Transformasi Data Ordinal ke Interval dengan Excel

Menurut tingkatannya, data secara berurut dari skala terendah ke tertinggi adalah data nominal, ordinal, interval dan ratio. Dalam penggunaan alat analisis, umumnya ditentukan skala minimal dari data yang dibutuhkan. Namun seringkali data yang kita miliki tidak memenuhi persyaratan tersebut. Misalnya, kita punya data ordinal, sementara persyaratan alat analisis membutuhkan data dengan skala minimal adalah data interval. Dalam kondisi tersebut, kita perlu mentransformasikan data dari skala ordinal ke interval.

Sayangnya belum ada software statistik yang memiliki fasilitas transformasi data tersebut (setahu saya). Karenanya, para peneliti biasanya menghitung secara manual atau membuat sendiri program makronya.

Program makro tersebut diantaranya pernah dibuat oleh Muchlis (2001) dengan menggunakan bantuan program makro Minitab. Kemudian disempurnakan oleh Budi Waryanto (2006).

Program makro tersebut memang sudah relatif bagus, tetapi sayangnya harus dijalankan di Program Minitab, yang jarang dimiliki peneliti.

Oleh karenanya saya mencoba mengutak-ngatik dengan menggunakan Program Microsoft Excel yang dimiliki oleh hampir semua pengguna komputer.

Metode transformasi yang digunakan yakni method of successive interval, Hays (1976). Metode tersebut digunakan untuk melakukan transformasi data ordinal menjadi data interval. Pada umumnya jawaban responden yang diukur dengan menggunakan skala likert (Lykert scale) diadakan scoring yakni pemberian nilai numerikal 1, 2, 3, 4 dan 5, setiap skor yang diperoleh akan memiliki tingkat pengukuran ordinal.

Untuk latihan mari kita misalkan ada 20 responden (data), dengan skore nilai antara 1 sampai 5. (catatan: minimal untuk setiap skore ada 1 nilai). Maka tahapan-tahapan yang kita lakukan sebagai berikut:

1. Ketik data asli di kolom A mulai dari baris 17 (atau sel A17) sampai baris 36 (sel A36).

2. Ketik angka 1, 2, 3, 4, 5 secara berurut ke bawah mulai dari sel A4 sampai A8.

3. Tulis rumus =COUNTIF(A$17:A36,A4) di sel B4. Selanjutnya kopi sampai ke sel B8.

4. Di sel B9 tulis rumus =SUM(B4:B8 )

5. Di sel C4 tulis rumus =A4*B4. Copy sampai sel C8

6. Di sel D4 tulis rumus =B4/B$9. Copy sampai sel D8

7. Di sel E4 tulis rumus =D4+E3. Copy sampai sel E8

8. Di sel F4 tulis rumus =NORMSINV(E4). Copy sampai F7.

9. Di sel G4 tulis rumus =(1/((2*PI())^0.5))*(EXP(-((F4^2)/2))). Copy sampai G7

(Catatan: ada koreksi yang berharga dari notwelldefined, rumus ini di Excel tersedia dalam bentuk fungsi =NORMDIST(F4,0,1,0). Terima kasih)

10. Di sel H4 tulis rumus =(G3-G4)/(E4-E3). Copy sampai H8

11. Di sel I4 tulis rumus =H4+ABS(MIN(H$4:H$8))+1. Copy sampai I8.

12. Di sel B17 tulis rumus =IF(A17=1,I$4,IF(A17=2,I$5,IF(A17=3,I$6,IF(A17=4,I$7,I$8)))). Copy sampai B36.

13. Nah hasil transformasi data anda sudah terlihat di sel B17 sampai B36 tersebut.

Bagi yang sudah terbiasa dengan Excel tentu bisa melihat bahwa kalau datanya lebih atau kurang dari 20, rumus A36 di tahap 3 bisa diganti dengan alamat sel dari data terakhir.

Anda juga dapat mendownload file Excel yang sudah dibuat mengikuti rumus-rumus tersebut. Klik disini. Rumus-rumus tersebut juga sudah dikembangkan dalam kasus kategori data tidak terisi. Download disini

(Catatan: Kedua file tersebut disimpan di Ziddu. Bagi yang merasa terganggu dgn iklan disana, abaikan saja. iklan tersebut Ini dilakukan karena WordPress tidak bisa menyimpan file Excel).

Ok. Selamat mencoba. Bagi yang ingin melihat lebih jauh penjelasan rumus-rumus tersebut, silakan klik disini

37 Tanggapan

  1. alhamdulillah
    terima kasih atas ilmunya Pak
    ini dia yang saya cari2

    Jawab:
    Alhamdulillah. Semoga ini bermanfaat

  2. saya mau tanya donk,
    saya sdg menysun skripsi n di dlamnya saya menggunkaan instrument penelitian berupa kuesioner.
    skripsi saya bersifat penelitian kualitatif, tentang pemeriksaan operasional.
    Dalam kuesioner saya menggunakan skala likert tapi dilengkapi dengan data interval, sperti pilhan jwaban 1 = tidak ada(0%), 2 = ada dan sangat tidak baik (0-33,33%), 3 ada dan kurang baik (33,33-66,66%), 4 = ada dan baik (66,66-99,99%), 5 = ada dan sangat baik (100%).
    yang saya mau tanyakan, apakah skala tersebut bisa dikategorikan dalam skala likert??
    dan apakah skala sperti itu diijinkan dlaam kuesioner??
    terima kasih banyak yah…

    Jawab:
    Skala Likert merupakan skala pengukuran sikap yang dikembangkan oleh Rensis Likert tahun 1932 untuk mengukur intensitas sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu objek tertentu. Dalam skala Likert, untuk mengukur variabel, terlebih dahulu dikembangkan indikator-indikator variabel. Indikator-indikator tersebut, kemudian dijadikan dasar menyusun item-item instrumen dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.
    Berdasarkan hal tersebut, maka sebenarnya penelitian yang Deva lakukan bukanlah menggunakan skala Likert. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, kalau Deva bisa mendapatkan data dalam bentuk persentase tersebut, maka pertanyaan kuesionernya sebaiknya dalam bentuk pertanyaan terbuka saja, sehingga kita bisa mendapatkan data dengan skala interval. Jadi jangan dikelompokkan seperti itu (yang akhirnya menjadi data ordinal). Kenapa ? Karena semakin tinggi skala pengukuran, semakin baik ketepatan pengukuran terhadap suatu objek. Jadi, jangan mubazirkan data, dengan merubah dari interval ke ordinal.

  3. Kuesioner saya kan bersifat kualitatif, n awalnya saya memamg ingin pakai skala likert dengan data ordinal saja, tapi untuk meneguhkan dan memberi jarak antara pilihan yg satau dgn yg lainnya saya tambahkan dengan interval persentase sperti itu. tapi memang saya jg rgu degn hal itu, saya tdk punya dasarnya.
    nah, kalau saya cukup pakai skala likert dgn data ordinal saja (1-5)sudah cukup baik dan akurat ga yah??
    terima kasih banyak

    Jawab:
    Menurut saya, cukup dengan skala likert saja. Nah, untuk mengetahui kebaikan dan keakuratan data, sebaiknya lakukan pengujian-pengujian statistik seperti uji validitas dan reabilitas.

  4. Terimakasih banyak atas petunjuknya pak, tadinya saya juga bingung bagaimana caranya mengerjakan MSI di excel.

    Oh iya, bisakah bapak menuliskan arti rumus yang ditulis di setiap langkah di atas?
    misalnya apa arti NORMSINV di step 8, kenapa ada PI dan EXP di step 9, arti dari ABS di step 10.
    jadi yang baca bisa mengerti lebih banyak lagi soal MSI di Excel.
    Terimakasih sekali lagi :)

    Jawab:
    Terimakasih kembali. Penjelasannya silakan lihat pada tulisan Penjelasan Tahap Transformasi Data Ordinal ke Interval dengan Excel. (Junaidi)

  5. pak blh ga membuat tahap-tahap mengubah data ordinal ke interval dengan menggunakan excel?pak saya sudah mencoba menggunakan add-ins dimana data tersebut klo diuji.thax
    Jawab:
    Boleh saja. Coba lihat dua tulisan saya di blog ini mengenai transformasi data ordinal ke interval dengan Excel. Add-ins yang mana ? Saya kurang mengerti pertanyaannya. (Junaidi)

  6. Bagi yang sudah sempat mengaplikasikan rumus-rumus dalam tulisan ini, mohon maaf. Ada sedikit salah pengetikan yang mungkin membuat bingung. Di tulisan di atas sudah saya perbaiki yaitu:
    - Pada tahap 1, pengetikan data dimulai pada sel A17 bukan A16 seperti yang tertulis sebelumnya.
    - Pada tahap 8, copy rumus seharusnya hanya sampai F7, bukan F8 seperti yang tertulis sebelumnya
    - Pada tahap 9, copy rumus seharusnya hanya sampai G7, bukan G8 seperti yang tertulis sebelumnya

  7. Wah terimakasih banyak atas koreksinya pak…

    tadinya saya bingung kenapa perhitungannya selalu error kalau datanya diatas 30.

  8. Salam kenal pak Junaidi.Pak saya sangat berterima kasih,karena metode transformasi data ord ke intrvl dalam blog ini sangat bermanfaat sekali bagi saya.

    Hanya ada beberapa pertanyaan mengenai MSI di excel:
    Bila hanya 2 skala yang terpilih oleh responden dari 5 skala pilihan apakah masih dapat dihitung?,karena menurut tulisan bpk minimal harus ada satu nilai pada skala setiap skala tersebut,benar ga pak?.Sedangkan hsl dr kuesioner yg sy sebarkan ada beberapa responden yg memilih d skala 3 dan 4, sedangkan 1,2,nya kosong.menurut bpk bgmn?

    terima kasih…

    Jawab:
    Maaf, agak lambat merespons. Kebetulan ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Mengenai ada kategori yang kosong, dalam tulisan saya sebelumnya memang tidak bisa dihitung. Tapi dalam tulisan berikut ini, saya sudah mengembangkan rumusnya sehingga bisa dihitung secara otomatis. Silakan lihat tulisan mengenai “Transformasi Data Ordinal ke Interval dengan Excel (Kasus Kategori Tidak Terisi). Mudah-mudahan bisa membantu.

  9. Saya sangat tertarik dengan tulisan ini. Selama ini saya mengira kalau MSI itu adalah pengolahan dengan software statistik. Salut dech buat pak Jun.

    Terima kasih Bu, untuk salutnya. (Junaidi)

  10. Pa, terima kasih. saya sudah mencobanya. tulisannya mudah dimengerti. sekali lagi terima kasih banyak. tulisan Bapak memberi banyak manfaat untuk menyelesaikan skripsi saya.

    Jawab: Ya, sama-sama. Saya senang jika bermanfaat. (Junaidi)

  11. Pak, saya sedang mentransformasikan data ordinal ke interval. Di penelitian saya terdapat 3 variabel : X1, X2, dan Y.

    Apakah untuk melakukan transformasi ordinal-interval harus dilakukan penghitungan satu-satu pervariabel atau bisa langsung transformasi 3 variabel sekaligus??

    Karena kalo penghitungan ordinal-interval dilakukan terpisah pervariabel, berarti skala interval dari X1, X2, dan Y berbeda-beda dong pak?

    Terimakasih atas pencerahannya.

    Jawab: Ya, benar. Penskalaan dilakukan satu-satu pervariabel. Ya skala interval akan berbeda pada masing-masing variabel tergantung dari pencaran nilai variabel-variabel tersebut

  12. Terima kasih

  13. Baru bbrp bulan ini saya menyentuh statistik … tertarik dengan MSI untuk TA saya. Saya ada sedikit pertanyaan terkait MSI. Dalam proses input data hasil transformasi berbentuk pecahan (misal 79,55 atau 72,45) yang merupakan total skor yang didapat dari jawaban tiap2 responden, pertanyaannya : apakah data yang akan diinput (harus) dibulatkan dulu (misal 79,55 >> 80; 72,45 >> 72) atau dibiarkan tetap sebagai pecahan dan langsung dilanjutkan ke proses analisis selanjutnya? Mohon pencerahan.. Terima kasih…

    Saya kurang mengerti maksudnya. Apa yang dimaksud dengan total skor tersebut? Apakah maksudnya sekelompok pertanyaan yang diajukan kepada responden, hasilnya dijumlah. Atau, pertanyaan yang sama yang diajukan kepada beberapa responden, kemudian hasilnya dijumlah.
    Dalam MSI, input data kita adalah skor per pertanyaan per responden. Bukan total skor

  14. saya sedang mengerjakan peneltiaan melalui skala likert dengan rentang 3 skala (1 s.d. 3), berdasarkan buku yang saya baca, skala likert merupakan data ordinal. penelitian saya ingin mengetahui “hubungan budaya kerja dan motivasi kerja dengan peningkatan pelayanan” apakah saya perlu menaikkan tingkat pengukuran ordinal ke skala interval?

    Tergantung alat analisis yang digunakan. Kalau alat analisisnya mensyaratkan minimal harus data skala interval, ya, memang perlu ditransformasi ke skala interval. Kalau tidak, ya, tidak perlu. Tetapi, menurut saya, sebaiknya kalau data kita skala ordinal, pilih saja alat analisis yang sesuai dengan skala tersebut.

  15. pak, saya ingin menggunakan skala interval 1-10 untuk pengukuran sikap, adakah teorinya ??? dan apa nama skala itu??? soalnya,menurut teman saya (dalam skripsinya menggunakan skala interval 1-10) yang sedang nunggu wisuda, skala interval 1-10 itu merupakan pengembangan dari skala Likert, teman saya menyebut nama skalanya interscaling, apa benar ada??? terimakasih atas penjelasannya

    Maaf, saya belum pernah mendengar istilah interscaling. Skala likert yang diciptakan oleh Rensis Likert tahun 1930 an, aslinya memang 5 kategori, tetapi bisa saja dengan 10 kategori. Tetapi beberapa studi menemukan bahwa skala likert yang lebih dari tujuh kategori adalah terlalu banyak dan akan menyulitkan responden dalam menempatkan pilihannya.

  16. pak, saya ingin menggunakan skala likert dalam skripsi saya…
    dengan interval 1-5…….
    tapi saya tidak perna menggunakan skala likert…..
    saya inggin mengukur tingkat pengetahuan dan respon nelayan terhadap rehabilitasi hutan mangrove…..
    bagaimana ya menganalisis datanya…???
    mohon bantuan dong……..

    Kayaknya lebih sesuai jika anda menggunakan statistik non-parametrik untuk melihat keterkaitan variabel tersebut. Banyak cara pengukuran korelasi pada statistik non-parametrik yang bisa anda lihat dibuku-buku statistik non-parametrik

  17. Terima kasih artikelnya, pak.
    Saya mau tanya, saya lagi bikin skripsi tentang pemilihan kriteria seleksi karyawan. Nah saya menggunakan skala likert kaya gini (soalnya merupakan pendapat managernya)
    1=sangat tidak penting
    2=tidak penting
    3=berguna tetapi tidak terlalu penting
    4=penting
    5=sangat penting

    kemudian saya kan mau cari kriteria yang mau dipilih pake rataan (mean) buat hipotesisnya, tapi likert adalah skala ordinal kan? Bisa ga dipake rataannya.
    Saya liat skripsi punya senior, disana dia pake skala likert pas kuesioner tahap I buat cari peringkat kriteria kemudian pas mau di uji rataan, dia ambil lagi data pake kuesioner tahap II dengan skala
    0-29=sangat tidak penting
    30-39=tidak penting
    40-49=biasa-biasa saja
    50-69=penting
    70-100=sangat penting
    yang di atas ini berarti skala interval ya, pak? Apa begitu cara ubah skala likert (ordinal) ke skala interval? Dengan cari data lagi pake kuesioner tahap II. Saya bingung karena disitu ga ditulis berdasarkan buku apa.
    Terima kasih sebelumnya, Pak.

    Apakah skala ordinal bisa dirata-ratakan ? Ini sudah menjadi perdebatan klasik diantara akademisi kita. Perdebatan tersebut terutama terkait dengan apakah data ordinal dapat diperlakukan seperti data interval ?
    Ada yang menyatakan boleh, ada yang menyatakan tidak boleh. Ringkasan perdebatan tersebut, silakan klik tulisan ini Treating Ordinal Scales as Interval Scales: An Attempr To Resolve the Controversy
    Posisi saya, berada diantara dua pendapat tersebut. Kalau tidak sangat terpaksa sekali, mengapa kita harus memperlakukan skala ordinal menjadi skala interval. Toh banyak, alat analisis statistik yang tersedia dan sesuai untuk skala ordinal tersebut.
    Peralatan statistik yang umum dan sesuai dengan skala ordinal adalah peralatan statistik yang berbasiskan (berdasarkan) jumlah dan proporsi seperti modus, distribusi frekuensi, Chi Square dan beberapa peralatan statistik non-parametrik lainnya.
    Cara merubah dari skala ordinal ke interval seperti yang disebutkan diatas, saya juga belum ketemu referensinya. Yang baru saya tahu hanya dengan metode MSI ini (catatan: ini revisi jawaban saya sebelumnya)

  18. Assalamu’alaikum, Saya Dadang Zulfikar……Pak Jun saya sangat tertarik dengan tulisan bapak tentang transformasi data ordinal ke interval dengan Excel, saya sedang menyusun tesis tentang kepuasan nasabah..dgn variabel x1..x6, skala likert, menggunakan path analysis,jml responden 100, untuk mengukur tingkat kepuasan saya menggunakan kuesioner, masing masing responden mendapat 60 pernyataan dimana 30 buah pernyataan berupa harapan (expectation) atas pelayanan dan 30 buah pernyataan tentang tanggapan / yang dirasakan ( percieved). jadi datanya terdiri dari X1…X6 Expectasi(E) dan X1…X6 Percieved(P) serta variable Y (Kepuasan) yang di peroleh dari selisih antara variabel X Expectation dan variabel X Percieved) yang di tanyakan untuk variabel Y, apakah (E) di successive lalu (P) di successive terlebih dahulu kemudian di selisihkan dan hasilnya = Y, atau E – P = Y lalu hasilnya di transformasi ke data interval, atau bagaimanakah seharusnya mentransformasi ketiga data tersebut ? terima kasih..

    Kalau anda tanyakan pada beberapa orang lainnya, jawaban pertanyaan ini pasti akan sangat beragam, karena perbedaan pandangan mengenai memperlakukan data skala ordinal.
    Kalau pendapat saya, skala ordinal, sesuai dengan sifatnya tidak boleh dioperasikan secara matematik dalam bentuk penjumlahan,pengurangan, perkalian,pembagian. Karenanya, menurut saya, sebaiknya seluruh data ordinal tersebut succesive kan terlebih dahulu, baru dilakukan operasi-operasi pengerjaaan matematik lainnya (tambah,kurang,kali,bagi dan lainnya).

  19. Pak, apakah cara kerja MINITAB sama dengan cara kerja trnsformasi data dengan excel yg bapak jelaskan?

    Ya, sama

  20. Salam kenal, pak.
    Saya mau tanya, kita bisa ga menentukan bobot tiap kriteria dari hasil skala likert? Kalau bisa, dengan metode apa?
    Terima kasih sebelumnya.

    Penentuan bobot untuk skala likert biasanya ditetapkan oleh peneliti dalam definisi operasional variabelnya. Agar penelitiannya bisa diperbandingkan, maka penetapan bobot tersebut dengan mengacu pada penelitian-penelitian sebelumnya yang senada dengan penelitian yang dilakukannnya.

  21. Salam hormat dan salam kenal untuk Bapak Junaidi

    Saya sejak lama mencari program untuk menaikkan skala ordinal ke interval dan ternyata saya temukan di dalam artikel Bapak.
    Hampir sama dengan pertanyaan saudara Erlangga Putra yaitu bagaimana dengan jawaban responden yang tidak memilih skala 1 dan 2 sehingga menjadi kosong. Sedangkan dalam contoh kasus di artikel bapak menunjukkan skala 3 dan 4 yang kosong.
    Pertanyaannya adalah apakah rumus-rumus excel yang Bapak buat untuk skala 3 dan 4 yang tidak terkumpul datanya, apakah dapat digunakan juga pada skala 1 dan 2 yang tidak terisi.atau kosong ?
    Setelah saya mencoba dengan rumus-2 di excel dalam artikel Bapak dan saya mencoba juga dengan cara manual untuk menaikkan skala ordinal ke interval dengan skala 1 dan 2 tidak terisi hasilnya ada perbedaan.
    Perbedaannya hasilnya sebagai berikut :
    Cara Manual Contoh kasus di Artikel
    1 = 0 1 = 0
    2 = 0 2 = 0
    3 = 1 3 = 1
    4 = 2.0499 4 = 2.3679
    5 = 4.9896 5 = 3.6982

    Demikian, saya mohon dengan hormat komentar Bapak atau memberikan solusi untuk saya karena saya sangat membutuhkan rumus ini. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih

    Rumus tersebut bisa dicobakan untuk kasus 1 dan 2 yang kosong. Dari pengamatan sekilas terhadap hasil manualnya, saya sedikit ragu. Terutama karena jarak antara skala 4 dan 5 yang terlalu jauh (hampir 3 yaitu dari 2,0499 – 4,9896). Dari beberapa latihan yang pernah saya coba, biasanya jaraknya tidak sampai 2 dari satu skala ke skala berikutnya. Kalau bisa, coba berikan pada saya berapa frekuensi untuk masing-masing kategori, biar saya coba hitung ulang secara manual.

  22. Terima kasih responnya Pak Junaidi,

    Berikutnya saya berikan frekuensi dari hasil yang saya hitung yaitu :

    katagori frekuensi
    1 0
    2 0
    3 40
    4 61
    5 15
    sehingga total respondennya 116 .
    Demikian, saya sangat berterima kasih kepada Bapak dapat memberikan solusi yang lebih.

    Sengaja saya postingkan satu tulisan mengenai perhitungan manual untuk menjawab pertanyaan ini. Silakan klik disini

  23. pak, bagaimankah meng regresikan var dependent dengan skala 3 dan variabel independent dengan skala 5, untuk mengetahui uji t dan uji F nya.. apakah harus menggunakan software tertentu juga? ditambah lagi dengan variabel moderating dengan skala 2. Trimakasih sekali pak atas jawabannya, ini sangat berguna dalam tesis saya..

    Mungkin bisa lebih diperinci kerangka pemikiran hubungan antar variabelnya sehingga saya bisa memberikan saran yang lebih pas. Tapi dari karakteristik data dan variabelnya, secara umum mungkin lebih tepat jika menggunakan model SEM (Structural Equation Modelling). Softwarenya LISREL. Lihat beberapa tulisan saya di blog ini mengenai hal tersebut

    • terimakasih pak atas jawabannya..
      apakah bisa hanay dengan menggunkan software Excl dan SPSS saja?Kerangkanya seperti ini pak :
      X—->Y
      ^
      M
      Trimasih atas bantuannya..

      Sebenarnya bisa pakai Excel atau SPSS. Tapi prosedurnya agak berbelit-belit. Sebaiknya gunakan program LISREL saja. Lihat beberapa tulisan saya disini mengenai hal tersebut

  24. pak, saya mau tanya, kalau uji validitas dengan SPSS menggunakan analisis faktor, bisa ya? dengan KMO…
    syarat2 dikatakan valid itu apa ya pak?

    lalu, bila uji validitas dengan analisis bivariat (korelasi rank spearman), untuk tahu valid/tidaknya dengan membandingkan r tabel dan r hitung ya pak?cara menghitung r tabel bagaimana pak ?(data ordinal)..
    lalu syarat validnya bila r tabel > r hitung ya pak?

    terima kasih pak

  25. pak, saya mau nanya apa bedanya data dan skala?apa MSI (method of successive interval) itu mengubah skala dan data juga atau gimana?karena ada dosen saya berpendapat bahwa MSI itu hanya mengubah skala bukan data?

    MSI memang merubah skala pengukuran data dari ordinal ke interval. Apakah merubah data ? Kalau maksudnya merubah data yang besar jadi kecil atau sebaliknya, ya tidak. Tapi kalau merubah angkanya ya. Apa beda data dengan skala ? Yang kita maksud skala disini adalah skala pengukuran dari data. Jadi kalau data dilihat dari skala pengukurannya, maka dapat dibagi atas data nominal, ordinal, interval dan ratio.

  26. Wah program kecil yang sangat membantu pak.
    Maaf pak mohon bantuannya, ada beberapa hal yang membuat saya risau. Masalah kontroversi skor dari skala Likert apakah ordinal atau interval.
    Saya seorang mahasiswa psikologi yang sedang skripsi, instrumen penelitian yang saya buat berupa skala likert. Variabel X menggunakan skala likert dengan 5 bentuk responsi (sangat setuju, stuju, etc), sedangkan variabel Y menggunakan 11 responsi.
    Saya tidak melakukan pembobotan, saya berasumsi bahwa data yang saya peroleh adalah data interval, walaupun pada dasarnya skor yang diperoleh dari skala likert adalah ordinal, adapun alasan saya mengatakan data saya adalah interval antara lain:

    1)Rensis Likert pada akhirnya tidak melakukan pembobotan (MSI) terhadap skor yang diperoleh dari skala yang ia buat, alasannya setelah ia mengkorelasikan antara raw score dengan skor hasil pembobotan, menunjukkan korelasi yang sangat tinggi antara kedua skor tersebut (0.9). (Bahkan saya sendiri juga melakukannya pada saat uji coba instrumen, dan hasilnya juga sekitar 0.9)
    2)Guilford menyatakan pada dasarnya skor2 hasil pemeriksaan atau tes psikologi adalah ordinal. Namun ia menambahkan, data-data ordinal tersebut dapat dinyatakan sebagai interval apabila data tersebut terbukti berdistribusi normal.

    Setelah melalui tes normalitas, data penelitian saya berdistribusi normal. Dan dengan hasil ini saya berpendapat data saya adalah interval. Namun saya masih kurang yakin, saya minta pendapat bapak mengenai masalah ini, apakah pendapat saya salah? dan haruskah saya memakai uji nonparametrik? karena penelitian yang saya lakukan pada dasarnya ingin meramalkan sifat-sifat dari suatu populasi, sedangkan jika saya memakai uji nonpar, maka generalisasi yang saya tarik terbatas pada sampel penelitian.

    Memang sampai sekarang masih terjadi perdebatan mengenai hal tersebut (meskipun ada pakar statistik yang menyatakan bahwa di Amerika sana, perdebatan tersebut sudah selesai. Tapi saya belum ketemu sumbernya). Perdebatan memang berkisar pada apakah data ordinal bisa menyerupai karakteristik data interval, yang merupakan syarat untuk penggunaan peralatan dan uji-uji statistik tertentu.
    Menurut saya, kalau kita bisa meyakinkan bahwa data ordinal kita sudah mampu menyerupai karakteristik data interval (tentunya melalui pengujian-pengujian tertentu, misalnya seperti yang Mas lakukan), maka sah-sah saja memperlakukan data ordinal sebagai data interval. Tapi sekali lagi, tentunya kita harus yakin bahwa data ordinal yang kita punyai benar-benar memiliki karakteristik data interval. Kalau tidak, jangan dipaksakan, karena hal tersebut akan menyebabkan kesimpulan pengujian kita menjadi keliru.
    Posisi saya untuk perdebatan tersebut (mungkin keliru ya) adalah, memperlakukan data ordinal sebagai data interval sifatnya kasuistis tidak generalistis. Artinya tergantung dari karakteristik data yang kita miliki tersebut.
    Salam, semoga bisa membantu

  27. Pak, saya sedang akan menggunakan MSI untuk skripsi saya. Tapi skala yang saya gunakan adalah 1-7 semantic differential. Bagaimana saya bisa menggunakan excel untuk skala ini pak? Mohon bantuanny sekali. Terima kasih

  28. pak, saya mau tanya…apa cara perhitungan data ordinal dengan skala tinggi-sedang-rendah cukup dengan penjumlahan secara manual……

    Sebagaimana yang dikemukakan pada pembahasan diatas, data ordinal secara prinsip tidak bisa dijumlah, dikurangi, dibagi, maupun dikali. (Kecuali kita memiliki alasan yang kuat bahwa data ordinal yang kita miliki memiliki karakteristik yang setara dengan data interval atau rasio)

  29. assalamu’alaikum…
    salam sejahtera pak Junaidi.
    pak, terima kasih atas ilmunya….

    Ya, sama-sama

  30. Salam kenal pak Junaidi, saya senang membaca tulisan bapak….

    Salam kenal kembali Pak. Terimakasih sudah berkunjung. Terimakasih juga atas apresiasinya terhadap tulisan-tulisan di blog ini

  31. Assalamu’alaykum pak junaidi,
    saya sedang melakukan penelitian dengan menggunakan skala likert dan rencananya akan di olah menggunakan metode analisis faktor menggunakan SPSS, apakah data saya harus di transformasi dulu menjadi data interval sebelum dimasukkan ke SPSS ataukah sesuai data aslinya?
    mohon penjelasannya, terima kasih.

  32. Ass.Wr.Wb

    Salam kenal Pak. Saya Nurul mhsiswi Agribisnis UNEJ yg saat ini mengerjakan skripsi tentang Analisis Path dengan menggunakan 7 variabel bebas dan 2 variabel intervening. Data saya ordinal mau saya rubah ke interval dengan kuisioner menggunakan skala likert antara 1-3. Pada kuisioner, tiap variabel (misalnya variabel ketersediaan sarana produksi) memiliki 6 buah pertanyaan dengan skala likert. saya masih bingung Pak
    1. Bagaimana caranya merubah data ordinal saya ke interval jika skala yg saya gunakan 1-3 bukan 1-5 spt pd contoh Bpk?
    2. Dari hasil kuisioner, bagaimana cara menghitung atau merubah data saya menjadi interval pada masing-masing variabel bebas saya? Apakah dari ke-6 jawaban pada tiap-tiap variabel bebas itu saya intervalkan satu-satu atau dirata-rata dulu baru di intervalkan?

    Saya harap penjelasan lebih lanjut dari Bpk krn akan sangat membantu saya.

    Trimakasih. Wassalam

    1. Caranya sama saja. Hanya rumus Excelnya saja disesuaikan menjadi hanya untuk tiga kategori.
    2. Di intervalkan dulu, baru dirata-ratakan

  33. Ass…
    Rul datang Lagi ni Pak!!
    Skrng yang ingin saya tanyakan:
    1. Kenapa dalam aplikasi transformasi data dengan excel ini dimulai dari sel A17 untuk data ordinalnya?
    2. Dalam analisis Path terdapat Scater Plot, bagaimana cara mengartikannya?
    Terimakasih banyak Pak…………

    Jawab:
    1. Tidak ada aturannya, kenapa harus di sel A17. Itu hanya sekedar agar lebih leluasa saja membuat rumus-rumus di baris atasnya.
    2. Maaf, scatter plot yang mana ? Saya belum mengerti maksudnya

  34. Scatter plot adalah tampilan output dari analisis regresi linier/PATH dlm bentuk grafik. Sblum kita menganalisis, pada SPSS –> Analys –> regresi –> Linier –> Plots (Y=ZRESID, X=SRESID, lalu centang semua Standardized Residual Plots). Nanti dari itu akan ada grafik scatter plotnya. Maksudnya apa ya pak?
    Terimakasih

    Perintah tersebut akan menghasilkan grafik yang menggambarkan titik-titik residual regresi (studentized dan standarized). Penjelasannya agak sedikit panjang. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan membahasnya dalam postingan

  35. salam pak, saya mau tanya.
    cara menghitung r tabel secara manual itu gmn?
    soalnya dosen saya meminta saya untuk mencari r tabel dengan manualnya..
    terimakasih atas bantuannya…

    1. Tentukan terlebih dahulu nilai t tabel dengan taraf nyata tertentu (misal 1%, 5% dst) dan dengan derajat bebas (df) = N-2. Nilai t tabel ini bisa dilihat di lampiran buku statistik atau gunakan formula di Excel (lihat tulisan saya mengenai hal tersebut. Klik disini)
    2. Kemudian gunakan rumus berikut: r = t/((df + t^2)^0.5)

  36. saya hanya ingin berterima kasih banyak atas

Tinggalkan Balasan