakso.

Meskipun demikian daerah asal migran ini masih dapat dibedakan menurut kabupatennya. Terdapat empat kabupaten asal responden yaitu Sukoharjo, Karang Anyar, Wonogiri dan Sragen. Proporsi terbesar dari migran berasal dari Kabupaten Wonogiri dengan proporsi terendah berasal dari Sragen.

Selanjutnya berkaitan dengan karakteristik migrasinya dapat dikemukakan bahwa tahun migrasi responden relatif lama, yaitu rata-rata 13,9 tahun menetap di Kota Jambi. Dikaitkan dengan rata-rata umur responden, terlihat bahwa secara rata- rata responden telah melakukan perpindahan ke Kota Jambi berkisar pada umur 19 dan 20 tahun (tabel 2).

Berkaitan dengan status migrasi responden dapat dikemukakan, meskipun tahun migrasinya relatif telah lama, namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa proporsi migran permanen dan non-permanen hampir sama besar, yaitu 53,75 persen untuk migran permanen dan 46,25 persen untuk migran non-permanen.

Ditelusuri lebih jauh, ditemukan fakta bahwa dari 37 responden yang ingin kembali ke daerah asal, sebagian besar diantaranya (32 responden atau 86,49 persen) menyatakan ingin kembali setelah tidak mampu lagi bekerja. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa migran non-permanen ini sebagai migran kehidupan kerja (mereka yang ingin kembali ke daeah asal setelah tidap mampu lagi bekerja).

5.2. Pendapatan dan Remitan

    Secara rata-rata pendapatan responden sebesar Rp 7,056 juta pertahun. Pendapatan ini memiliki variasi yang relatif tinggi antar responden, dimana terdapat responden yang memiliki pendapatan Rp 5 juta atau kurang, tetapi juga terdapat responden dengan pendapatan di atas Rp 12,5 juta pertahunnya.

    Selanjutnya sepertiga (33,8 persen) dari responden memiliki pendapatan sebesar Rp 5 juta atau kurang pertahunnya, diikuti dengan proporsi responden yang memiliki pendapatan di atas Rp 5juta sampai dengan Rp 7,5 juta. Selanjutnya, dengan proporsi terkecil (11,3 persen) adalah responden dengan pendapatan di atas Rp 12,5 juta.

Pendapatan yang diterima migran telah dialokasikan pada berbagai penggunaan, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Kota Jambi (daerah migrasi), sebagai tabungan (simpanan) maupun dialokasikan untuk remitan. Khusus untuk remitan dapat dikemukakan bahwa selama setahun terakhir, secara rata-rata remitan yang dikirimkan migran ke daerah asalnya mencapai 1,366 juta perorangny. Jumlah ini cukup besar mengingat rata-rata pendapatan responden yang hanya Rp 7,056 juta pertahun, yang berarti mencapai 19,37 persen dari penghasilannya.

    Jika diamati lebih jauh pada masing-masing kelompok pendapatan, terdapat suatu fenomena yang menarik. Besarnya remitan memiliki hubungan yang searah dengan besarnya pendapatan, di mana semakin tinggi pendapatan semakin besar nominal remitan yang dikirimkan migran ke daerah asalnya. Namun demikian, dari sisi proporsi remitan terhadap pendapatan migran terlihat bahwa relatif lebih besarnya proporsi pada kelompok pendapatan terendah dan pendapatan tertinggi, jika dibandingkan dengan tiga kelompok pendapatan diantaranya.

Fenomena ini pada dasarnya dapat dijelaskan melalui kerangka tujuan remitan itu sendiri. Migran pada kelompok pendapatan rendah umumnya adalah migran dengan tahun migrasi yang relatif belum terlalu lama. Dengan pengalaman usaha yang masih rendah, yang menyebabkan pendapatan usaha mereka juga masih rendah, sebagian besar remitan masih meninggalkan anak atau istrinya di daerah asal. Oleh karenanya, migran pada kelompok ini secara rutin mengirimkan sebagian besar pendapatan kepada keluarganya di daerah asal dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan.

Sebaliknya pada migran kelompok pendapatan tinggi, meskipun keluarga intinya telah berada di daerah migrasi (Kota Jambi), tetapi dengan kelebihan pendapatan dan adanya niat untuk kembali ke daerah asal, sebagian besar diantaranya mengirimkan remitan untuk kepentingan investasi terutama membangun rumah dan pembelian lahan tani di daerah asalnya. Remitan yang dikirimkan untuk tujuan investasi ini, meskipun tidak dilakukan secara rutin, tetapi dengan nilai nomimal yang relatif besar.

5.3. Tujuan Utama Remitan

Berbagai penelitian terdahulu yang menunjukkan kuatnya kaitan ekonomi migran asal Pulau Jawa dengan daerah asalnya, ternyata juga didukung oleh hasil penelitian ini. Hanya 14 orang (17,50 persen) dari responden yang sama sekali belum pernah mengirimkan remitan ke daerah asal dalam setahun terakhir. Sebagian besar lainnya (82,50 persen) pernah mengirimkan dengan berbagai kepentingan remitan tersebut.

Pengiriman remitan dilakukan migran melalui berbagai saluran remitan. Dari total responden, 47 orang (58,75 persen) menyatakan mengirimkan melalui jasa pos, 32 orang (40,00 persen) menitipkan dengan kenalan/keluarga yang pulang kampung, sedangkan sisanya sebanyak 11 orang (13,75 persen) menggunakan jasa perbankan dalam pengirimannya.

Remitan juga dapat dipandang dari jumlah uang yang ditinggalkan responden pada saat pulang kampung. Dari 80 responden, 64 orang (80,00 persen) diantaranya pernah pulang ke daerah asal pada tahun terakhir, dan seluruhnya menyatakan telah meninggalkan sejumlah uang tertentu sebagai bagian dari remitan.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, remitan yang dikirimkan migran memiliki berbagai tujuan penggunaan di daerah asalnya. Penelitian menemukan terdapat empat tujuan utama pemberian remitan, yaitu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga di daerah asal (baik yang dikirimkan secara rutin maupun tidak rutin), untuk kepentingan perayaan keluarga seperti pesta perkawinan, untuk investasi (dalam penelitian ini terutama untuk pembelian/pembangunan rumah serta pembelian lahan tani), serta untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti bantuan pembangunan tempat ibadah di daerah asal.

    Dari 80 responden yang diteliti, secara keseluruhan jumlah remitan dalam setahun terakhir adalah sebanyak Rp 109,375 juta. Dari jumlah tersebut terlihat jumlah remitan yang dikirimkan hampir tidak menunjukkan perbedaan yang berarti dengan jumlah yang ditinggalkan. Kenyataan ini juga memberikan arti walaupun responden tidak pernah mengirimkan remitannya ke daerah asal, tidak selalu berarti besarnya remitan yang diberikan (dengan cara memberikan pada saat pulang kampung) lebih kecil dari yang lainnya.

Berdasarkan tujuan remitan, dapat dikemukakan proporsi terbesar dari tujuan remitan adalah untuk investasi yang mencapai 74,66 persen. Pada urutan kedua adalah untuk kepentingan kebutuhan sehari-hari pada keluarga di daerah asal, dan proporsi terkecil adalah untuk kegiatan sosial.

Remitan yang ditujukan secara langsung untuk kepentingan keluarga (untuk kebutuhan sehari-hari dan perayaan keluarga), tidak hanya diberikan pada salah seorang keluarga saja. Berdasarkan hubungannya dengan responden, penerima remitan dapat terdiri dari isteri, anak, orang tua/mertua, adik/kakak, paman/kakek, maupun anggota keluarga lainnya.

Isteri adalah penerima utama untuk remitan kebutuhan sehari-hari yang diberikan secara rutin. Sebaliknya untuk tujuan yang sama tetapi tidak diberikan secara rutin, penerima dengan proporsi terbesar adalah pihak orang tua/mertua. Berkaitan dengan hal tersebut, orang tua/mertua juga merupakan pihak yang terutama mendapatkan bantuan remitan untuk kepentingan perayaan-perayaan keluarga.

5.4. Faktor Penentu Remitan

    Lima variabel diajukan untuk menganalisis faktor penentu besar kecilnya remitan (RM) yang diberikan oleh migran, yaitu sifat mobilitas atau status migran (SM), lamanya migran di Kota Jambi (LT), pendidikan (PD), pendapatan (PM) dan hubungan migran dengan keluarga di daerah asal (SK).

Berdasarkan kelima variabel tersebut diberikan persamaan regresi dan uji statistiknya sebagai berikut:

RM = 151,88 + 30,09SM – 0,31LT* – 0,58PD + 0,01PM** + 248,65SK**

SE (29,74) ( 0,16) ( 7,78) (0,00) (43,17)

t ( 1,01) (-2,01) (-0,74) (2,89) ( 5,76)

F = 20,35**

R² = 0,55

Keterangan : * signifikan pada level 95 %

** signifikan pada level 99 %

Berdasarkan uji parsial (uji t) masing-masing koefisien regresi dari lima variabel yang diajukan, tiga variabel yaitu lamanya bermigrasi, pendapatan dan hubungan migran dengan keluarga di daerah asal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besar kecilnya remitan yang dikirimkan. Dua variabel lainnya yaitu sifat mobilitas dan pendidikan tidak memiliki pengaruh yang berarti.

Lamanya bermigrasi memiliki pengaruh negatif terhadap remitan. Hal ini menunjukkan semakin lama tahun migrasi seorang migran, semakin kecil remitan yang diberikan ke daerah asal. Demikian juga sebaliknya.

Jika remitan dipandang sebagai bentuk upaya migran dalam menjaga kelangsungan ikatan sosial-ekonomi migran dengan daerah asalnya, maka hal tersebut mencerminkan bahwa semakin lama migran meninggalkan daerah asalnya, maka semakin berkurang keinginan migran dalam menjaga kelangsungan ikatan tersebut. Di sisi lain, adanya pengaruh negatif ini diduga karena mulai mapannya kehidupan migran di daerah migrasi, sehingga kebutuhan untuk menjaga ikatan sosial-ekonomi dengan daerah asal (dengan harapan jika kembali ke daerah asal dapat diterima oleh lingkungannya), juga semakin berkurang.

Pendapatan migran berpengaruh positif terhadap remitan yang dikirimkan. Di satu sisi, ini merupakan konsekwensi logis karena remitan merupakan bagian dari pendapatan migran yang disisihkan (meskipun dari proporsinya hubungan tersebut tidak terlihat nyata, disebabkan adanya perbedaan tujuan remitan pada masing-masing kelompok pendapatan). Meskipun demikian, di sisi lain temuan ini berimplikasi bahwa keberhasilan migran di daerah tujuan akan berdampak positif bagi pembangunan di daerah asal (melalui multiplier efect remitan tersebut).

Hubungan migran dengan keluarga di daerah asal, (sebagai variabel dummy dalam persamaan ini), memberikan koefisien positif yang signifikan. Hal ini berarti bahwa remitan dari migran yang meninggalkan keluarga inti (isteri atau anak) di daerah asal lebih besar dibandingkan dengan remitan migran yang tidak memiliki keluarga inti di daerah asal. Besarnya remitan tersebut disebabkan adanya tanggung jawab migran dalam membiayai kebutuhan hidup sehari-hari secara rutin untuk isteri atau anak yang ditinggalkannya.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Berdasarkan status migrasinya dapat dikemukakan bahwa hampir separuh (46,25 persen) dari migran asal Pulau Jawa di Jambi adalah migran permanen. Secara lebih jauh, untuk migran non-permanen ini, 86,49 persen diantaranya adalah migran kehidupan kerja, yang berniat untuk kembali ke daerah asal setelah tidak mampu lagi bekerja. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, strategi yang dilakukan migran kehidupan kerja ini terutama dengan mempersiapkan jaminan hari tua di daerah asal (persiapan rumah dan lahan tani), serta berusaha untuk menghemat pengeluaran hidup sehari-hari selama menjadi migran di Jambi.

2. Dari pendapatan migran, secara rata-rata 19,37 persen dialokasikan migran untuk remitan ke daerah asalnya. Persentase pendapatan yang dialokasikan untuk remitan ini relatif besar pada kelompok pendapatan terendah dan kelompok pendapatan tertinggi, dibandingkan kelompok pendapatan diantaranya.

3. Remitan yang dikirimkan maupun yang ditinggalkan pada saat pulang kampung memiliki berbagai tujuan penggunaan. Dari hasil penelitian, terdapat empat tujuan utama remitan yaitu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga di daerah asal, untuk perayaan keluarga, investasi dan untuk kegiatan sosial.

Secara proporsi, remitan untuk tujuan investasi menempati urutan pertama diikuti oleh remitan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk perayaan keluarga dan untuk kegiatan sosial.

Berdasarkan hubungannya dengan migran, penerima remitan terdiri dari isteri, anak, orang tua/mertua, kakak/ adik/kandung/ipar, paman maupun kakek.

4. Dari lima variabel yang diajukan terdapat tiga variabel yang signifikan mempengaruhi besar kecilnya remitan yaitu lamanya bermigrasi, pendapatan dan hubungan migran dengan keluarga di daerah asal. Dua variabel lainnya yaitu status mobilitas dan pendidikan tidak memiliki pengaruh yang berarti.

6.2. Saran-Saran

1. Fenomena lebih besarnya proporsi migran kehidupan kerja ini memberikan implikasi tersendiri terhadap distribusi penduduk. Arus migrasi keluar pada saat ini secara nyata memang mampu mengurangi tekanan penduduk di Pulau Jawa. Namun perlu dirumuskan kebijakan/program-program yang terutama untuk mengantisipasi arus migrasi kembali yang dapat meningkatkan kembali tekanan penduduk di Pulau Jawa.

2. Mengingat besarnya proporsi migran kehidupan kerja ini, maka perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut baik yang menyangkut fenomena-fenomena ekonomi,sosial dan budayanya.

DAFTAR PUSTAKA

Bijlmer,J. 1986. Employment and Accomodation in The  Ambuatory Street Economy: The Case of Surabaya  Indonesia. Institute of Cultural Anthropology/Sociolgy  of Development, Free University. Netherland BPS, 1995.  Penduduk Jambi: Hasil SUPAS 1995. Seri  S2.05.Jakarta

Connel,J. 1980. Remittances and Rural Development:  Migration, Dependency and Inequality in The South  Pacific. Occasional Paper No.22, The Australian  National University. Canberra.

Curson,P. 1983. “Remmitances and Migration-The Commerce of Movement”. Population Demography. Vol. 3, April; 77-95

Effendi,TN.  1993. Sumberdaya Manusia, Peluang  Kerja  dan Kemiskinan. Tiara Wacaaa. Yogyakarta

Hugo,GJ.  1978. Population Mobility in West  Java.  Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Lee,E.S. 1992. Teori Migrasi. Pusat Penelitian  Kependudukan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Lucas, REB dkk. 1985. “Motivation to Remit: Evidence  from Botswana.” Journal of Political Economy, 93 (5);901-918

Mabogunje,A.L.  1970.  “System  approach to  a  theory  of rural-urban   migration”.   Geographical Analysis. Vol.2; 1-8.

Mantra,I.B.  1994.  “Mobilitas  Sirkuler  dan  Pembangunan Daerah Asal”. Warta Demografi. Vol.3; 33-40

Rempel,H  dan Lobdell. 1978. “The Role  of  Urban-to-Rural Remmitances in Rural Development”.Journal of Development Studies. Vol.14; 324-341

Wiyono,NH. 1994. “Mobilitas Tenaga Kerja dan Globalisasi”. Warta Demografi. Vol.3; 8-13

Wood,CH.  1982.  “Equilibrium  and   Historical-Structural Perspectives  Migration”.  International   Migration Review Vol.2; 298-319

Iklan

Migrasi Etnis Batak ke Jambi

Ditulis Oleh : Junaidi, Hardiani

 

I. LATAR BELAKANG

Propinsi Jambi merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sejak lama telah terkenal sebagai daerah tujuan utama migran dari daerah lain. Berdasarkan data tahun 2000, jumlah migran masuk ke Propinsi Jambi selama lima tahun terakhir adalah sebanyak 16.356 orang, dengan jumlah migran keluar sebanyak 7.697 orang, atau terdapat selisih (migrasi neto) 8.839 orang. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Propinsi Jambi yang sebanyak 2.405.378 orang, didapatkan tingkat migrasi neto sebesar 3,6 perseribu penduduk. Tingkat migrasi neto ini berada pada urutan keempat tertinggi setelah Kalimantan Timur, Riau dan Bengkulu.

Tingginya migrasi neto tidak hanya disebabkan Jambi sebagai daerah penerima transmigran, tetapi juga banyaknya migrasi masuk non-transmigran ke Jambi, yang dapat dilihat dari keberagaman suku bangsa penduduk yang ada di Propinsi Jambi. Dari total penduduk Jambi pada tahun 2000, hanya 45,25 persen yang merupakan penduduk etnis asli Jambi (Melayu Jambi dan Kerinci). Sebagian besar lainnya merupakan etnis Jawa (27,64 persen) dan etnis Luar Jawa (27,11 persen).

Salah satu etnis luar Jawa yang melakukan migrasi swakarsa ke Jambi adalah etnis Batak. Etnis Batak yang berdiam di Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu etnis di Indonesia yang memiliki budaya merantau kuat. Dalam lima tahun terakhir (data tahun 2000) jumlah migran keluar ke berbagai daerah dari propinsi ini sebanyak 276.912 orang, hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan migran masuk ke daerah ini yang hanya 102.560 orang (atau terjadi migrasi neto negatif).

Migrasi etnis Batak khususnya ke daerah Jambi, sebagaimana karakteristik mobilitas penduduk secara umum, selain berdampak positif terutama dalam redistribusi penduduk, juga dapat berdampak negatif baik pada daerah asal maupun daerah tujuan. Meskipun demikian, mobilitas penduduk merupakan hak azasi setiap individu, dan ini sesuai dengan UU Hak Azasi Manusia No. 39 Tahun 1999 bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk secara bebas bergerak, berpindah dan bertempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya, tidak ada yang berhak melarang siapapun untuk berpindah. Bagian yang perlu menjadi perhatian penting adalah bagaimana masing-masing daerah menyusun kebijakan untuk mengurangi dampak negatif dari mobilitas penduduk ini.

1.2. Tujuan Penelitian

  1. Menganalisis karakteristik sosial-ekonomi-demografi migran etnis Batak serta factor pendorong dan penarik etnis Batak untuk untuk melakukan migrasi ke Jambi
  2. Menganalisis status dan pola mobilitas dari migran etnis Batak di Jambi serta kaitan sosial dan ekonomi terhadap daerah asalnya

1.3. Manfaat Penelitian

  1. Dari sisi praktis, diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan dalam mengarahkan mobilitas penduduk agar dapat memberikan dampak positif baik pada daerah asal maupun daerah tujuan
  2. Dari sisi akademis, bermanfaat sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Faktor-faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan untuk bermigrasi dan proses migrasi adalah faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, di daerah tujuan, faktor penghalang antara dan faktor-faktor pribadi. Model yang sering digunakan untuk menganalisis migrasi penduduk di suatu wilayah adalah model “dorong-tarik” (push-pull factors).

Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh PPK-UGM mengenai mobilitas sirkuler ke enam kota besar di Indonesia pada tahun 1985 didapatkan bahwa hampir 25 persen keluarga dari mana para migran berasal, tidak memiliki lahan pertanian, bahkan keluarga tanpa tanah dari migran sirkuler yang berada di Palembang mencapai 46,5 persen dan di Padang 40,75 persen.

Kecilnya kepemilikan lahan di daerah asal menyebabkan mereka melakukan migrasi ke daerah lain yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Jadi daerah tujuan mempunyai nilai kefaedahan yang lebih tinggi dibandingkan daerah asal.

Menurut Lee (1966), Todaro (1979) dan Titus (1982) bahwa motivasi utama seseorang untuk pindah adalah motif ekonomi, yakni karena adanya ketimpangan ekonomi antara berbagai daerah. Todaro menyebut motif utama tersebut sebagai pertimbangan ekonomi yang rasional, dimana mobilitas ke kota mempunyai dua harapan, yaitu untuk memperoleh pekerjaan dan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari yang diperoleh di desa.

Selain faktor ekonomi, arah pergerakan penduduk juga ditentukan faktor lain, seperti jarak, biaya dan informasi yang diperoleh. Kota atau daerah tujuan yang berjarak jauh dengan desa asal cenderung menghasilkan mobilitas permanen, yang berjarak sedang menghasilkan mobilitas sirkuler, dan yang berjarak dekat dilakukan secara ulang alik (commuting).

Selanjutnya menurut Lee (1966) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk migrasi berbeda-beda dan kompleks, antara lain: (1) faktor-faktor sosial, termasuk keinginan migran melepaskan diri dari batas-batas tradisional yang berupa struktur sosial desa yang menghambat; (2) faktor-faktor fisik, termasuk bencana iklim dan meteorologis seperti banjir, kekeringan, dan kelaparan yang memaksa orang-orang untuk mencari lingkungan hidup alternatif; (3) faktor-faktor demografis, termasuk penurunan angka kematian, dan dalam waktu bersamaan angka pertumbuhan penduduk desa yang tinggi yang mengarah pada naiknya kepadatan penduduk desa secara cepat; (4) faktor-faktor budaya, termasuk adanya hubungan keluarga luas di kota yang menyediakan jaminan finansial awal bagi migran baru, dan daya tarik seperti apa yang biasa disebut cahaya kota yang gemerlapan dan (5) faktor-faktor komunikasi, yang merupakan akibat peningkatan transportasi, sistem pendidikan yang berwawasan kota, dan pengaruh modernisasi media massa.

Penelitian tentang alasan utama melakukan migrasi pernah juga dilakukan oleh Mantra (1992) di tiga kota, yaitu kota Yogyakarta (431 miggran), Bandung (400 migran) dan kota Samarinda (401 migran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan ekonomi sangat dominan oleh mereka yang melakukan migrasi. Migrasi dengan alasan ekonomi di Yogyakarta sebesar 79,9 persen, Bandung 71,7 persen dan di Samarinda sebesar 66,1 persen.

Selanjutnya jika dilihat dari status dan pola mobilitasnya terdapat beberapa penggolongan migran. Status mobilitas menurut Standing (1991) dibedakan atas dua kategori yaitu migran sementara dan migran jangka panjang.

1. Migran sementara

Adalah mereka yang berpindah tempat kegiatannya tetapi tetap tempat tinggalnya yang ‘biasa’. Pengertian biasa dalam konsep ini adalah tempat tinggal yang menurut migran adalah tempat tinggalnya yang sebenarnya, yang tetap. Dalam kategori ini terdapat tiga sub kategori yaitu (a). Migran sirkuler : adalah suatu perpindahan yang dilakukan untuk jangka waktu pendek dengan tujuan kembali ke tempat tinggal biasa. Migran ini akan kembali bekerja di daerah asal, jika tidak terdapat lagi kemungkinan adanya pekerjaan musiman di daerah lain tersebut. (b). Migran tahap daur hidup (life cycle stage migrant) adalah mereka yang berpindah kegiatannya tetapi tetap tempat tinggalnya. Dalam sub-kategori ini lebih menekankan kepada adat/tradisi/kebiasaan di suatu daerah yang mengharuskan penduduknya untuk meninggalkan desanya dalam suatu tahap daur hidupnya. (c). Pelaju (Commuter), yaitu mereka yang bepergian untuk melakukan kegiatan khusus, biasanya kegiatan ekonomi, namun tempat tinggalnya tetap di daerah asal.

2. Migran jangka panjang

Adalah mereka yang ketika berpindah berubah tempat tinggalnya yang biasa dan tempat kegiatannya untuk jangka waktu lama. Dalam kategori ini terdapat dua sub kategori utama yaitu migran kehidupan kerja dan migran sepanjang hidup yaitu (a). Migran kehidupan kerja (working-life migrants), dimana mereka meninggalkan wilayah untuk menghabiskan kehidupan kerja, namun tetap mempunyai hubungan dengan kampungnya, misalnya sebidang tanah atau suatu bagian dalam suatu usaha pertanian, bisnis, sekedar jaringan keturunan atau teman. Migran ini bermaksud kembali, namun jelas telah beralih dari tempat tinggalnya yang ‘biasa’. (b). Migran sepanjang hidup, dimana mereka meninggalkan daerah asal dan memutuskan semua hubungan dengan daerah asalnya atau tidak berkeinginan kembali ke daerah asal.

Dalam konteks kaitan ekonomi migran ke daerah asal, Connel (1974), mengemukakan hubungan migran dengan daerah asal dinegara-negara berkembang dikenal sangat erat. Penelitian yang dilakukan oleh Mantra (1992) di Yogyakarta, Bandung dan Samarinda menemukan banyak migran yang mengirimkan uangnya ke desa (remiten). Persentase migran yang memberi remiten secara teratur kepada keluarga batih di Yogyakarta lebih besar dari pada di Bandung dan Samarinda. Kalau remiten dapat dipandang sebagai indikator keeratan hubungan antara migran dengan masyarakat, maka berarti migran di Yogyakarta mempunyai keeratan hubungan yang paling tinggi, kemudian diikuti Bandung dan terakhir Samarinda.

III. METODE PENELITIAN

Populasi dalam penelitian ini adalah migran etnis Batak di Propinsi Jambi. Penentuan sampel dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah pemilihan salah satu daerah kabupaten/kota sebagai lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk lebih mengarahkan penelitian, disebabkan luasnya wilayah Propinsi Jambi. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive (secara disengaja). Dari sepuluh kabupaten/kota di Propinsi Jambi, ditetapkan Kota Jambi sebagai daerah sampel penelitian. Dasar pertimbangan pemilihan ini karena Kota Jambi sebagai ibu kota Propinsi Jambi sekaligus merupakan pusat berbagai akitivas ekonomi,sosial dan budaya. Oleh karenanya juga akan memiliki migran etnis Batak yang lebih banyak dibandingkan daerah lainnya di Propinsi Jambi.

Tahap kedua adalah adalah penentuan sampel migran etnis Batak. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan metode “snowball sampling” dengan “multiple entry”. Ditetapkan “entry” sebanyak 5 orang responden, selanjutnya dari responden yang dijadikan entry ini ditentukan responden yang lain dengan cara menanyakan kepada responden tersebut migran etnis Batak lainnya yang dikenal. Jumlah sampel diambil sebanyak 50 orang

Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan berpedoman pada kuestioner terhadap migran etnis Batak yang terambil sebagai sampel. Data sekunder berupa data yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik serta data lain yang mendukung penelitian ini. Data ini dikumpulkan dengan cara mencatat data relevan yang ada pada masing-masing instansi tersebut. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis dengan alat analisis utama adalah tabel-tabel frekuensi.

IV. TEMUAN PENELITIAN

4.1. Karakteristik Migran Etnis Batak di Jambi

Dari hasil penelitian ditemukan rata-rata umur migran adalah 44,5 tahun. Sesuai dengan rata-rata umur migran, seluruh migran yang diteliti adalah mereka yang berstatus kawin dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 5,4 jiwa. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata anggota rumah tangga di Jambi yang sebanyak 4,01.

Dari sisi pendidikan dapat dikemukakan bahwa pendidikan pendidikan formal migran etnis Batak ini sudah relatif tinggi. Hanya 32,00 persen migran yang berpendidikan SLTP ke bawah, sedangkan sebagian besar lainnya 68,00 persen berpendidikan tamat SLTA dan akademi/perguruan tinggi.

Pekerjaan yang ditekuni migran etnis Batak di Jambi juga relatif beragam, dengan pekerjaan utama yang ditekuni adalah wiraswasta (40,00 persen). Selain itu juga terdapat migran dengan proporsi pekerjaan yang cukup besar yaitu sebagai karyawan swasta (22,00 persen) dan pegawai negeri sipil (18,00 persen).

4.2. Faktor Pendorong dan Penarik Migran Etnis Batak ke Jambi

Berdasarkan alasan melakukan migrasi dapat dikemukakan bahwa factor ekonomi dan factor sosial/kejiwaan memiliki peran yang hampir sama pentingnya bagi migran etnis Batak sebagai factor pendorong untuk melakukan perpindahan. Dari sisi factor ekonomi 56,00 persen menyatakan melakukan perpindahan karena tidak adanya peluang kerja dan berusaha di daerah asal. Sebaliknya dari sisi factor sosial/kejiwaan, 44,00 persen menyatakan melakukan perpindahan dengan alasan untuk mencari pengalaman, ikut keluarga dan lainnya.

Sebelum memutuskan pindah ke Jambi, sebagian besar (82,00 persen) migran sudah mendapatkan informasi tentang keadaan Jambi dan hanya 18,00 persen yang sama sekali belum mendapatkan informasi. Umumnya (50,00 persen) migran mendapatkan informasi tentang keberadaan Jambi sebagai daerah tujuan migran berasal dari keluarga dan sebagian lainnya (32, 00 persen) berasal dari kawan.

Kuatnya pengaruh keluarga dalam keputusan migran etnis Batak juga terlihat dari kenyataan bahwa sebagian besar migran (46,00 persen) menyatakan bahwa pihak yang pertama kali ditempati di Jambi adalah keluarga mereka sendiri. Namun demikian, dari hasil penelitian terdapat fakta yang juga cukup menarik. Hampir sepertiga (30,00 persen) menyatakan tidak memiliki pihak yang pasti untuk ditempati ketika pertama kali datang ke Jambi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa selain pengaruh keluarga, tingkat kemandirian yang cukup tinggi dari migran etnis Batak juga menjadi salah satu factor yang mendorong mereka untuk melakukan migrasi.

4.3. Status Mobilitas Migran Etnis Batak di Jambi

Dilihat dari riwayat migrasi dari migran etnis Batak di Jambi, dapat dikemukakan bahwa 40,00 persen (20 orang) dari migran pernah melakukan migrasi ke daerah lain sebelum ke Jambi. Sebaliknya 60,00 persen (30 orang) adalah migran yang langsung melakukan perpindahan dari daerah asal ke Jambi.

Selanjutnya, jika dilihat dari tahun migrasinya di Jambi, rata-rata migran telah menetap cukup lama di Jambi yaitu 19,3 tahun. Dikaitkan dengan rata-rata umur, terlihat bahwa secara rata-rata migran melakukan perpindahan ke Jambi berkisar pada umur 25- 26 tahun.

Relatif lamanya migran etnis Batak di Jambi menunjukkan bahwa status mobilitas migran etnis Batak di Jambi termasuk pada status migran jangka panjang (permanen). Selanjutnya, jika dilihat dari keinginan untuk kembali ke daerah asal, hanya 6,00 persen dari migran etnis Batak yang dapat dikelompokkan sebagai migran kehidupan kerja (working-life migrants), yaitu mereka yang memiliki keinginan kembali ke daerah asal setelah menghabiskan kehidupan kerja di daerah tujuan. Sedangkan, bagian terbesar (94,00 persen) dari migran etnis Batak adalah mereka yang termasuk dalam kelompok migran sepanjang hidup, yaitu migran yang tidak memiliki keinginan kembali ke daerah asal.

4.4. Keterkaitan Sosial dan Ekonomi Migran Etnis Batak ke Daerah Asal

Fakta relatif besarnya proporsi migran permanen etnis Batak selain menunjukkan potensi Jambi dalam memberikan peluang kesejahteraan migran yang lebih baik, juga disebabkan atau menunjukkan rendahnya keterikatan sosial dan emosional migran etnis Batak pada daerah asalnya. Hal ini terlihat dari frekuensi pulang kampung serta intensitas komunikasi migran dengan daerah asalnya.

Rata-rata kepulangan ke daerah asal migran etnis Batak selama 5 tahun terakhir hanya 2 kali. Artinya, secara rata-rata migran pulang ke daerah asal hanya sekali dalam dua tahun. Selain itu, terdapat 16,00 persen yang sama sekali belum pernah pulang ke daerah asal dalam 5 tahun terakhir.

Intensitas komunikasi migran etnis Batak juga relatif rendah. Berdasarkan kondisi di daerah asal dapat dikemukakan bahwa seluruh daerah sudah memiliki layanan pos, 74,00 persen memiliki layanan telepon tetap dan 44 persen memiliki layanan telepon seluler. Namun demikian, 84,00 persen menyatakan tidak pernah berkirim surat dalam tiga bulan terakhir. Dari total migran dengan daerah asal yang memiliki jaringan telepon tetap, 45,95 persen menyatakan tidak pernah berkomunikasi melalui telepon selama tiga bulan terakhir. Dari total migran dengan daerah asal yang memiliki jaringan telepon seluler, 59,09 persen menyatakan tidak pernah mengirimkan kabar melalui fasilitas SMS (short messages services) ke daerah asal selama tiga bulan terakhir.

Keterkaitan migran ke daerah asal juga dapat dilihat dari keterkaitan ekonomi. Dapat dikemukakan bahwa selama setahun terakhir, secara rata-rata remitan yang dikirimkan migran ke daerah asalnya mencapai Rp 41.667 perorangnya. Jumlah ini relatif kecil mengingat rata-rata pendapatan sebesar Rp. 1.212.500 perbulan atau Rp 14.550.000 pertahun, yang berarti hanya 0,29 persen dari penghasilannya.

Remitan yang dikirimkan migran memiliki berbagai tujuan penggunaan di daerah asalnya. Penelitian menemukan terdapat empat tujuan utama pemberian remitan, yaitu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga di daerah asal (baik yang dikirimkan secara rutin maupun tidak rutin), untuk kepentingan perayaan keluarga seperti pesta perkawinan, untuk investasi (dalam penelitian ini terutama untuk pembelian/pembangunan rumah serta pembelian lahan tani), serta untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti bantuan pembangunan tempat ibadah di daerah asal.

Remitan yang ditujukan secara langsung untuk kepentingan keluarga (untuk kebutuhan sehari-hari dan perayaan keluarga), tidak hanya diberikan pada salah seorang keluarga saja. Penerima remitan dapat terdiri dari isteri, anak, orang tua/mertua, adik/kakak, paman/kakek, maupun anggota keluarga lainnya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  1. Faktor ekonomi dan factor sosial/kejiwaan memiliki peran yang hampir berimbang dalam mendorong migran etnis Batak melakukan keputusan migrasi ke Jambi. Proporsi yang menyatakan alasan bermigrasi karena factor ekonomi sebesar 56,00 persen sedangkan alasan sosial/kejiwaan sebesar 44,00 persen.

    2. Sebagian besar (94,00 persen) migran asal Pulau Jawa di Jambi adalah migran permanen (jangka panjang) dalam sub-kategori migran sepanjang hidup, sedangkan 6,00 persen lainnya merupakan migran permanen dalam sub-kategori migran kehidupan kerja. Relatif besarnya proporsi migran sepanjang hidup terutama disebabkan karakteristik migran etnis Batak yang secara umum memiliki keterkaitan yang rendah dengan daerah asal, baik secara emosional, sosial dan ekonomi.

    3. Rendahnya keterkaitan ekonomi ke daerah asal, terlihat dari alokasi remitan yang hanya 0,29 persen dari total pendapatannya. Rendahnya keterkaitan sosial/kejiwaan ke daerah asal terlihat dari intensitas komunikasi dan frekuensi pulang ke daerah asalnya.

5.2. Saran-Saran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa migrasi ternyata mampu meningkatkan pendapatan migran, dan di sisi lain daerah tujuan juga diuntungkan karena migran masuk dapat menjadi modal sumberdaya manusia penggerak pembangunan di daerah. Meskipun demikian, di era otonomi daerah yang sering menimbulkan ego kedaerahan, perlu dirumuskan kebijakan yang mengantisipasi dampak negatif dari ego kedaerahan yang dapat memicu konflik antar suku/ras di daerah tujuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

BPS, 1994. Buku Saku Statistik Jambi.

BPS, 1994, Tren Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi, Jakarta, Bastela Indah Prinindo.

Connell, J, et al. 1975. Migration from rural areas: the evidence from village studies. Brighton: Institute of Development Studies, University of Sussex.

Lee. E.S., 1992. Teori Migrasi, Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada

Lee, Everett. S. 1966. “A Theory of Migration”, Demography, 3: 47-57.

Mantra I.B., 1992. Mobilitas Penduduk Sirkuler Dari Desa ke Kota di Indonesia, Yogyakarta, Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Titus, Milan J. 1982, Migrasi Antar Daerah di Indonesia, Yogyakarta, Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan, UGM (Seri terjemahan no.12).

Todaro, M.P, 1979. Economic for a developing world introduction to a principles, problem, and policies. Hongkong, Longman.

Mobilitas Penduduk dan Remitan

1. Pengantar

Dalam teori ekonomi neoklasik, mobilitas penduduk di- pandang sebagai mobilitas geografis tenaga kerja, yang me- rupakan respon terhadap ketidakseimbangan distribusi ke- ruangan lahan, tenaga kerja, kapital dan sumberdaya alam. Ketidakseimbangan lokasi geografis faktor produksi tersebut pada gilirannya mempengaruhi arah dan volume migrasi.

Baca lebih lanjut